TARUTUNG DALAM SEBUAH NOSTALGIA

TARUTUNG DALAM SEBUAH NOSTALGIA

TARUTUNG DALAM SEBUAH NOSTALGIA
TARUTUNG DALAM SEBUAH NOSTALGIA

Aku masih bisa mengingat jelas, ketika seorang anak remaja pergi begitu jauh meninggalkan rumahnya demi sebuah tujuan yang dia sebut cita-cita, duduk dengan keringat yang mengalir turun dari ubun-ubunnya . Kini dia berdiri menjadi dirinya sendiri sebagai seorang perantau di negeri asing yang selama ini memenuhi pikirannya. Wajahnya yang keras memandang tajam dalam barisan antrian para calon mahasiswa baru di sebuah unversitas negeri di kota Semarang. Menjadi orang asing di negeri yang asing membuatnya tidak begitu terbiasa dengan suasana di sekitarnya. Dia hanya duduk memegang berkas-berkas kelengkapan dan sambil menunggu namanya di panggil.

“ Agustin Lamasi Hasoloan Hutabarat?” seseorang memandangnya dengan tatapan heran sambil sesekali melirik curriculum vitae yang di pegangnya. “Wong ndi mas?” Tanyanya lagi.

“ Maaf mbak, ga ngerti bahasa Jawa.”

“ Oh maaf. Masnya orang mana?”

“ Saya orang Sumatera Utara mbak, tepatnya dari kabupaten Tapanuli Utara kecamatan Tarutung.” Dia menjawab dengan lengkap tentang asal-usulnya.

“ Tarutung?”

***

“TARUTUNG???”

Itulah ekspresi yang sering aku dapatkan ketika pertama kali menginjak pulau Jawa ini. Aku sedikit berbeda dengan orang-orang batak yang ada di sini, mereka lebih memilih menyebut mereka berasal dari Medan untuk menghindari keheranan dari orang-orang walaupun mereka aslinya dari Siborongborong, Balige, Sidempuan dan lain sebagainya. Tetapi aku tidak, aku selalu bangga menyebutkan, “Aku dari Tapanuli tepatnya Tarutung”. Walaupun dapat dipastikan ekspresi si penanya akan berubah. Dan tak jarang mereka mengatakan, “Memangnya di Tarutung ada penduduknya?”, atau, “Emang Tarutung ada dip eta ya?”.

Aku terbiasa dengan itu. Dan aku sangat bangga. Setiap saat aku dapat mengenang kota kelahiranku yang indah itu. Kota kecil sejuk di kaki bukit barisan yang membentang dari ujung utara pulau Sumatera sampai ujung selatan pulau Sumatera. Kota yang konon ada sejak tahun 1877, yang merupakan tempat pavorit para pedangan pada masa itu untuk melakukan transaksi perdagangan yang lebih dikenal masa itu dengan system barter.

Tak kan pernah habis waktu untuk mengenang kota Tarutung. Dan tak kan pernah bosan untuk terbang mengelanan mencoba mencari celah ruang untuk berimajinasi pergi ke sana. Segala yang indah telah ku lalui di sana. Tumbuh besar hingga seperti sekarang ini ku lalui di sana. Walaupun aku selalu membayangkan untuk menghabiskan hari tuaku suatu saat nanti di sebuah pedesaan di Inggris Utara, namun angan-angan itu tidak pernah mampu mengantikan kenangan nostalgia di Tarutung.

Tarutung mungkin tanah yang diberkati, walaupun tidak berlimpah susu dan madu seperti tanah Kanaan. Juga tidak begitu kaya dibanding dengan daerah lain di tanah air. Namun dari sana telah lahir orang-orang besar, baik para jenderal, public figure, cendikiawan, rohaniawan dan lain sebagainya. Semua berasal dari lembah luas di kaki bukit barisan ini. Dan kini saat aku telah berjalan begitu jauh meninggalkan rumah, berjalan begitu jauh tanah leluhurku, aku masih dapat mengenang nostalgia itu. Tarutung dan segala yang dapat aku bayangkan di dalamnya. Dan kupastikan itu akan tetap hidup dalam ingatanku. Bagiku Tarutung adalah awal dari langkahku dan akan berakhir di sana.

Sumber : https://indianapoliscoltsjerseyspop.com/

Rektor ITS dan Gus Ipul Mainkan Dolanan Tradisional

Rektor ITS dan Gus Ipul Mainkan Dolanan Tradisional

Rektor ITS dan Gus Ipul Mainkan Dolanan Tradisional
Rektor ITS dan Gus Ipul Mainkan Dolanan Tradisional

Wakil Gubernur Jatim, Saifulah Yusuf merayakan Sumpah Pemuda bersama

alumni ITS IKA PW Jatim dan sivitas akademi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Minggu (28/10/2017).

Mereka memainkan egrang dari bundaran ITS menuju ke lapangan dalam ITS.

Rektor ITS Prof Joni Hermana, mengungkapkan festival dolanan ini mengajak mahasiswa yang saat ini kaum milenial untuk kembali mengenang masa lalu.

Selain egrang juga ada permainan tradisional lain seperti gobak sodor dan

betengan.

“Kegiatan ini kami adakan bersama ikatan alumni dan semua mahasiswa serta pegawai. Jadi semua bisa ikut mengenang permainan zaman dulu,”ujarnya.

Dikatakannya, festival dolanan ini juga didaftarkan untuk memecahkan rekor perguruan tinggi penyelenggara permainan egrang batok kelapa terbanyak.

Targetnya ada 2.810 peserta dari alumni hingga mahasiswa yang

menggunakan egrang untuk memecahkan rekor MURI.

BACA JUGA – Hadir di ITS, BUMN Ajak Pemuda Indonesia Bangun Ekonomi Bersama

Kesempatan memakai egrang batok kali pertama dilakukan gus Ipul, sapaan akrab orang nomor 2 di Jatim ini.

Meskipun sempat ragu dan kesulitan di awal memakai, Gus Ipul akhirnya melangkah dengan egrang kedua yang dipilihnya.

“Kegiatan keluarga besar ITS ini patut diapresiasi, karena kegiatan ini pastinya sebagai pengingat dan upaya memelihara kebudayaan juga,”ungkapnya usai memakai egrang sejauh 10 meter dalam kegiatan yang dikemas dalam Festival Dolanan.

 

Baca Juga :

IKOMA Scholarship di UPT Bahasa dan Budaya ITS

IKOMA Scholarship di UPT Bahasa dan Budaya ITS

IKOMA Scholarship di UPT Bahasa dan Budaya ITS
IKOMA Scholarship di UPT Bahasa dan Budaya ITS

UPT Bahasa dan Budaya ITS selalu membuat terobosan menarik bagi

mahasiswa dan civitas akademika ITS. Kali ini, terobosannya adalah Ikoma Scholarship. Ratna Rintaningrum, PhD, Kepala UPT Bahasa dan Budaya ITS, menjelaskan bahwa terkait dengan program IKOMA SCHOLARSHIP merupakan kerjasama IKOMA dan UPT Bahasa ITS.

“Program ini dibiayai oleh IKOMA. Program tersebut kami namakan Program Mencerdaskan Anak Bangsa karena memberikan peluang bagi mahasiswa untuk belajar bahasa Inggris secara cuma-cuma di UPT Bahasa dan Budaya ITS”, ungkap Ratna Alumnus S3 Australia ini.

Mengapa tidak berbayar? Menurut Ratna, agar mahasiswa ITS memiliki kesempatan yang sama seperti mahasiswa lain yang mampu membayar sendiri. “Memang mahasiswa ITS karakternya bermacam-macam. Kelompok yang belum mencapai syarat lulus tersebut tetap harus diperhatikan dan ditolong”, ujarnya.

Program ini berangkat dari keprihatinan dan kepedulian dari semua pihak.

“Saya sendiri sebagai Ka UPT Bahasa dan Budaya, tidak rela kalau hanya untuk kelulusan harus mencari jalan dari universitas lain. Tidak boleh lagi terjadi seperti itu. Kita harus mampu menyelesaikan masalah kita sendiri”, imbuhnya.

Ratna mengharapkan bahwa untuk mahasiswa ITS terkait sertifikat EFL-

nya adalah keluaran UPT Bahasa ITS. “UPT Bahasa siap membantu. Diantaranya melalui program ini sebagai salah satu upaya untuk membantu meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mahasiswa ITS yang score EFL nya belum mencapai syarat kelulusan”, kata Ratna bersemangat.

 

Sumber :

https://obatsipilisampuh.id/

Kado Dies Natalis Ke-57, ITS Digandeng Kerja Sama Oleh Kemenhub dan KPK

Kado Dies Natalis Ke-57, ITS Digandeng Kerja Sama Oleh Kemenhub dan KPK

Kado Dies Natalis Ke-57, ITS Digandeng Kerja Sama Oleh Kemenhub dan KPK
Kado Dies Natalis Ke-57, ITS Digandeng Kerja Sama Oleh Kemenhub dan KPK

Bertepatan dengan Dies Natalis ke-57, Institut Teknologi Sepuluh

Nopember (ITS) Surabaya kembali mendapat kado spesial. ITS dipercaya untuk diajak kerja sama dengan dua institusi negara sekaligus, yakni Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Rektorat ITS, Jumat (10/11).

Penandatanganan nota kesepahaman ini dilakukan langsung oleh Menteri Perhubungan RI Budi Karya Samsudi dan Ketua KPK RI Ir Agus Rahardjo MSM dengan Rektor ITS Prof Ir Joni Hermana MScES PhD.

Mengawali sambutannya, Menhub mengatakan bahwa penandatanganan nota kesepahaman ini bertujuan untuk mendukung program tol laut yang dicanangkan pemerintah Indonesia saat ini. Adanya tol laut saat ini sudah mampu menekan angka disparitas sebesar 20 persen. Namun bagi Budi, program tol laut ini masih membutuhkan peningkatan, khususnya dalam bidang kapal pengangkut barang yang digunakan.

“Untuk peningkatan tersebut, Kementerian Perhubungan membutuhkan

partner dalam bidang pengetahuan, dan ITS dirasa mampu memberikan masukan atau riset untuk meningkatkan program tol laut beserta kapal untuk tol laut,” jelas alumni Universitas Gadjah Mada tersebut.

Menurut Budi, masih ada beberapa hal yang belum sempurna dalam pengembangan tol laut seperti muatan kapal untuk tol laut dirasa masih hanya mampu menampung sedikit beban, kapal yang digunakan masih merupakan kapal buatan luar negeri dan juga masih terdapat masalah tracking atau pelacakan.

“Pelacakan ini dibutuhkan untuk mengetahui praktik monopoli dalam

program tol laut,” ujar pria berumur 60 tahun tersebut. Dalam hal inilah, lanjut Budi, Kementerian Perhubungan menginginkan sumbangsih riset dan inovasi dari ITS dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut.

 

Sumber :

https://lakonlokal.id/

BNI Bantu ITS Salurkan Kredit Pendidikan

BNI Bantu ITS Salurkan Kredit Pendidikan

BNI Bantu ITS Salurkan Kredit Pendidikan
BNI Bantu ITS Salurkan Kredit Pendidikan

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI menjalin kerjasama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk mengembangkan fitur terbarunya, yaitu BNI Fleksi Pendidikan. Kerjasama tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Gedung Rektorat ITS, Kamis (29/3) sore.

Penandatanganan dilakukan oleh Rektor ITS, Prof Ir Joni Hermana MScES PhD, dan General Manager Divisi Penjualan Konsumer BNI, Hermita, dengan disaksikan oleh Direktur Hubungan Kelembagaan dan Transaksional BNI, Adi Sulistyowati. Penandatanganan MoU ini juga dihadiri sejumlah pimpinan ITS dan BNI Kantor Wilayah Surabaya.

Dalam sambutannya, Adi Sulistyowati mengatakan, BNI dengan ITS sudah menjalin kerjasama sejak 1985, namun baru sebatas untuk pembayaran biaya kuliah (SPP), biaya ujian masuk PTN, dan beberapa pembayaran lainnya. “Karena itu, BNI ingin mengembangkan kerjasama ini, salah satunya dengan memberikan kredit Fleksi untuk para dosen dan mahasiswa ITS,” ujar Adi.

Menurut Adi, langkah tersebut selaras dengan arahan Presiden Republik

Indonesia Joko Widodo yang menghendaki perbankan Indonesia menyediakan produk pembiayaan khusus untuk mendukung dunia pendidikan di tanah air. “Produk pinjaman khusus pendidikan ini selain dapat membantu dosen dan mahasiswa dalam menyelesaikan masalah keuangannya, sekaligus mendorong perluasan basis debitur Produk BNI Fleksi hingga ke kalangan kampus,” jelas Adi lebih lanjut.

BACA JUGA – Pecahkan Masalah Hemat Biaya Listrik, Jangkung Raih Doktor di ITS

Pada kesempatan yang sama, Corporate Secretary BNI Kiryanto mengungkapkan, BNI Fleksi Pendidikan yang diluncurkan kali ini merupakan Fasilitas Kredit Tanpa Agunan (KTA) untuk kegiatan pendidikan bagi dosen dan juga mahasiswa, yang meliputi biaya Pendidikan Sarjana (S1) hingga mahasiswa tingkat doktoral (S3) di lembaga pendidikan dalam negeri dan luar negeri yang terakreditasi baik nasional maupun internasional. “Peluncuran produk ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan mahasiswa dan dosen di Indonesia,” ujarnya.

Lebih lanjut Kiryanto memaparkan, pola pemberian BNI Fleksi Pendidikan

bagi mahasiswa dibagi menjadi dua. Pertama, BNI Fleksi Mahasiswa Berprestasi yang merupakan mahasiswa aktif S1/ S2/ S3 penerima beasiswa. Kedua, BNI Fleksi Mahasiswa di mana penerima BNI Fleksi merupakan mahasiswa aktif S2 dan S3 yang telah bekerja dan menyalurkan gajinya melalui BNI.

Penerima pola pembiayaan ini dapat memperoleh skim grace period (skema yang memungkinkan debitur hanya membayar bunga dalam kurun waktu tertentu) atau skim reguler. “BNI juga menyalurkan pembiayaan bagi dosen ITS yang melakukan penelitian selama jangka waktu tertentu, dengan cicilan ringan yang berlaku untuk segala jenis penelitian,” imbuh Kiryanto.

Sementara itu, Joni Hermana mengatakan, upaya BNI membantu ITS

dengan kredit Fleksi Pendidikan ini akan memudahkan peneliti di lingkungan ITS untuk mendapatkan dana penelitiannya. Sebenarnya ITS mendapatkan dana penelitian dari pemerintah sebesar Rp 60 miliar – 70 miliar per tahunnya, namun itu terkendala dengan proses alokasi dana tersebut.

 

Baca Juga :

Siklame, Solusi Mudah Bayar Pajak Reklame

Siklame, Solusi Mudah Bayar Pajak Reklame

Siklame, Solusi Mudah Bayar Pajak Reklame
Siklame, Solusi Mudah Bayar Pajak Reklame

Peningkatan jumlah reklame, khususnya di wilayah Surabaya, kerap menimbulkan permasalahan baru. Pasalnya, hal ini seringkali tidak diimbangi dengan pajak pemasukan reklame ke pemerintah. Beranjak dari masalah tersebut, tiga mahasiswa dari Departemen Teknik Komputer ITS menciptakan aplikasi Siklame sebagai solusinya.

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Yusuf Umar Hanafi, Dito Prabowo dan Wahyu Santoso. Ketua tim aplikasi siklame, Yusuf Umar Hanafi menjelaskan bahwa penyebab dari masalah pajak reklame ini lantaran kurangnya kesadaran dari pihak pembayar pajak. “Untuk itu perlu adanya petugas yang dikerahkan guna mendata apakah pajak reklame sudah dibayarkan atau mengecek jangka waktu berlakunya pajak tersebut,”ujarnya.

Seperti diketahui, pendataan pajak reklame oleh petugas saat ini masih

berbasis paper sehingga membutuhkan proses yang cukup lama. “Bayangkan jika di setiap daerah terdapat lebih dari 10 reklame, petugas akan kesulitan untuk mendatanya sekaligus memakan banyak waktu,” tutur mahasiswa yang biasa disapa Yusuf ini.

BACA JUGA – Tingkatkan Standar Mutu, BAN-PT Lakukan Perubahan Akreditasi

Dengan diciptakannya aplikasi Siklame ini, lanjutnya, tentu akan

memberikan kemudahan bagi petugas dalam melakukan pendataan reklame. Prosesnya dimulai dari pihak reklame mengajukan izin ke dinas yang terkait. Kemudian pihak dinas memasukkan data reklame yang diizinkan untuk dipasang. Petugas hanya perlu memverifikasi data sesuai dengan input data dari dinas.

”Kemudahannya di sini dari segi verifikasinya, petugas cukup memberikan

tanda centang di aplikasi Siklame. Selanjutnya petugas men-survey apakah lokasi reklame yang dipasang sudah sesuai dengan data yang telah di-input sebelumnya di dinas,” papar Yusuf.

 

Sumber :

https://jicsweb1.dom.edu/ICS/Resources/Offices_-_Departments/Welcome_and_Information_Desk/ELS_-_English_Language_School/Forums.jnz?portlet=Forums&screen=PostView&screenType=change&id=bd529565-edba-472b-a678-1e14e030858b

Mahasiswa Arsitektur Perlu Kenal UU Arsitek

Mahasiswa Arsitektur Perlu Kenal UU Arsitek

Mahasiswa Arsitektur Perlu Kenal UU Arsitek
Mahasiswa Arsitektur Perlu Kenal UU Arsitek

Lulus mengenyam kuliah sarjana dan langsung mengemban gelar arsitek bukanlah perkara mudah. Pasalnnya masih banyak yang harus dipelajari oleh arsitek muda. Oleh karena itu untuk mematangkan persiapan menjadi arsitek, digelarlah seminar Arsitektur Pasca Kampus (ARCAMPUS) 2018 oleh Departemen Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, pada Jumat (23/03).

ARCAMPUS kali ini mengangkat tema Regulation Creativity Featuring.

Pembicara yang dihadirkan ialah Ir Hari Sunarko IAI AA, ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Timur, dan Muhammad Siraj Darami ST, salah satu alumni Departemen Arsitektur ITS.

Hari Sunarko dalam kesempatan tersebut mengenalkan mahasiswa Departemen Arsitektur ITS pada Undang Undang (UU) arsitek di Indonesia yang baru saja diresmikan setahun lalu. Munculnya regulasi pertama yang mengatur profesi arsitek di Indonesia ini, mendatangkan dua prespektif berlawanan. Baik dari para profesional maupun dari akademisi termasuk mahasiswa. “UU arsitek ini ada yang menanggapinya sebagai kesempatan, dan juga sebagai hambatan,” ujarnya.

BACA JUGA – Dua Hal Penting Dipersiapkan Saat Melamar Kerja

Dalam UU RI Nomor 6 Tahun 2017 tentang Arsitek dijelaskan ada beberapa

hal pokok yang perlu digaris bawahi. Mulai dari organisasi induk arsitek di Indonesia, alur keanggotannya, standarisasi dan sertifikasi seorang arsitek, dan juga sanksi bagi arsitek. Selain itu juga ada bagian yang menjelaskan soal keberadaan arsitek asing di Indonesia ke depannya. Hingga hal tersebut kemudian menjadi sebuah kekhawatiran bagi para profesional dan calon arsitek di Indonesia.

Sebenarnya hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan, apalagi oleh mahasiswa yang nantinya akan jadi calon arsitek. Menurut pendiri HNK architect ini, penyusunan UU arsitek telah banyak melakukan pertimbangan baik dari kalangan pemerintah maupun pihak-pihak yang punya kapabilitas di dunia arsitektur. “Perlu diketahui, ada arsitek jebolan Arsitektur ITS yang turut andil dalam perancangan UU ini,” jelas pria yang juga merupakan Departemen Arsitektur ITS tersebut.

Disamping mengenalkan UU arsitek kepada mahasiswa, ARCAMPUS tahun

ini juga memberikan ilmu terkait bagaimana menyiapkan potorfolio dan Curriculum Vitae (CV) yang baik untuk nantinya memasuki dunia kerja. Muhammad Siraj Darami ST,menjelaskan bahwa seorang mahasiswa arsitektur meski punya keterampilan dalam menyusun portofolio dan CV.

“Portofolio menunjukan pemikiran dan kemampuan komunikasi kita akan bidang ilmu kita. Sedangkan CV adalah media promosi diri,” ungkap mantan ketua Himpunan Mahasiswa Arsitektur ITS tahun 2014/2015 ini.

 

Sumber :

https://compass.centralmethodist.edu/ICS/Academics/OTA/OTA107__CM16/SPRG_2017_UNDG-OTA107__CM16_-A/Blog_1.jnz?portlet=Blog_1&screen=View+Post&screenType=next&&Id=b948ea76-a5ee-408e-91d5-4d8dedc1a018

Nenek 72 tahun Hadapi Vonis, Akankah Dibebaskan

Nenek 72 tahun Hadapi Vonis, Akankah Dibebaskan

Nenek 72 tahun Hadapi Vonis, Akankah Dibebaskan
Nenek 72 tahun Hadapi Vonis, Akankah Dibebaskan

Dengan alasan kemanusiaan, vonis Marsiyah (72) dipercepat. Nenek yang telah bungkuk asal Purwokerto itu akan diputus bersalah atau tidak, Rabu pagi ini di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

“Iya, langsung tuntutan. Tidak pakai replik-duplik. Saksi juga cuma satu kali sidang,” kata pengacara Marsiyah, Ermelina Sengereta saat berbincang dengan detikcom, Rabu (16/6/2010).

Sebelumnya, jaksa tunggal Novika Muzairah menuntut Marsiyah 5 bulan penjara karena melanggar pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan. Novika meyakini Marsiyah telah mencakar dan menjambak adik menantunya, Febriyanti. Tindakan itu dibantu oleh anak Marsiyah, Yuswati yang juga ikut di gelandang ke pengadilan. Namun tudingan itu buru-buru ditampik.

“Tindakan itu tidak benar. Justru sebaliknya, salah satu saksi Halailah mendengar teriakan minta tolong Marsiyah karena dijambak oleh Febriyanti,” ucap Marlonsius Sihaloho, salah satu pengacara Marsiyah saat membacakan pembelaan pekan kemarin.

Bagi majelis hakim, titik pangkal perkara berada pada Febri. Sikapnya yang kurang sopan dan main nyelonong masuk rumah Yuswati membuat Marsiyah yang tengah berada di rumah menjadi geram. Saat ditegur, bukannya minta maaf justru balik marah dan menimbulkan percekcokan, adegan cakar-cakaran.

“Tidak boleh mau masuk ke rumah orang lain tanpa izin. Termasuk ke kamar orang lain, harus izin ke yang punya. Kalau anak saya masuk tanpa izin ke kamar saya, saya marah. Dari sopan santun sudah tidak benar,” kata salah satu anggota majelis hakim saat memeriksa Febri.

Bagi Marsiyah, ia tidak menyangka cekcok sepele dirumahnya November tahun lalu akan berakhir di pengadilan. Dia berharap, hakim membebaskannya dan dapat pulang ke kampungnya di Purwokerto.

Baca Juga :

Modal Jadi Gubernur Rp 40 milyar. BEPnya Kapan

Modal Jadi Gubernur Rp 40 milyar. BEPnya Kapan

Modal Jadi Gubernur Rp 40 milyar. BEPnya Kapan
Modal Jadi Gubernur Rp 40 milyar. BEPnya Kapan

Seorang calon Gubernur, setidaknya mesti mengeluarkan dana Rp 40 milyar, untuk melakukan kampanye pencitraan agar sosoknya dikenal publik. Padahal gaji gubernur sebulan cuma Rp 8 juta.

Itulah gambaran yang diungkapkan Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA. Kepada Kompas Denny mengklaim telah memenangkan 17 calon gubernur dalam pemilu kepala daerah sejak tahun 2005 atau lebih dari 50 persen jumlah gubernur di seluruh Indonesia. Saat ini LSI sedang menangani dua calon gubernur yang sedang bertarung dalam Pilkada 2010. Denny berharap angka suksenya bisa mencapai 90%.

Semahal itu untuk biaya apa saja? Selain survei untuk mengetahui populasritas si kandidat, tentu saja untuk membayar konsultan politik, dan komunikasi pencitraan. Tak jelas benar apakah biaya sebesar itu juga termasuk ongkos lobi ke partai, agar bersedia menjadi kendaraan politik menuju kandidat gubernur. Yang pasti, menurut kompas, dari sejumlah itu 50% masuk ke kantong konsultan politik.

Apakah dengan biaya sebesar itu, garansi lolos jadi Gubernur? Tak ada yang berani menggaransi. Namun Denny seolah memastikan “Kalaupun ada yang kalah, itu karena tidak memenuhi komitmen dengan pembayaran sehingga ada beberapa program yang tidak jalan,” ujarnya. Konsultan politik dan kampanye pencitraan seolah bisa mengubah sosok kucing, menjadi singa, sang raja hutan.

Saat ini belum banyak lembaga konsultan Politik. Yang cukup dikenal adalah LSI, Fox Indonesia, selain itu ada Charta Politika yang dikomandani Bima Arya Sugiarto, serta Pol Mark Indonesia yang dibentuk oleh Eep Saefulloh Fatah. Tahun 2010 ini, sedikitnya ada sekitar 246 Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Dari jumlah tersebut, 7 (tujuh) Pilkada untuk Provinsi (Daerah Tingkat Satu) dan sisanya, sekitar 239 Pilkada Kabupaten/Kota (Daerah Tingkat Dua). Selain kandidat kepala daerah yang menjadi market konsultan politik, adalah partai politik. Tak heran tahun menjadi masa panen konsultan politik.

Masalah yang cukup serius, adalah konsultan politik, abai pada krendensial kliennya. Menurut Denny, paling tidak ada tiga syarat yang harus dimiliki oleh para calon apabila ingin bertarung dalam pilkada, yaitu terkenal, disukai, dan mempunyai dana. LSI juga pernah membantu seorang calon kepala daerah yang tidak terkenal, tetapi mempunyai dana yang besar. Bagaimana dengan moral? “Yang penting adalah calon tidak sedang di dalam penjara. Kalau masih tersangka saja, kami masih bisa membantunya untuk menang,” ungkap Denny. Nah lo.

Masalah yang berikutnya adalah bagaimana para kandidat kepala daerah ini bisa mengembalikan modal pencalonannya? Ibarat bisnis kapan break event pointnya? Gaji gubernur, menurut Sri Sultan Hamengku Buwono X, cuma Rp 8 juta per bulan, itu sudah termasuk tunjangan. Jika dihitung selama 5 tahun masa jabatan, maka seorang gubernur hanya bisa mengantongi uang halal dari gajinya sebesar Rp 480.000.000. Lantas kekurangan dalam pengembalian modal, gimana nutupnya?

Pada akhirnya mahalnya biaya politik di negeri ini, akan menjadi beban rakyat. Ekonomi biaya tiinggi di sektor usaha, pajak yang mahal, serta berbagai cara untuk meningkatkan PAD yang akan ditanggung rakyat. Pimpinan daerah yang sudah menghabiskan puluhan milyar dalam pencalonan tentu tak ingin menjadi miskin setelah terpilih.

Sumber : https://freemattandgrace.com/

Masyarakat Indonesia Dinilai Kecanduan Pornografi

Masyarakat Indonesia Dinilai Kecanduan Pornografi

Masyarakat Indonesia Dinilai Kecanduan Pornografi
Masyarakat Indonesia Dinilai Kecanduan Pornografi

Dari fakta yang ada, masyarakat Indonesia dinilai kecanduan pornografi. Ironisnya, mahasiswa dan anak sekolah menjadi konsumen terbesar situs maupun film esek-esek ini.

“Dari riset kami, di kota-kota yang banyak pelajar dan mahasiswanya justru yang paling banyak mengakses situs porno,” ujar Ketua Gerakan Jangan Bugil Depan Kamera, Peri Umar Farouk kepada detikcom, Selasa (15/6/2010) malam.

Peri menjelaskan urutan teratas adalah Yogyakarta, disusul Semarang, Medan dan Malang, baru Jakarta.

Kegemaran tersebut bisa dilihat dari statistik situs pencari google. Indonesia berada di urutan keempat dunia untuk kata pencarian sex atau seks. Selain itu Indonesia juga sering menduduki rangking nomor satu di situs-situs room chat berkamera khusus dewasa.

“Sejak 4 tahun terakhir, pengakses dari Indonesia juga sering mencari nama-nama idola seks dunia. Terutama dari Asia, seperti Miyabi, Rin Sakuragi dan nama-nama lainnya,” terang dia.

Peri menambahkan, fakta lainnya, saat heboh rekaman porno antara politisi Yahya Zaini dan pedangdut Maria Eva beredar, tidak kurang dari 1,9 juta orang mencoba mengunduh video tersebut dalam sebulan.

“Bayangkan jika untuk mengunduh tersebut membutuhkan biaya Rp 1.000, kemudian dikali 1,9 juta. Maka jumlahnya Rp 1,9 miliar. Jumlah sebesar ini hanya untuk video porno,” terang dia.

Sumber : https://merpati.co.id/