Anak Gembira, Keluarga dan Bangsa Bahagia

Anak Gembira, Keluarga dan Bangsa Bahagia

Anak Gembira, Keluarga dan Bangsa Bahagia
Anak Gembira, Keluarga dan Bangsa Bahagia

Anak-anak merupakan asset keluarga dan bangsa yang tidak ternilai harganya. Oleh karenanya, keberadaan mereka sudah semestinya dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, sesempurna mungkin yang bisa dilakukan oleh orangtuanya juga negara.

Persiapan yang mesti dilakukan oleh orangtua, terutama ayah dan ibunya, tidak dimulai sejak mereka hidup bersama dalam bingkai rumah tangga, melainkan jauh hari sebelumnya. Sejak mereka didik dirinya sendiri.

Bagaimana mungkin mendapatkan anak-anak yang cerdas dan shaleh bila kedua orangtuanya tidak pernah mendidik dirinya sendiri sebelumnya. Jika pun bisa, maka probabilitas nya terlalu minim. Dalam kata lain, sesungguhnya seorang anak terlahir dan besar bergantung pada pendidikan dan kondisi lingkungan yang diterapkan dalam keluarga, dan orangtuanya bertanggungjawab atasnya.

Demikian keterangan yang disampaikan Ahmad Arif Imamulhaq, salah

seorang pengurus Dewan Pendidikan Purwakarta menyikapi peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh setiap tanggal 23 Juli.

Kang Arif yang juga pernah berkecimpung dalam dunia pendidikan anak ini menambahkan bahwa Negara, dalam hal ini pemerintah juga memiliki peranan utama dan penting dalam mempersiapkan generasi bangsa. Sistem pendidikan yang komprehensif, pembinaan anak-anak remaja dan pemuda, perlindungan anak maupun penataan infrastruktur yang ramah mestilah terintegrasi dengan baik sejalan dengan pembangunan mental spiritual masyarakat dan bangsa. Artinya pembangunan sarana prasarana yang dilakukan oleh pemerintah mesti paralel dengan upaya pembentukan perilaku masyarakatnya.

“Kita masih melihat sebagian orangtua masih abai terhadap anak anaknya.

Bila mereka berjalan, anak anaknya ada di samping jalan tidak terlindungi atau pada saat dibonceng kendaraan roda dua, anak anak duduk di depan sebagai tameng,” imbuh kang Arif.

“Saya masih menyaksikan beberapa toko mainan memiliki pelayan yang tidak ramah terhadap anak-anak. Mereka hanya berpikir menjual mainan sebanyak banyaknya tanpa memikirkan kondisi psikologis anak. Mereka lebih banyak memanfaatkan rengekan anak anak pada orangtuanya untuk mendapatkan mainan. Saya kira negara mesti hadir disini, memberikan pendampingan pada pemilik atau pelayan toko dan lebih jauhnya, menata lebih baik sarana prasarana yang mendukung penciptaan kota yang ramah anak,” timpal mantan aktivis HMI ini.

“Ke depan, mari kita wujudkan kota Purwakarta yang ramah terhadap anak

anak, remaja, orangtua maupun saudara-saudara kita yang disabilitas. Mari berbuat yang sederhana dulu, misalnya bila ada orang yang menyeberang, dahulukanlah. Jangan karena kita pakai kendaraan, mereka yang menyeberang harus mengalah. Yang menyeberang adalah manusia, hargailah manusia bukan kendaraan kita. Semewah apapun kendaraan kita, tetaplah tak lebih berharga dari manusia. Selamat hari anak Indonesia, semoga gembira dan bahagia selamanya,” pungkas Kang Arif yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Gadjah Mada tersebut.

 

Sumber :

Mengetahui Definisi Bakteri Secara Lengkap

Paguyuban Pasundan Ajak Komunitas Sunda Ikut Jaga Keutuhan NKRI

Paguyuban Pasundan Ajak Komunitas Sunda Ikut Jaga Keutuhan NKRI

Paguyuban Pasundan Ajak Komunitas Sunda Ikut Jaga Keutuhan NKRI
Paguyuban Pasundan Ajak Komunitas Sunda Ikut Jaga Keutuhan NKRI

Milad ke-104 Paguyuban Pasundan mengajak seluruh komunitas urang

Sunda ikut menjaga keutuhan bangsa ditengah heterogenitas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kami merasa bahwa akhir-akhir ini masalah kebangsaan terasa miris bagi saya, oleh karena itu kita punya tanggung jawab moril untuk mengembalikan kebersamaan diantara kita,” kata Ketua Paguyuban Pasundan Didi Turmuzi dalam acara milangkala Paguyuban Pasundan yang ke-104 di kantor Pengurus Besar Paguyuban Pasundan di Jalan Sumatera Kota Bandung, Kamis (20/7).

Menurutnya Indonesia adalah negara besar dan heterogen, karenanya perlu

di manage dengan baik.

“Apabila tidak di manage dengan baik akan mengakibatkan musibah, tetapi kalau dimanage dengan baik akan melahirkan barokah dan maslahat bagi seluruh bangsa dan rakyat Indonesia,” tuturnya.

Dia menambahkan Paguyuban Pasundan punya tanggung jawab moral

menjaga keutuhan bangsa karena ikut merintis, melahirkan dan berjuang mendirikan negara Indonesia.

“Persatuan dan kesatuan bangsa mutlak kita rawat dan kita jaga,” tandasnya.

 

Sumber :

https://princehisham.com/mengetahui-tentang-pengertian-komunikasi/

Tugas Akhir Masih Jadi Momok Mahasiswa

Tugas Akhir Masih Jadi Momok Mahasiswa

Tugas Akhir Masih Jadi Momok Mahasiswa
Tugas Akhir Masih Jadi Momok Mahasiswa

Tugas akhir masih menjadi momok bagi sejumlah mahasiswa. Terutama

dalam penyusunan karya ilmiah oleh mahasiswa.

Makanya kami Risearch and Literasy Institute (RLI) punya inisiatif membantu lewat workshop cara cepat penggunaan Ms Word dalam karya tulis ilmiah,” ujar Direktur RLI Mulyawan SN, Rabu (29/5)

Pembelajaran tersebut sebagai bentuk pengembangan literasi di Sukabumi. Baik itu kota ataupun kabupaten.

“Kita selalu hadir dalam setiap pengembangan literasi,” ucapnya.

Pemateri Isra Yanuar Giu mengatakan, penulisan karya ilmiah merupakan

hal yang mudah. Terutama jika mengetahui trik penggunaan Ms Wordnya.

“Mereka bisa saja membuat karya ilmiah, tapi akan lama jika dengan cara biasa. Kalau mengetahui triknya, kita bisa lebih cepat. Dan di sini kita ajarkan triknya,” ungkpanya.

Oleh karena itu, proses workshop tersebut dilakukan secara detail mungkin.

Sehingga para mahasiswa yang berjumlah 50 orang bisa mengetahui dengan jelas.

“Para peserta dituntut untuk praktek langsung dalam menyusun karya Ilmiah secara simulasi,” pungkasnya. [

 

Baca Juga :

 

 

PPDB Sistem Zonasi Bagus Kalau Semua Kecamatan Ada Sekolah

PPDB Sistem Zonasi Bagus Kalau Semua Kecamatan Ada Sekolah

PPDB Sistem Zonasi Bagus Kalau Semua Kecamatan Ada Sekolah
PPDB Sistem Zonasi Bagus Kalau Semua Kecamatan Ada Sekolah

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan sistem zonasi di Kota Sukabumi masih bisa dikatakan belum cocok. Hal itu terkecuali setiap kecamatan ada sekolah.

Kalau setiap kecamatan ada sekolah bagus. Namun program pemerintah

pusat wajib belajar 12 tahun harus dilaksanakan. Masyarakat jangan dibuat susah,” ujar Ketua Komisi III DPRD Kota Sukabumi Gagan Rachman Suparman, Rabu (19/6).

Menurutnya, PPDB sistem zonasi ini menguntungkan bagi masyarakat yang dekat dengan sekolah negeri. Namun, menyulitkan bagi masyarakat yang tidak ada sekolah negeri di wilayahnya.

“Namun itu juga bukan dasar harus masuk sekolah negeri. Sebab, sekolah swasta juga ada yang bagus,” ucapnya.

Akan tetapi, semua pilihan terdapat di masyarakat itu sendiri. Terutama dalam memasukan anaknya untuk sekolah di negeri ataupun swasta. “Contoh Warudoyong tidak ada sekolah negeri. Tapi ada sekolah swasta. Tinggal dikembalikan kepada masyarakat mau masuk ke swasta atau negeri,” ungkapnya.

Selama ini, sekolah negeri banyak terpusat di Kecamatan Cikole. Makanya

beberapa kecamatan yang tidak ada sekolah negeri bisa meloncat ke sekolah lain. “Masyakarat yang tidak ada sekolah negeri bisa meloncat namun tetap harus mengikurti mekanisme yang ada

Namun di sisi lain, sistem zonasi ini menguntungkan bagi masyarakat Kota Sukabumi. Apabila berkaca dari hasil SKHUN, sekolah negeri di Kota Sukabumi kemungkinan banyak diisi warga Kabupaten Sukabumi.

“Dengan sistem zonasi ini kecil kemungkinan warga Kabupaten Sukabumi

masuk sekolah negeri di Kota Sukabumi. Kecuali lewat jalur prestasi. Itupun jumlahnya sekitar 5-10 orang,” pungkasnya.

 

Sumber :

https://dcckotabumi.ac.id/pages/sejarah-proklamasi/

Sistem Zonasi Dan Upaya Pemerataan Pendidikan

Sistem Zonasi Dan Upaya Pemerataan Pendidikan

Sistem Zonasi Dan Upaya Pemerataan Pendidikan
Sistem Zonasi Dan Upaya Pemerataan Pendidikan

Pemerataan pendidikan merupakan pekerjaan rumah bagi seluruh stakeholder pendidikan dan masyarakat. Pun demikian di wilayah Kabupaten Purwakarta.

Bagi stakeholder pendidikan, yang di dalamnya ada pemerintah dan pemerintah daerah memiliki kewajiban untuk membuat kebijakan dan mensosialisasikan kebijakannya kepada masyarakat.

“Dalam hal pemerataan pendidikan, saat ini sudah ada langkah pemerintah dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan (Permendikbud) Nomor 51 Tahun 2018 terkait penerimaan peserta didik baru dengan sistem zonasi yang lebih besar,” ujar Ketua Dewan Pendidikan (Wandik) Purwakarta, Agus Marzuki, Sabtu (15/6).

Dalam agenda rapat bersama Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kabupaten Purwakarta, Asep Mulyana beserta jajaran pengurus Wandik di SMAN 1 Cibatu, dimana sebelumnya rapat bersama Dinas Pendidikan Purwakarta. Dewan Pendidikan juga mendukung kebijakan zonasi dalam upaya pemerataan pendidikan.

“Kami sangat mendukung kebijakan zonasi ini sebagai bagian dari upaya

pemerintah dalam memajukan pendidikan dengan cara pemerataan kualitas mutu pendidikan di setiap sekolah di seluruh daerah. Sehingga tidak ada lagi istilah sekolah favorit, semua sama,” ujarnya.

Agus Marzuki berharap upaya pemerintah ini didukung oleh masyarakat dan seluruh stakeholder.

“Wandik berharap masyarakat dan seluruh stakeholder mendukung

kebijakan ini. Dan kebijakan ini juga harus dilanjutkan dengan upaya pemerataan guru di setiap sekolah, peningkatan kualitas SDM tenaga pendidik dan kependidikannya serta sarana prasarana pendidikannya yang layak dan memadai,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua MKKS SMA Kabupaten Purwakarta mengapresiasi langkah pro aktif Wandik tersebut.

“Kami berterimakasih atas langkah Wandik yang pro aktif dalam menyikapi

dunia pendidikan di Purwakarta, khususnya terkait PPDB dan kebijakan pemerataan pendidikan. Ini tanggungjawab bersama, baik pemerintah maupun masyarakat juga swasta sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang. Kami telah diskusikan berbagai permasalahan pendidikan bersama Wandik, termasuk soal daya tampung dan lain sebagainya. Kami dukung sepenuhnya peranan Wandik dalam mendukung kemajuan pendidikan,” demikian Asep Mulyana.

 

Sumber :

https://dcckotabumi.ac.id/pages/contoh-soal-teks-ulasan-kelas-8/

Intergrasi Nasional Bangsa Indonesia diamati dari Sejarah

Intergrasi Nasional Bangsa Indonesia diamati dari Sejarah

Upaya Integrasi nasional bangsa Indonesia terkecuali diamati dari sejarahnya sudah lama dilakukan, yakni mulai zaman kerajaan Sriwijaya dan kerajaan Majapahit. Kedua kerajaan itu, mengupayakan mempersatukan seluruh lokasi kekuasaan di bawah naungan kerajaan itu. Proses integrasi konsisten berlangsung hingga dengan berkembangnya kekuasaan Islam di Indonesia. Terjalinya pertalian komunikasi antar-daerah di Indonesia berdampak pada terjadinya integrasi di segala bidang kehidupan antar-berbagai suku di Indonesia. Proses integrasi yang berlangsung pada abad ke-16 hingga dengan abad ke-19 berfungsi besar dalam pertumbuhan bangsa Indonesia sekarang ini.

Bangsa Indonesia adalah suatu bangsa yang mengalami sistem panjang dalam laksanakan integrasi nasional. Integrasi nasional bangsa Indonesia konsisten menerus diuji. Telah banyak upaya yang diuji untuuk menghindar integrasi bangsa Indonesia sejak sebelum akan kemerdekaan, sehabis kemerdekaan, orde baru, dan orde reformasi. Mulai PRRI, DI/TII, Permesta, GAM, OPM, hingga dengan pada lepasnya Timor-Timur, Sipandan, dan Ligitan dari negara kesatuan Republik Indonesia. Melalui sistem integrasi itulah bangsa Indonesia yang terdiri atas banyak suku dapat disatukan ke dalam NKRI.

Meskipun terdiri atas beraneka bhs area dan berada di beraneka pulau, Negara Indonesia sudah dapat disatukan oleh bhs Indonesia. Perbedaan yang tersedia dalam diri bangsa Indonesia dapat dinetralisasi dengan toleransi, saling menghormati, dan tenggang rasa. Proses integrasi bangsa Indonesia juga dipermudah dengan adanya perkawinan campuran antarsuku bangsa. Hal berikut disebabkan oleh makin berkembangnya komunikasi dan transportasi. Suatu integrasi nasional tercapai andaikata unsur-unsur yang berlainan dalam masyarakat secara nasional sudah jadi pola kehidupan yang cocok bakal terwujud suatu bentuk konsistensi dalam bidang-bidang kehidupan di masyarakat.

Demikianlah ulasan tentang “Intergrasi Nasional Bangsa Indonesia diamati dari Sejarah”, yang pada kesempatan ini dapat dibahas dengan lancar. Semoga berfungsi bagi yang membaca…

Baca Juga :

Siswa Solo Adakan Doa Bersama untuk Korban Tragedi Connecticut

Siswa Solo Adakan Doa Bersama untuk Korban Tragedi Connecticut

Sekolah di AS Tingkatkan Keamanan Pasca Pembunuhan Massal
Sekolah di AS Tingkatkan Keamanan Pasca Pembunuhan Massal

Puluhan siswa sebuah sekolah dasar di Solo mengadakan doa bersama untuk para korban penembakan massal di Connecticut, Amerika Serikat.
SOLO — Sekitar 50 anak berseragam warna merah putih duduk membentuk lingkaran di halaman Sekolah Dasar Joglo 76 Kadipiro, Selasa pagi (18/12), memegang poster bergambar korban penembakan massal di Amerika dan untaian bunga tanda berduka.

Beberapa siswa tak kuasa meneteskan air mata. Salah seorang siswa sekolah tersebut, Amar, mengaku sedih melihat tragedi penembakan di Sekolah Dasar Sandy Hook, Newtown di negara bagian Connecticut akhir pekan lalu. Apalagi para korbannya adalah anak-anak seusianya, kata Amar.

“Tadi doa bersama untuk korban tragedi SD Sandy Hook di Amerika serikat.

Saya merasa sedih dengan tragedi itu,” ujarnya.

Aksi solidaritas siswa tersebut didampingi para guru sekolah. Lantunan doa dan harapan menggema di sekolah ini. Kepala sekolah SD Negeri Joglo 76 Kadipiro, Kustinah mengungkapkan aksi ini untuk melatih sikap simpati dan empati para siswa SD ini pada tragedi kemanusiaan yang terjadi.

Menurut Kustinah, korban penembakan di SD Sandy Hook Amerika Serikat mayoritas juga seusia para siswa SD di Solo ini.

“Ini supaya anak-anak itu memiliki empati dengan tragedi kemanusiaan.

Yang terjadi di Amerika Serikat kemarin itu korbannya kan teman-teman sebaya siswa di SD ini. Aksi ini ungkapan simpati anak-anak di sekolah ini. Ini salah satu cara untuk mendidik anak agar ikut merasakan penderitaan sesamnya, ikut peduli,” ujar Kustinah.

Dalam aksinya tersebut, para siswa dan guru di SD Joglo 76 Solo ini menyatakan harapan agar tragedi penembakan di Amerika Serikat tidak terjadi di Indonesia.

Sebagaimana diketahui, 20 anak dan enam orang dewasa tewas dalam

penembakan di sekolah di kota kecil Newtown. Pihak berwenang mengatakan penembak, Adam Lanza, yang berusia 20an tahun, menembak diri sendiri ketika polisi mendekati sekolah tersebut.

 

Baca Juga :

 

 

Peringati Hari Anti Korupsi Sedunia, Puluhan Anak Solo Deklarasikan Generasi Anti Korupsi

Peringati Hari Anti Korupsi Sedunia, Puluhan Anak Solo Deklarasikan Generasi Anti Korupsi

Peringati Hari Anti Korupsi Sedunia, Puluhan Anak Solo Deklarasikan Generasi Anti Korupsi
Peringati Hari Anti Korupsi Sedunia, Puluhan Anak Solo Deklarasikan Generasi Anti Korupsi

Puluhan anak-anak SD di Solo menggelar aksi memperingati hari anti korupsi Sedunia, 9 Desember dengan mendeklarasikan diri sebagai anak Indonesia generasi anti korupsi.
“Anak-anak Solo anti korupsi..Yes!” demikian kata puluhan anak-anak SD di Solo.

Sekitar 50 anak-anak berseragam olahraga dari berbagai Sekolah Dasar atau SD di Solo meneriakkan yel-yel anti korupsi di ajang Car Free Day atau hari Bebas Kendaraan di sepanjang Jalan Slamet Riyadi Solo, Minggu pagi (9/12). Anak- anak Solo ini pun membawa berbagai poster dan mendeklarasikan diri sebagai generasi anti korupsi.

Mereka mengatakan, “Kami anak-anak Solo menjadi generasi anti korupsi..Yes..yes..yes..”

Berbagai poster buatan para siswa SD di Solo tersebut dibentangkan dalam

aksi ini. Poster tersebut berisi ajakan anti korupsi, antara lain Jangan ajarkan kami untuk Korupsi, Sekolah kami rusak karena duit dikorupsi, Indonesia harus bebas dari korupsi, Korupsi sengsara di kemudian hari, dan sebagainya. Salah seorang peserta aksi tersebut, Ardian, siswa kelas 5 SD Kestalan Solo, berharap Indonesia segera bebas dari korupsi.

Anak-anak SD di Solo memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia dengan menegaskan tekad sebagai Generasi Anti Korupsi Indonesia, Sabtu 9/12 (foto: Yudha/VOA).
Anak-anak SD di Solo memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia dengan menegaskan tekad sebagai Generasi Anti Korupsi Indonesia, Sabtu 9/12 (foto: Yudha/VOA).
“Ini poster hari anti korupsi.buatan saya sendiri.ya ini memperingati hari anti korupsi sedunia..supaya negara Indonesia bebas dari korupsi..Kalau Indonesia banyak korupsi kasihan rakyatnya…,” ujar Ardian.

Aksi puluhan anak-anak SD di Solo ini mendapat dukungan para warga

lainnya, diantaranya Hanin Yudo. Menurut Hanin, karakter anti korupsi harus ditanamkan sejak dini, usia anak.

“Ini bagus sebagai pendidikan anti korupsi untuk anak-anak usia dini hingga remaja..mulai dari inilah mereka nanti akan menjadi tunas generasi bangsa selanjutnya. Siapa lagi yang akan meneruskan..sekarang kita, nanti mereka yang menggantikan..karakter anti korupsi ini yang harus dibangun..sekarang ana-anak ini mungkin tidak memahami apa itu korupsi,tetapi dengan menanamkan karakter dan semangat anti korupsi ini mereka akan selalu ingat aksi ini dan memberikan mereka suatu wawasan penting arti sikap anti korupsi.,” puji Hanin Yudo.

Aksi puluhan siswa SD di Solo ini didampingi para guru sekolah dan orang

tua mereke masing-masing. Aksi anak-anak ini menarik perhatian ribuan warga Solo lainnya yang sedang beraktifitas di ajang Car Free Day atau Hari bebas Kendaraan di Solo tersebut.

Selain anak-anak, Aksi memperingati Hari anti Korupsi Sedunia juga dilakukan para mahasiswa dan komunitas pegiat anti korupsi di Solo. Mereka melakukan penggalangan tanda tangan di selembar spanduk dukungan Indonesia Bebas dari Korupsi.

 

Sumber :

https://www.edocr.com/v/rypqab5o/ojelhtcmandiri/Review-Text

Liga Bisbol di North Carolina Bentuk Tim untuk Penyandang Cacat

Liga Bisbol di North Carolina Bentuk Tim untuk Penyandang Cacat

Liga Bisbol di North Carolina Bentuk Tim untuk Penyandang Cacat
Liga Bisbol di North Carolina Bentuk Tim untuk Penyandang Cacat

Liga bisbol untuk pemain dengan kebutuhan khusus di negara bagian North Carolina menyatakan syarat utama bermain dalam liga itu hanyalah keinginan untuk bermain.
Jika gambar mampu mengungkap seribu kata, maka gambar ini mengungkap banyak hal – tentang sukacita anak-anak yang ikut dalam tim. Tetapi, sampai beberapa tahun lalu, tidak semua orang di Hendersonville, North Carolina, punya tim yang memberi kesempatan ikut bermain, termasuk seorang anak bernama True.

Melanie, Ibu True, mengatakan, “Ini favorit saya karena dia sangat ingin bermain bisbol.”

True datang ke Amerika pada usia dua tahun dari Siberia, Rusia. Ia dengan cepat menjadi penggemar olahraga, seperti kakaknya Bradshaw dan seluruh keluarga angkatnya.

“True mencintai bisbol. Ia senang olahraga, kegiatan apapun di udara

terbuka. Selama bertahun-tahun ia menonton adiknya bermain bisbol. Ia duduk di pinggir lapangan dan memberinya semangat. Ia selalu ingin ikut bermain,” tutur Melanie lagi.

Jadi, Melanie, mengungkapkan, keluarganya sangat senang mengetahui tentang Special Needs Baseball atau bisbol untuk mereka yang berkebutuhan khusus. Donnie Jones ikut mendirikan liga itu bersama kakaknya, Chat.

Ia menuturkan,”Sudah lebih dari 15 tahun saya melatih liga kecil. Tetapi dalam pertandingan, saya melihat anak-anak yang hanya menonton kakak atau adik bermain. Saya ingin mereka turun ke lapangan dan ikut bermain. Suatu ketika keinginan itu datang begitu saja, menurut saya, tidak akan ada kesempatan bagi mereka untuk bermain kecuali pada Olimpiade Khusus, yang tidak mungkin bagi sebagian besar mereka.”

Chat, kakak Donnie, meninggal baru-baru ini dan ia sedih menggambarkan

betapa berarti bagi pemain Berkebutuhan Khusus untuk ikut tim seperti saudara-saudara mereka. Tidak ada batasan usia atau kemampuan untuk ikut dalam liga khusus itu sehingga jumlah anggotanya berlipat ganda dalam satu tahun, dari 40 menjadi hampir 80 pemain.

“Siapapun yang ingin bermain, tidak peduli tingkat kemampuan, kami akan carikan cara supaya mereka bisa berpartisipasi penuh. Saya menikmati berada di sana lebih dari apapun yang telah saya lakukan. Maksud saya, itu hal paling menyenangkan yang pernah saya alami di lapangan bisbol,” tutur Donnie Jones lagi.

Dibutuhkan banyak sukarelawan dan dukungan keluarga untuk mengajak pemain ke lapangan. Tetapi bagi mereka yang terlibat, permainan itu memberi kepuasan tersendiri.

Melanie mengatakan tidak ragu-ragu mendaftarkan True masuk tim bisbol,

meskipun ia berkaki palsu. Malah, kata Melanie, True bangga pada kakinya, seperti dalam lakon film Star Wars.

Bisbol bagi anak-anak berkebutuhan khusus di North Carolina ini dimulai pada musim semi 2011, walau Donnie sudah memikirkannya bertahun-tahun sebelumnya. Tetapi, ia tidak tahu cara mewujudkannya. Yang ia tahu hanyalah – ia tidak ingin anak-anak itu membayar.

 

Sumber :

https://crooksandliars.com/user/danuaji88

DPR Dorong Realisasikan Mata Pelajaran PMP Diajarkan di Sekolah

DPR Dorong Realisasikan Mata Pelajaran PMP Diajarkan di Sekolah

Sosialisasi Sistem Zonasi Sekolah PPDB Minim
Sosialisasi Sistem Zonasi Sekolah PPDB Minim

Peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni ini semestinya tidak sekadar peringatan seremonial semata. Namun harus dimanifestasikan dalam bentuk program yang berkelanjutan.

Wakil Ketua Komisi X DPR, Reni Marlinawati mendorong pemerintah segera merealisasikan rencana masuknya kembali mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. “Kami mendorong realisasi atas rencana masuknya kembali mata pelajaran PMP dalam kurikulum anak didik di tingkat sekolah di berbagai tingkatan,” ujar Reni dalam rilisnya kepada SINDOnews, Sabtu (1/6/2019).

Menurut Wakil Ketua Umum DPP PPP ini, keberadaan PMP dalam daftar mata pelajaran sekolah cukup relevan di tengah persoalan yang kerap muncul dalam dunia pendidikan di Indonesia. “Sejumlah persoalan yang muncul di dalam dunia pendidikan kita seperti kekerasan antarsiswa dan perisakan terhadap guru harus disikapi dengan membuat terobosan nyata agar praktik tersebut tak muncul kembali,” kata Reni.

Baca Juga:

Perpres Sistem Zonasi Ditarget Keluar Tahun Ini
Menristekdikti: Inovasi di Perkuliahan Harus Ditingkatkan

Dia menilai salah satu pemicu munculnya tindakan negatif di kalangan

siswa di dunia pendidikan dipicu memudarnya implementasi nilai moral dan akhlak serta nilai Pancasila yang hanya sekadar dihafal dalam kegaiatan upacara rutin sekolah. “Nilai moral dan Pancasila memudar dalam dunia pendidikan kita. Pendidikan kita masih berkutat dalam persoalan nilai mata pelajaran semata. Prestasi siswa hanya terukur dari sisi nilai mata pelajaran,” sebut Reni.

Reni mendorong pendidikan akhlak dan Pancasila harus diajarkan secara

berkesinambungan dan berkelanjutan. Ia juga mengingatkan mata pelajaran PMP harus dikontekstualkan dengan kondisi anak didik era saat ini.

 

“PMP harus didesain mata pelajaran yang mengasyikan dan tidak menjenuhkan. Oleh karenanya PMP era saat ini harus berbeda dengan era sebelumnya, bukan indoktrinasi, namun melibatkan peran aktif siswa,” jelas Reni.

Reni berharap mata pelajaran PMP dapat direalisasikan untuk diajarkan di

semua jenjang pendidikan dimulai dalam tahun ajaran baru 2019/2020 pada Juli mendatang. “Harapannya realisasi mata pelajaran PMP dapat dimulai di tahun ajaran baru 2019/2020 Juli mendatang,” harap Reni.

 

Baca Juga :