makalah bani umayyah 2

Faktor-Faktor Pendukung Kekhalifahan Bani Umayyah Di Spanyol

Faktor kemenangan-kemenangan umat islam dibagi menjadi dua faktor yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Yang dimaksud faktor eksternal adalah faktor yang terdapat didalam Negeri Spanyol itu sendiri. Pada masa penaklukaknk Spanyol oleh orang-orang Islam, kondisi sosial, politik, dan ekonomoi negeri ini berada dalam keadaan menydihkan. Secara politik, wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi-bagi kedalam beberapa negeri kecil. Perpecahan politik memperburuk keadaan ekonomi masyarakat. Ketika Islam masuk ke Spanyol ekonomi masyarakat dalam keadaan lumpuh. Tetapi, setelah Spanyol berada dibawah kekuasaan kerajaan Goth, perekonomian lumpuh dan kesejahteraan masyarakat menurun. Buruknya kondisi sosial, ekonomi, dan keagamaan tersebut terutama disebabkan oleh keadaan politik yang kacau. Kondisi terburuk terjadi pada masa pemerintahan Raja Roderick, Raja Goth terakhir yang dikalahkan Islam.
Adapun yang dimaksud dengan faktor internal adalah suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa, tokoh-tokoh pejuang, dan para prajurit Islam yang terlibat dalam penaklukam wilayah Spanyol pada khususnya. Para pemimpin adalah tokoh yang kuat, tentara yang kompak, bersatu dan penuh percaya diri. Mereka pun cakap, berani dan tabah dalam menghadapi setiap persoalan. Yang tak kalah pentingnya Yang tak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukkan para tentara Islam, yaitu toleransi, persaudaraan, yang terdapat dalam pribadi kaum muslimin itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam disana.[4]

 

Kesimpulan

Berkuasa tahun 756-1031 M di Spanyol (Andalusia dan kordoba). Didirikan oleh Abdurrahman ibn Marwan. Sebelumnya, Spanyol sudah ditaklukan oleh tiga pahlawan yaitu Tharif Ibn Mali, Thariq Ibn Ziyad, dan Musa Ibn Nushair. Spanyol dan kota-kota penting lainnya jatuh ke tangan umat Islam. Sejak saat itu secara politik, Spanyol berada dibawah kekuasaan khalifah Bani Umayyah. Untuk bisa memimpin wilayah tersebut, pemerintah pusat yang berada di Damaskus mengangkat seorang wali/gubernur.

RECENT POSTS

university of córdoba

Kekhalifahan Bani Umayyah Di Spanyol

Spanyol diduduki umat Islam pada zaman Khalifah Al-Walid (705-715 M), salah seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan islam yang paling berjasa memipin satuan-satuan pasukan kesana. Mereka adalah Tharif Ibn Mali, Thariq Ibn Ziyad, dan Musa Ibn Nushair. Tharif menyebrangi selat yang berada di antara Maroko dan benua Eropa dengan satu pasukan perang, mereka menaiki empat buah kapal yang disediakam oleh julian. Tak ada perlawanan berarti, ia menang dan kembali ke Afrika dengan membawa harta rampasan. Didorong oleh keberhasilan Tharif dan kemelut yang terjadi dalam kerajaan Visigothic, serta dorongan dari Musa Ibn Nushair yang mengirimkan pasukan sebanyak 7000 orang dibawah pimpinan Thariq Ibn Ziyad pada tahun 711 M.[1]

Berikut urutan penguasa Daulat Umayah di Spanyol, diantaranya :

1. Abdurrahman I (756-788)
2. Hisyam I (788-796)
3. Hakkam I (796-822)
4. Abdurrahman II (822-852)
5. Muhammad I (852-886)
6. Al-Munzir ibn Muhammad (886-888)
7. Abdullah ibn Muhammad (888-912)
8. Abdurrahman III (912-961)
9. Hakkam II/Al-Mustanshir (961-976)
10. Hisyam II/Al-Muayyad (976-1009)
11. Muhammad II Al-Mahdi (1009-1010)
12. Sulaiman Al-musta’in (1010)
13. Muhammad II Al-Mahdi (1010)
14. Hisyam II Al-Muayyad (1010-1016)
15. Sulaiman Al-musta’in (1016)
16. Abdurrahman IV Al-Murtadha (1016-1023)
17. Abdurrahman V Al-Mustazhir (1023)
18. Muhammad III Al-Mustakfi (1023-1027)
19. Hisyam III Al-Muktadi (1027-1031) [2]
Abdurrahman I mulai menata pemerintahannya setelah memproklamirkan berdirinya pemerintahan baru, Dinasti Umayyah. Abdurrahman I tidak menggunakan gelar Khalifah tetapi menggunakan gelar Amir. Gelar khalifah pertama kali digunakan oleh Abdurrahman Al-Nashir (Abdurrahman III) bersamaan dengan meninggalnya khalifah Al-Muqtadir di Baghdad. Abdurrahman III memproklamirkan dirinya sebagai khalifah Umayyah dan Amir Al-Mu’minin. Ia menggunakan gelar Al-Nashir dibelakang namanya, mengikuti dua khalifah pendahulunya.
Ketika itu, Andalusia belum stabil. Perselisihan itu terjadi antara suku Bradar dengan suku Arab. Didalam suku arab sendiri juga terjadi perselisihan yaitu antara suku Qaisy dan suku Yamani perselisihan itu membuat masyarakat dari kehidupan polotik belum stabil. Hal ini juga ditambah dengan gangguan dari golongan Kristen yang terus berlangsung.
Al-Mustanshir menggantikan ayahnya Al-Nashir setelah meninggal. Setelah Al-Mustanshir meninggal, selanjutnya diangkatlah putranya yang bernama Hisyam II yang berusia 10 tahun menjadi khalifah dengan gelar Al-Muayyad. Muhammad ibn Abi Amir Al-Qahthani yang diangkat sebagai Hakim Agung dimasa akhir kekhalifahan Al-Mustanshir mengambil alih seluruh kekuasaan dan menempatkan khalifah dibawah pengaruhnya . ia memakai gelar Al-Malik Al-Manshur Billah atau Hajib Al-Manshur yang memegang jabatan tahun 976-1003 M. Selanjutnya ia menyingkirkan beberapa petinggi dan pemuka Umayyah yang berpengaruh. Ia juga membentuk polisi rahasia dan membubarkan tentara khalifah . kemudian ia digantikan oleh Abd Al-Malik ibn Muhammad dengan gelar Al-Malik Al-Mudhaffar. Dinasti Umayyah mengalami kemerosotan setelah Al-Mudhaffar diganti oleh Abd Al-Rahman ibn Muhammad yang bergelar Al-Malik Al-Nashir lidnillah.[3]


Sumber: https://voi.co.id/jasa-penulis-artikel/

contoh doktrin aliran asy’ariyah

Sekte-Sekte Murji’ah

Kemunculan sekte-sekte dalam kelompok Murji’ah tampaknya dipicu oleh perbedaan pendapat dikalangan para pendukung Murji’ah. Harun Nasution secara garis besar mengklasifikasikan murji’ah menjadi dua sekte, yaitu golongan moderat dan golongan ekstrim. Murji’ah moderat berpendirian bahwa pendosa besar tetap mukmin, tidak kafir, tidak pula kekal di dalam neraka. Mereka di siksa sebesar dosanya, dan bila di ampuni oleh Allah sehingga tidak masuk neraka sama sekali.
Harun nasution menyebutkan bahwa sekte murji’ah yang ekstrim adalah yang berpandangan bahwa keimanan terletak didalam kalbu. Adapun ucapan dan perbuatan tidak selamanya menggambarkan apa yang ada didalam kalbu. Oleh karena itu, segala ucapan dan perbuatan seseorang yang menyimpang dari kaidah agama tidak berarti menggeser atau merusak keimanannya, bahkan keimanannya masih sempurna dalam pandangan Tuhan.
Adapun yang bergolongan ekstrim adalah Al-jahmiyah, Ash- Shalihiyah, Al- Yunusiyah, Al-Ubaidiyah, dan Hasaniyah.

Pandangan kelompok ini dapat di jelaskan seperti berikut ;

a. Jahmiyah, kelompok jahm bin shafwan dan para pengikutnya, berpandangan bahwa orang yang percaya kepada Tuhan kemudian menyatakan kekufurannya secara lisan, tidaklah menjadi kafir karena iman dan kufur itu bertempat di dalam hati bukan pada bagian lain dalam tubuh manusia.
b. Shalihiyah, kelompok Abu Hasan Ash-Shalihi, berpendapat bahwa iman adalah mengetahui Tuhan, sedangkan kufur adalah tidak tahu Tuhan. Shalat bukan merupakan ibadah kepada Allah. Yang disebut ibadah adalah iman kepada-Nya dalam arti mengetahui Tuhan. Begitu pula zakat, puasa, dan haji bukanlah ibadah, melainkan sekedar menggambarkan kepatuhan.
c. Yunusiyah dan Ubaidiyah melontarkan pertanyaan bahwa melakukan maksiat atau perbuatan jahat tidaklah merusak iman seseorang. Mati dalam iman, dosa-dosa dan perbuatan-perbuatan jahat yang dikerjakan tidaklah merugikan orang yang bersangkutan. Dalam hal ini, muqatil bin sulaiman berpendapat bahwa perbuatan jahat, banyak atau sedikit, tidak merusak iman seseorang sebagai musyrik (polytheist).
d. Hasaniyah menyebutkan bahwa jika seorang mengatakan, “ saya tahu Tuhan melarang makan babi, tetapi saya tidak tahu apakah babi yang diharamkan itu adalah kambing ini, “ maka orang tersebut tetap mukmin, bukan kafir. Begitu pula orang yang mengatakan “ saya tahu Tuhan mewajibkan naik haji ke ka’bah, tetapi saya tidak tahu apakah ka’bah di india atau di tempat lain.[1]


Sumber: https://pendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/

materi pancasila sebagai etika

PANCASILA SEBAGAI ETIKA POLITIK

1. Pengertian Etika

Sebagai suatu usaha ilmiah, filsafat dibagi menjadi beberapa cabang menurut lingkungan bahasanya masing-masing. Cabang-cabang itu dibagi menjadi dua kelompok bahasan pokok yaitu filsafat teoritis dan filsafat praktis. Kelompok pertama mempertanyakan segala sesuatu yang ada, sedangkan kelompok dua membahasbagaimana manusia bersikap terhadap apa yang ada tersebut. Jadi filsafat teoritis mempertanyakan dan berusaha mencari jawaban tentang segala sesuatu, misalnya hakikat manusia, alam, hakikat realitas sebagai suatu keseluruhan, tentang pengetahuan, dan lain sebagainya.dalam hal ini filsafat teoritis mempunyai maksud yang berkaitan erat dengan hal-hal yang bersifat praktis, karena pemahaman yang dicari menggerakan kehidupannya. Etika termasuk kelompok filsafat praktis dan dibagi menjadi dua kelompok yaitu etika umum dan etika khusus. Etika merupakan suatu pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral. Etika adalah suatu ilmu yang membahas tentang bagaimana dan mengapa kita mengikuti suatu ajaran moral tertentu, atau bagaimana kita harus mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan berbagai ajaran moral (Suseno, 1987). Etika umum mempertanyakan prinsip-prinsip yang berlaku bagi setiap tindakan manusia. Sedangkan etika khusus membahas prinsip-prinsip itu dalam hubungannya dengan berbagai aspek kehidupan manusia (Suseno, 1987). Etika khusus sendiri dibagi lagi menjadi dua, yakni etika individual dan etika sosial. Etika individual yaitu membahas kewajiban manusia terhadap diri sendiri, juga suara hati terhadap Tuhannya. Sedangkan etika sosial yakni membahas tentang kewajiban manusia terhadap manusia lain dalam kehidupan bermasyarakat yang merupakan suatu bagian terbesar dari etika khusus.
Etika berkaitan dengan masalah nilai karena etika pada pokoknya membicarakan masalah-masalah yang berkaitan dengan predikat nilai “susila” dan “tidak susila”, “baik” dan “buruk”. Sebagai bahasan khusus, etika membicarakan sifat-sifat yang menyebabkan orang dapat disebut susila atau bijak.
Kualitas-kualitas ini dinamakan kebijakan yang diwakilkan dengan kejahatan yang berarti sifat-sifat yang menunjukkan bahwa orang yang memilikinya dikatakan orang yang tidak bersusila. Sebenarnya etika lebih banyak bersangkutan dengan prinsip-prinsip dasar pembenaran dalam hubungan dengan tingkah laku manusia (Kattsoff, 1986). Dapat juga dikatakan bahwa etika berkaitan dengan dasar-dasar filosofis dalam hubungan dengan tingkah laku manusia.

RECENT POSTS

ideologi pembangunan

Klasifikasi Pancasila Sebagai Ideologi Nasional

Pancasila sebagai ideologi nasional dapat diklasifikasikan melalui :

1. Dilihat dari kandungan muatan suatu ideologi, setiap ideologi mengandung di dalamnya sistem nilai yang diyakini sebagai sesuatu yang baik dan benar. Nilai-nilai itu akan merupakan cita-cita yang memberi arah terhadap perjuangan bangsa dan negara.
2. Sistem nilai kepercayaan itu tumbuh dan dibentuk oleh interaksinya dengan berbagai pandangan dan aliran yang berlingkup mondial dan menjadi kesepakatan bersama dari suatu bangsa.
3. Sistem nilai itu teruji melalui perkembangan sejarah secara terus-menerus dan menumbuhkan konsensus dasar yang tercermin dalam kesepakatan para pendiri negara (the fouding father).
4. Sistem nilai itu memiliki elemen psikologis yang tumbuh dan dibentuk melalui pengalaman bersama dalam suatu perjalanan sejarah bersama, sehingga memberi kekuatan motivasional untuk tunduk pada cita-cita bersama.
5. Sistem nilai itu telah memperoleh kekuatan konstitusional sebagai dasar negara dan sekaligus menjadi cita-cita luhur bangsa dan negara.[2]
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pancasila ideologi nasional dipahami dalam perspektif kebudayaan bangsa dan bukan dalam perpektif kekuasaan, sehingga bukan sebagai alat kekuasaan. Pancasila selaku Ideologi Nasional, Pancasila Memiliki Beberapa Dimensi :
a. Dimensi idealistis, yaitu nilai-nilai dasar yang terkandung dalam pancasila yang bersifat sistematis dan rasional yaitu hakikat nilai-nilai yang terkandung dalam 5 sila pancasila: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan, maka dimensi idealistis pancasila bersumber pada nilai nilai filosofis yaitu filsafat pancasila.
b. Dimensi normatif, yaitu nila- nilai yang terkandung dalam pancasila perlu dijabarkan dalam suatu sistem norma, sebagaimana terkandung dalam pembukaan UUD 1945 yang memiliki kedudukan tertinggi dalam tertib hukum indonesia.
c. Dimensi realistis, yaitu suatu harus mampu mencerminkan realita yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. Oleh karena itu pancasila selain memiliki dimensi nilai nilai normatif, maka pancasila harus dijabarkan dalam kehidupan nyata sehari hari dalam kaitannya bermasyarakat maupun dalam aspek penyelenggaraan negara.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

Ideologi adalah pengetahuan tentang gagasan – gagasan, pengetahuan tentang ide – ide, sceince of ideas atau ajaran tentang pengertian – pengertian dasar. Ideologi secara fungsional merupakan seperangkat gagasan tentang kebaikan bersama atau tentang masyarakat dan negara yang dianggap paling baik. Pancasila sebagai ideologi terbuka bermaksud bahwa keterbukaan ideologi pancasila bukan berarti mengubah nilai-nilai dasar pancasila tetapi mengeksplisitkan wawasannya secara kongkrit , sehingga memiliki kemampuan yang lebih tajam untuk memecahkan masalah-masalah baru dan aktual.


Sumber: https://www.dosenpendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/

implementasi pancasila sebagai ideologi nasional

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NASIONAL

Pengertian Ideologi

Ideologi berasal dari kata ‘idea’ yang berarti gagasan, konsep, pengertian dasar dan cita-cita. Sedangkan ‘logos’ berarti ilmu, maka secara harfiah pengertian ideologi adalah ilmu pengetahuan tentang ide-ide, atau ajaran tentang pengertian dasar. Dalam pengertian sehari-hari ‘idea’ berarti cita-cita. Cita-cita yang dimaksud adalah cita-cita yang bersifat tetap, yang harus dicapai, sehingga cita-cita yang bersifat tetap itu sekaligus merupakan dasar, pandangan atau faham. Memang pada hakikatnya antara dasar dan cita-cita itu sebenarnya dapat merupakan satu kesatuan. Dasar ditetapkan karena ada cita-cita yang mau dicapai. Sebaliknya, cita-cita ditetapkan berdasarkan atas suatu landasan, asas atau dasar yang telah ditetapkan pula. Dengan demikian ideologi mencakup pengertian tentang ide-ide, pengertian dasar, gagasan-gagasan, dan cita-cita. Jadi ‘ ideologi’ secara umum dapat dikatakan sebagai kumpulan gagasan-gagasan, ide-ide, keyakinan-keyakinan, kepercayaan-kepercayaan yang menyeluruh dan sisitematis, yang menyangkut dan mengatur tingkah laku sekelompok manusia tertentu dalam berbagai bidang kehidupan.
a. Bidang politik
b. Bidang sosial
c. Bidang Kebudayaan
d. Bidang keagamaan
Masalah ideologi negara dalam arti cita-cita negara atau cita-cita yang menjadi basis bagi suatu teori atau sistem kenegeraan untuk seluruh rakyat dan bangsa yang bersangkutan pada hakikiatnya merupakan asas kerohanian yang antara lain memiliki ciri sebagai berikut:
a. mempunyai derajat yang tinggi sebagai nilai hidup kebangsaan dan kenegaraan
b. Oleh karena itu mewujudakan suatu asas kerohanian, padangan dunia, pandangan hidup, pedoman hidup, pegangan hidup yang dipelihara, dikembangkan, diamalkan, dilestarikan kepada generasi berikutnya, diperjuangakan dan di pertahankan dengan kesediaan berkorban

B. Asal Mula Pancasila
Pancasila sebagai dasar filsafat serta ideology bangsa dan negara Indonesia bukan terbentuk secara mendadak, namun melalui proses yang cukup panjang dalam sejarah bangsa Indonesia. Secara kausalitas Pancasila sebelum disyahkan menjadi dasar filsafat negara dan berasal dari bangsa Indonesia sendiri, yang berupa adapt istiadat, religius dan kebudayaan. Kemudian para pendiri negara secara musyawarah, anatara lain sidang BPUPKI pertama, Piagam Jakarta. Kemudian BPUPKI kedua, setelah kemerdekaan sebelum sidang PPKI sebagai dasar filsafat negara RI. Asal mula Pancasila dibedakan menjadi 2 macam, yaitu asal mula yang langsung dan tidak langsung.
1) Asal Mula Langsung
Asal mula yang langsung terjadinya Pancasila sebagai dasar filsafat negara, yaitu asal mula yang sesudah dan menjelang Proklamasi kemerdekaan. Rincian asal mula langsung Pancasila menurut notonagoro, yaitu :
a. Asal Mula Bahan (Kausa Materialis)
Nilai-nilai yang merupakan unsur-unsur Pancasila digali dari Bangsa Indonesia yang berupa adat-istiadat, religius. Dengan demikian pada bangsa Indonesia sendiri yang terdapat dalam kepribadiandan pandangan hidup.
b. Asal Mula Bentuk (Kausa Formalis)
Bentuk Pancasila dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945. Asal mulanya adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta serta anggota BPUPKI.
c. Asal Mula Karya (Kausa Efisien)
Asal mula dengan menjadikan Pancasila dari calon dasar negara menjadi dasar negara yang sah.
d. Asal Mula Tujuan (Kausa Finalis)
Tujuannya : untuk dijadikan sebagai dasar negara. Para anggota BPUPKI dan Soekarno – Hatta yang menentukan tujuan dirumuskannya Pancasila sebelum ditetapkan oleh PPKI.
2) Asal Mula Tidak Langsung
Adalah asal mula yang terdapat pada kepribadian serta dalam pandangan sehari-hari bangsa Indonesia perincian asal mula tidak langsung :
1. Unsur-unsur Pancasila tersebut sebelum secara langsung dirumuskan menjadi dasar filsafat negara. Nilai-nilainya yaitu Ketuhanan, Kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan.
2. Nilai-nilai tersebut terkandung dalam pandangan hidup masyarakat Indonesia sebelum membentuk negara. Nilai-nilainya yaitu adat istiadat, kebudayaan dan religius. Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman memecahkan problema.
3. Asal mula tidak langsung Pancasila pada hakikatnya bangsa Indonesia sendiri (Kausa Materealis).[1]


Sumber: https://www.gurupendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/

sejarah eropa modern

sejarah eropa modern

 

Latar Belakang Renaisans

Zaman pertengahan merupakan zaman kegelapan dimana pengaruh keagaaman sangat terasa. Gereja mengatur selurus aspek kehidupan masyarakat dari kreativitas sampai pemerintahan. Raja sendiri seolah tidak memiliki kekuasaan, karena gerejalah yang sebenarnya mengatur pemerintahan, ini dikarenakan semua kepentingan haruslah demi kepentingan gereja, jika tidak gereja akan memberikan hukuman yang kejam. Pemikiran manusia pada zaman ini mendapat doktrinasi dari gereja sehingga segala tujuan selalu dikaitkan dengan tujuan akhir yakni takdir manusia telah ditentukan oleh Tuhan.
Renaisans muncul dari timbulnya kota-kota dagang yang makmur akibat perdagangan. Mereka membebaskan diri menjadi masyarakat yang bebas, termasuk melepaskan diri dari ikatan agama sehingga fokus dalam hal kemajuan. Dukungan dari keluarga saudagar kaya memberikan semangat Renaisans sehingga menyebar ke seluruh Italia dan Eropa.
Zaman Renaisans terjadi pada abad ke-14 M sampai abad ke-17 M, dimulai dari Italia kemudian menyebar ke seluruh Eropa di akhir abad pertengahan. Renaisans merupakan kelahiran kembali dari budaya Yunani dan Romawi kuno, masyarakat Italia percaya bahwa zaman Renaisans merupakan kembalinya sumber pengetahuan dan standar dari keindahan maupun tata krama yang telah dibentuk oleh masyarakat Yunani dan Romawi Kuno.[1]
Sedangkan istilah Renaisans pertama kali disebut oleh Vasari, kemudian Michelet. Pada 1860 M Jacob Burckhardt kembali memperkenalkan istilah tersebut dalam karyanya: Die cultuur der Renaissance in Italien. Sejak tahun 1860 M itulah istilah Renaisans populer digunakan.
Pusat dan awal dari Renaisans Eropa terletak di Florence, Italia pada abad 14 M. Ini dikarenakan faktor kekhasan sosial dan kemasyarakatan Florence pada struktur politik, perlindungan keluarga bangsawan, serta keluarga Medici yang memberikan perlindungan kepada segolongan sarjana Yunani yang akhirnya mengabdikan diri ke keluarga tersebut.[2] Florence juga merupakan kota yang strategis dan pusat industri wol terbaik di Italia, sehingga Florencia menjadi pusat perdagangan dan kota pertemuan dagang yang kaya raya.
Dengan jatuhnya Konstatinopel di tahun 1453 M menghasilkan gelombang imigran yang membawa naskah dari Yunani Kuno, yang kemudian menjadikan fokus baru untuk mempelajari karya-karya Yunani, filsafat, serta matematika. Selain itu, selama abad ke 14 M, masyarakat Italia umumnya menghabiskan sebagain besar uangnya untuk mendukung seni. Sehingga banyak yang mengatakan bahwa Renaisans menjadi tempat mencari karya seni yang akan membantu talenta-talenta seni mengubah sejarah Barat dari zaman pertengahan ke zaman baru.[3]
Wabah hitam juga menjadi latar belakang secara tidak langsung terjadinya Renaisans. Wabah hitam yang terjadi pada tahun 1348 M menhancurkan hampir separuh populasi Italia, dan megakibatkan resesi ekonomi. Mereka yang akhirnya selamat dari wabah ini menjadi lebih kaya dari sebelumnya, serta bertindak sebagai pendorong untuk menjalani kehidupan yang mewah.[4] Masyarakat meningkatkan mobilitas sosial mereka, terutama di Florence, dimana rakyat ingin merekam status sosial dan politik masing-masing. Seni rumah, harta benda, dan pakaian adalah cara memeragakan status dan menyumbang kembali kebangkitan budaya.

RECENT POSTS

kelebihan kerajaan kalingga

kelebihan kerajaan kalingga

 

Adapun keadaan kerajaan di keling dalam jaman itu yang dikabarkan oleh orang Tiong Hoa ialah bahwa kota dikelilingi dengan pagar kayu ; rajanya beristana dirumah yang bertingkat, yang ditutup dengan atap;tempat duduk sang raja adalah Peterana gading. Orang-orangnya sudah pandai tulis-menulis dan mengenal ilmu perbintangan yang sangat tampak bagi orang tiong hoa adalah orang kaling (jawa) makan tidak makan dengan sendok atau cukit melainkan jarinya saja. Minuman kerasnya yang dibuat adalah air yang disadap dari tandan bunga kelapa (Toak). Dikatakan pula, bahwa tahun 640 atau 648 Masehi kerajaan jawa mengirimkan utusan ke negeri tiong hoa begitu pula dalam tahun 666. sesudah utusan jawa ke negeri tiongkok yang kedua kalinya itu dikatakan bahwa tanah jawa diperintah oleh raja perempuan yakni dalam tahun 674-675 Masehi. Adapun raja perempuan itu Si-Mo, dan memegang pemerintahan negerinya dengan keras.

D. Keadaan Ekonomi dan Agama

1. Matapencaharian
Kerajaan Ho-ling mempunyai hasil bumiberupa kulit penyu, emas dan perak, cula badak dan gading. Ada sebuah gua yang selalu mengeluarkan air garam yang disebut sebagai bledug. Penduduk menghasilkan garam dengan memanfaatkan sumber air garam yang disebut sebagai bledug tersebut.
2. Keagamaan
Salah satu sumber yang berbicara tentang keagamaan Kerajaan Ho-ling adalah sumber Cina yang berasal dari catatan perjalanan I-tsing, seorang pendeta agama Budha dari Cina dan kronik Dinasti Sung. Dikatakan bahwa pada 664-667 M, pendeta Budha Cina bernama Hwu-ning dengan pembantunya Yun-ki datang ke Ho-ling.
Di sana kedua pendeta tersebut bersama-sama dengan Joh-na po-t’o-lo menerjemahkan Kitab Budha bagian Nirwana. Terjemahan inilah yang dibawa pulang ke Cina. Menurut I-tsing, Kitab suci Budha yang diterjemahkan tersebut sangat berbeda dengan kitab Suci Budha Mahayana. Menurut catatan Dinasti Sung yang memerintah setelah Dinasti T’ang, terbukti bahwa terjemahan yang diterjemahkan Hwu-Ning dengan Yun-ki bersama dengan Njnanabhdra itu adalah kitab Nirwana bagian akhir yang menceritakan tentang pembakaran jenazah sang Budha, dengan sisa tulang yang tidak habis terbakar dikumpulkan untuk dijadikan relik suci.
Dengan demikian jelas bahwa Ho-ling tidak menganut agama Budha aliran Mahayana, tetapi menganut agama Budha Hinayana aliran Mulasarastiwada. Kronik Dinasti Sung juga menyebutkan bahwa yang memimpin dan mentahbiskan Yun-ki menjadi pendeta Budha adalah Njnanabhadra.
3. Hubungan Dengan Negeri Luar
Pada masa Chen-kuang (627-649 M) raja Ho-ling bersama dengan raja To-ho-lo To-p’o-teng, menyerahkan upeti ke Cina. Kaisar Cina mengirimkan balasan yang dengan dibubuhi cap kerajaan dan raja To-ho-lo meminta kuda-kuda yang terbaik dan dikabulkan oleh kaisar Cina. Kemudian Kerajaan Ho-ling mengirimkan utusan (upeti lagi) pada 666 M, 767 M dan 768 M. Utusan yang datang pada 813 M (atau 815 M) datang dengan mempersembahkan empat budak sheng-chih (jenggi), burung kakatua, dan burung p’in-chiat (?) dan benda-benda lainnya. Kaisar amat berkenan hatinya sehingga memberikan gelar kehormatan kepada utusan tersebut. Utusan itu mohon supaya gelar tersebut diberikan saja kepada adiknya. Kaisar amat terkesan dengan sikap itu dan memberikan gelar kehormatan kepada keduanya. Sampai dengan tahun 813 M, Ho-ling masih mengirim utusan ke negeri Cina dengan membawa “hadiah” berupa empat orang budak Sen-ki, burung kakatua, dan sejumlah jenis burung lainnya.


Sumber: https://belantaraindonesia.org/

mata pencaharian kerajaan kalingga

mata pencaharian kerajaan kalingga

 

A. Latar Belakang Berdirinya

Kalingga atau Ho-ling (sebutan dari sumber Tiongkok) adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang muncul di Jawa Tengah sekitar abad ke-6 masehi. Letak pusat kerajaan ini belumlah jelas, kemungkinan berada di suatu tempat antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Jepara sekarang. Sumber sejarah kerajaan ini masih belum jelas dan kabur, kebanyakan diperoleh dari sumber catatan China, tradisi kisah setempat, dan naskah Carita Parahyangan yang disusun berabad-abad kemudian pada abad ke-16 menyinggung secara singkat mengenai Ratu Shima dan kaitannya dengan Kerajaan Galuh. Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi dan keberadaannya diketahui dari sumber-sumber Tiongkok.

B. Letak Kerajaan Kalingga
Keterangan geografi tentang letak ho-ling ditunjukkan dengan beberapa keterangan :
1. Sejarah lama Dinasti Tang
2. Sejarah baru Dinasti Tang
3. Karya I-tsing a Record and Memoire
1) Yun-Ki
Yun-Ki, pendeta kelahiran chiao-chih (TongKin) tinggal 10 tahun di ho-ling, dilaut selatan. Ia menjadi murid jnanabhadra, belajar K’un-lun dan bahasa Sansekerta. Ketika I-tsing menulis bukunya memoire, Yun-k’i tinggal di shih-li-fo-shih.
2) Ch’ang-Min
Ch’ang-Min, menumpang perahu yang panjangnya 200 kaki dan dapat mengangkut penumpang sebanyak 600 sampai 700 orang, menuju Ho-ling. Dari sana dia berlayar ke Melayu dalam perjalanan ke India. Tetapi perahunya karam tidak jauh dari tempat pangkalnya bertolak, karena terlalu berat muatannya. Ch’ang-Min meninggal.
3) Ming-Yuen
Ming-yuen, berangkat dari chiao-chih (Tongkin); perahunya dihantam ombak sampai di Ho-ling.
4) Tan-Yuen
Tan-yuen, berangkat ke chiao-chih melalui daratan. Ketika musim angin baik tiba, ia menumpang perahu ke arah selatan dengan harapan akan sampai di India. Dia meninggal sesampainya di P’u-pen di sebelah utara Ho-ling.
5) Fa-Lang
Fa-lang, berlayar dari pan-jong;pada akhir bulan dia sampai di fo-shih (Sriwijaya);sesudah beberapa lama tinggal disana, dia berangkat ke Ho-ling. Disana dia meninggal.
6) Tao-Lin
Tao-lin, melakukan perjalanan jauh berlayar menuju laut selatan. Dia sampai di lhan-chia, Ho-ling dan Lo-jeng-kuo. Di tiap negeri yang disinggahi, dia diterima oleh raja dan diperlakukan dengan baik. Sesudah beberapa tahun ia sampai di tan-mo-lo-ti (Tamralipti). Disana dia tinggal 3 tahun untuk belajar bahasa sansekerta.
7) Pendeta Hui-Ning
Pendeta Hui-Ning, berangkat ke Ho-ling pada tahun 665. di sana dia bekerja sama dengan pendeta setempat joh-na-po-to-lo (Jnanabhadra) untuk menterjemahkan bagian terakhir nirwana sutra tentang pembakaran jenazah budha dan pengumpulan peninggalan-penginggalannya. Setelah selesai, Hui-ning mengutus Yun-k’i membawa pulang ke negeri Cina hasil kerjanya. Sekembalinya Yun-k’i ke Ho-ling lagi, Hui-ning sudah tidak ada lagi disitu. Yun-k’i lalu berlayar ke Sriwijaya.


Sumber: https://robinschone.com/

tujuan rasulullah diutus ke bumi

Misi, Tujuan dan Tugas Kerasulan Nabi

1. Mengajarkan Ketauhidan.

Rasulullah Saw mengajarkan untuk mengesakan Allah Swt dan memberantas kemusyrikan yang dilakukan oleh masyarakat Mekkah pada saat itu. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum engkau (Muhammad) melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya : 25)

2. Menyempurnakan Akhlak.
Akhlak Nabi Muhammad Saw. merupakan acuan yang tidak ada bandingannya. Bukan hanya dipuji oleh manusia, tetapi juga oleh Allah Swt. Hal ini dapat dilihat dalam firman-Nya: وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيم
Artinya: “Dan sesunguhnya kamu ( Muhammad ) benar-benar berbudi pekerti yang agung.“ (QS. Al-Qalam: 4 )
Ketika Aisyah binti Abu Bakar (istri Nabi Muhammad) ditanya tentang akhlak Nabi Muhammad saw., ia menjawab : “Akhlaknya adalah Al-Qur’an “. (HR. Ahmad dan Muslim)

Nabi Muhammad Saw. bersabda: Artinya: Diriwayatkan dari Abi Hurairah, Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad)
Hadits di atas mengisyaratkan bahwa akhlak merupakan ajaran yang diterima Rasulullah Saw dengan tujuan untuk memperbaiki kondisi umat yang pada saat itu dalam kejahiliyahan. Pada saat itu, manusia mengagungkan hawa nafsu dan sekaligus menjadi hamba hawa nafsu. Ajaran akhlak yang dibawa Nabi Muhammad Saw tersebut terangkum dalam sebuah hadits yang artinya:
“Hai Muhammad, beritahu padaku tentang iman, iman yaitu engkau percaya kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, dan hari kebangkitan. Kemudian, Jibril bertanya lagi, hai Muhammad apa yang dimaksud dengan Islam? Islam, yaitu engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selainAllah dan Muhammad adalah utusan-Nya,mendirikan salat,menunaikan zakat, puasa di bulan Ramadan, dan menunaikan haji ke Baitullah bila mampu. Kemudian, Jibril bertanya lagi, “Hai Rasulullah apa yang dimaksud dengan ihsan? Ihsan, yaitu engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatnya. Apabila engkau tidak melihatnya, maka Dia pasti melihatmu.” (HR. Muslim)
Hadits di atas menjelaskan bahwa ajaran akhlak yang dibawa Nabi Muhammad berupa tiga hal, yaitu: iman, Islam, dan ihsan. Ketiganya merupakan proses yang kontinu yang hendaknya dilakukan seorang Muslim. Ini semua tidak hanya merupakan kewajiban bagi seorang Muslim, tetapi juga merupakan pendidikan yang dilakukan seumur hidup guna membentuk akhlak yang baik terhadap Allah swt. dan sesama makhluk. Berdasarkan hadits tersebut, kita dapat mengetahui bahwa tujuan berakhlak itu supaya hubungan kita dengan Allah dan makhluk selalu terpelihara dengan baik dan harmonis.

RECENT POSTS