Perekonomian Indonesia Saat Ini

Perekonomian Indonesia Saat IniPerekonomian Indonesia Saat Ini

Di lihat dari sedikit perekonomian makro dibidang perbankan ini dapat kita rasakan pertumbuhan ekonomi itu meningkat.Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang triwulan I-2011 masih akan tumbuh tinggi, yakni di kisaran 6,4 persen. Sehingga, sepanjang tahun ini, perekonomian Indonesia diproyeksikan tumbuh di kisaran 6-6,5 persen. Ekonomi indonesia saat ini optimis pertumbuhan ekonomi yang meningkat.dengan pertumbuhan dan pendapatan nasional yang semakin meningkat kita dapat melihat perkembangan dan kemajuan kita pada negara lain. dengan pendapatan nasional per tahun indonesia mampu memberikan kemajuan.

  1. Perkembangan Sistem Ekonomi Sebelum Orde Baru

Sejak negara republik Indonesia berdiri sudah banyak tokoh-tokoh negara yang telah merumuskan perekonomian yang tepat bagi bangsa Indonesia, baik secra individu maupun melalui diskusi kelompok. Dinegara Amerika tahun 1949 menegaskan bahwa yang dicita-citakan adalah ekonomi semacam campuran tetapi telah disepakati suatu bentuk ekonomi baru yang dinamakan sebagai sistem ekonomi pancasila yang didalamnya mengandung unsur penting yang disebut demokrasi ekonomi. Demokrasi ekonomi dipilih, karena memiliki ciri-ciri yang positif diantaranya adalah :

 

 

 Sistem Perekonomian

 Sistem Perekonomian Sistem Perekonomian

Sistem perekonomian adalah sistem yang digunakan oleh suatu negara untuk mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya baik kepada individu maupun organisasi di negara tersebut. Perbedaan mendasar antara sebuah sistem ekonomi dengan sistem ekonomi lainnya adalah bagaimana cara sistem itu mengatur faktor produksinya. Dalam beberapa sistem, seorang individu boleh memiliki semua faktor produksi. Sementara dalam sistem lainnya, semua faktor tersebut di pegang oleh pemerintah. Kebanyakan sistem ekonomi di dunia berada di antara dua sistem ekstrem tersebut.

  1. Perekonomian Terencana

Ada dua bentuk utama perekonomian terencana, yaitu komunisme dan sosialisme. Sebagai wujud pemikiran Karl Marx, komunisme adalah sistem yang mengharuskan pemerintah memiliki dan menggunakan seluruh faktor produksi. Namun, lanjutnya, kepemilikan pemerintah atas faktor-faktor produksi tersebut hanyalah sementara; Ketika perekonomian masyarakat dianggap telah matang, pemerintah harus memberikan hak atas faktor-faktor produksi itu kepada para buruh. Uni Soviet. dan banyak negara Eropa Timur lainnya menggunakan sistem ekonomi ini hingga akhir abad ke-20.

Sumber :

https://menitpertama.id/

struktur dalam Perseroan Terbatas

struktur dalam Perseroan Terbatasstruktur dalam Perseroan Terbatas

Sebagai badan hukum maka dalam melaksanakan kepengurusan Perseroan Terbatas mempunyai organ, yang terdiri Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Direksi (Pengurus), dan Komisaris, sebagaimana disebutkan dalam pasal 1 (2) UUPT.

Dibandingkan

dengan ketentuan dalam KUHD terdapat perbedaan khususnya yang ber­kaitan dengan pengurus, sebagaimana dijelaskan dalam pasal 44 KUHD bahwa Perseroan diurus oleh pengurus, dengan atau tidak dengan komisaris atau pengawas. Dari ketentuan tersebut menurut KUHD, Komisaris/pengawas bukan merupakan suatu keharusan, hal ini dapat dilihat dari kalimat dengan atau tidak dengan komisaris, yang mengandung makna tidak harus.

Sedangkan menurut UUPT komisaris merupakan salah satu organ perseroan yang harus ada, bahkan di dalam ketentuan selanjut­nya bagi Perseroan yang bidang usahanya mengerahkan dana masyarakat, menerbitkan surat pengakuan utang atau Perseroan Terbuka wajib mempunyai paling sedikit 2 (dua) orang Pengurus dan 2 (dua) orang Komisaris. Masing-masing organ PT tersebut mempunyai tugas dan kewenangan sendiri-sendiri, yaitu :

 

Sumber :

https://mitranet.co.id/

Spesifikasi enzim

Spesifikasi enzim

            Tempat katalitik dari suatu enzim adalah bagian dari tempat pengikatan . Enzim, seperti antibodi sering bersifat sangat khusus dalam mengikat senyawa tertentu, karena gugusan asam amino pada tempat pengikatan hanya cocok untuk senyawa tertentu saja. Dengan istilah teknis dapat dikatakan bahwa suatu enzim dapat menunjukkan kekhususan yang tinggi terhadap substratnya. Dengan kata lain, konsep kekhususan mengandung makna bahwa satu enzim hanya dapat mengkatalis reaksi dari  substrat tertentu saja.

            Kekhususan tiap enzim merupaka

n segi penting dari pengendalian biolgis karena perubahan dalam aktivitas enzim tertentu hanya mempengaruhi senyawa tertentu, tanpa memberi akibat apapun terhadap senyawa yang lain. Ada segi kekhususan terhadap kemampuan katalitik itu sendiri. Kemampuan enzim untuk hanya menggunakan beberapa senyawa sebagai substrat (kekhususan yang tinggi), mengandung arti bahwa tempat pengikatan dapat membentuk tatanan geometrik tertentu , sehingga jumlah rantai samping dalam molekul enzim dapat mennimbulkan gaya yang jauh lebih kuat pada substrat yang cocok bila dibanding dengan gaya yang dapat ditimbulkan pada senyawa lain. Keberadaan gaya yang kuat ini adalah faktor yang sangat penting untuk mempermudah perubahan bentuk substrat sehingga ikatan molekul pada satu substrat dapat terputus dan kemudian membentuk ikatan baru. Enzim berbeda dengan antibodi karena ikatan yang erat dapat mengub

RECENT POSTS

Pengertian Al-Wara

Pengertian Al-WaraPengertian Al-Wara

Secara lughawi wara’ artinya hati-hati. Secara istilah wara’ adalah sikap menahan diri agar hatimu tidak menyimpangkap sekejap pun dari mengingat Allah. Sufi yang lain mengemukakan bahwa wara’ adalah seorang hamba tidak berbicara melainkan dalam kebenaran, baik dalam keadaan rida maupun dalam keadaan marah.[1]

Definisi wara’ menurut Sufi, adalah bahwa : “Kamu menahan diri agar hatimu tidak menyimpang dalam sekejappun dari mengingat Allah. Jadi, wara’ itu permulaannya zuhud, keberadaannya wara’ karena ada rasa takut akan Allah, takut terjadi karena makrifat kepada Allah, makrifat sendiri terjadi karena dekat dengan Allah SWT (taqarrub).

Dalam tradisi sufi yang dimaksud dengan wara’ adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak jelas atau jelas hukumnya (subhat).[2] Hal ini berlaku pada segala hal atau aktifitas kehidupan manusia, baik yang berupa benda maupun perilaku seperti makanan, minuman, pakaian, pembicaraan, perjalanan, duduk, berdiri, bersantai bekerja dan lain-lain. Disamping meninggalkan segala sesuatu yang belum jelas hukumnya, dalam tradisi sufi wara’ juga berarti meninggalkan segala sesuatu yang berlebihan, baik berwujud benda maupun perilaku. Lebih dari itu meningglkan segala segala sesuatu yang tidak bermanfaat, atau tidak jelas manfaatnya.

Adapun yang menjadi dasar ajaran wara’ adalah nabi Muhammad SAW artinya: “Sebagian dari kebaikan tindakan keislaman seseorang adalah bahwa ia menjauihi sesuatu yang tidak berarti.” Juga hadits lain yang artinya: “: Bersikaplah wara’ dan kamu akan menjadi orang yang paling taat beribadah”

  1. Tingkatan Wara’

Wara’ ada empat tingkatan, yaitu:

  1. Wara’ orang ‘awam

yakni wara’ orang kebanyakan yaitu menahan diri dari melakukan hal-hal yang dilarang Allah SWT.

  1. Wara’ orang saleh

Menahan diri dari menyentuh atau memakan sesuatu yang mungkin akan jatuh kepada haram, misalnya memakan sesuatu yang tidak jelas hukumnya (subhat)

  1. Wara’ muttaqin

Menahan diri dari sesuatu yang tidak diharamkan dan tidak syubhat karena takut jatuh kepada yang haram.

Nabi bersabda, yang artinya:

“seorang hamba tidak akan mencapai derajat muttaqin sehingga dia meninggalkan apa yang tidak berdosa karena takut akan apa yang dapat menimbulkan dosa” (HR. Ibn Majah)

  1. Wara’ orang benar

Wara’ orang benar ialah menahan diri dari apa yang tidak berdosa sama sekali dan tidak khawatir jatuh kedalam dosa, tapi dia menahan diri melakukannya karena takut tidak ada niat untuk beribadah kepada Allah atau karena dapat membawanya kepada sebab-sebab yang memudahkannya jatuh kepada yang makruh atau maksiat. Menahan diri melakukan sesuatu yang tidak dilarang karena takut tidak ada niat untuk beribadah kepada Allah

Sumber :

https://rakyatlampung.co.id/

Umpan Balik Mekanikal vs Respon Pengendalian

Umpan Balik Mekanikal vs Respon Pengendalian

Fokus utama dalam subsistem pengendalian keuangan adalah pada perilaku orangorang dalam organisasi, dan bukan pada mesin. Oleh sebab itu, pengendalian keuangan dapat dipahami secara baik melalui penekanan pada pentingnya asu.msiasumsi keperilakuan. Tetapi tidak semua desain pengendalian berhubungan dengan keperilakuan. Aplikasi mekanikal dari pengendalian, seperti halnya pada thermostatyang mengatur suhu ruangan, menekankan umpan balik mekanik daripada respon-respon keperilakuan. Tentu saja, peralatan mekanik dan elektrik serfs metode-metode dapat digunakan untuk mempengaruhi perilaku manusia.

Sebuah alarm peringatan telah dipasang sebagai sarana pengaman untuk mencegah kecelakaanatau sebuah desain sistempassword untuk mencegah orang-orang yang tidakberhak dapat menggunakan komputer, adalah beberapa contoh yang sudah ada. Contohcontoh ini mempekerjakan sarana-sarana mekanik dan elektrik, tapi tujuan, pengendalian adalah untuk mempengaruhi manusiadaripada untuk memunculkan, respon mesin. Karena menekankanpada respon manusia daripada respon mesin, makasubsisteni dari pengendalian keuangan mendasarkan pemikirannya pada asumsi-asumsi keperilakuan. Tujuan keperilakuan Jalam pengendalian keuangan dapat direkonsifiasi dengan sebuah definisi umum tentang pengendalian. Pada umumnya, pengendalian didefinisikan sebagai sebuai inisiatif yang dipilih karena dipercaya bahwa kemungkinan mendapatkan suatu outcome yang diharapkan akan makin meningkat. Dalam pengendalian keuangan hasilhasil pokok yang diharapkan merupakan peristiwa-peristiwa keperilakuan dan penerapannya

dari masalah-masalah keuangan.

Definisi pengendalian cidasarkan pada konsep “keyakinan” dan “probabilitas”. Manajer-manajer memiliki keyakinan tentang cara dunia mereka bekerja den berbagai respon yang mereka harapkan saat sebuah inisiatif dipilih. Outcome keperilakuan dapat diprediksi. Dalam konteks organisasi yang nyata, adalah penting untukmemahami dengan baik hubungan sebabakibat baik terlihat nyata ataupun tidakpada lingkungan yang kompleks. Menetapkan standar yang tinggi di dalam sistemakuntansi biaya, misalnya, tidak menjamin pekerja akan lebih produktif. Demikian juga, pen6rapan sistem akuntansi pertanggung jawaban tidak menjamin manajer akan lebih bertanggungjawab danefektif dalam mengalokasikan sumber berdaya yang dikuasai. Dalam memilih pengendalian keuangan, manajer akan bergantung pada keyakinan dan pengalaman mereka. Outcome keperilakuan yang berhubungan dengan inisiatif-inisiatif pengendalian akan dimengerti dengan lebih realistis dan akurat dalam situasi dimana keyakinan dan taksiran kemungkinan terhadap hal ini daripada hubungan kausal yang naif. Tujuan utamaliteratur akuntansi biasanya menekankan asumsi-asumsi keperilakuan yang pokok dalam pengendalian keuangan. Hal ini dapat dinterpretasikah sebagai evc!usi pemikiran dan perluasan lingkungan yang mempengaruhi akuntansi dan displin akuntansi. Banyak hal yang diperoleh dari penggabungan antara pendekatan perilaku untuk pengendalian dalam akuntansi manajerial dan akuntansi tradisional dengan konsep-konsep nonkeperilakuan dari pengendalian yang ada dalam literatur akuntansi dan auditing.

RECENT POSTS

 

KEBIJAKAN PERDAGANGAN KOMODITAS PERTANIAN MASA MENDATANG 

KEBIJAKAN PERDAGANGAN KOMODITAS PERTANIAN MASA MENDATANG 

Kebijakan perdagangan komoditas pertanian Indonesia dapat dibedakan atas peran komoditas itu dalam perdagangan internasional, yaitu:

(1)      Melakukan proteksi terhadap komoditas substitusi impor, khususnya komoditas-komoditas yang banyak diusahakan oleh petani. Komoditas yang dijadikan pilihan untuk mendapat proteksi adalah beras, jagung, kedelai dan gula;

 (2) Melakukan promosi terhadap komoditas-komoditas promosi ekspor, khususnya komoditas-komoditas perkebunan yang banyak diusahakan oleh petani. Komoditas yang dijadikan pilihan untuk mendapat promosi adalah karet, kopi, coklat, CPO dan lada.

         Untuk operasionalisasi kebijakan yang harus diemban pemerintah, perlu diperhatikan tiga pilar yang merupakan elemen kebijakan yang terdapat dalam perjanjian perdagangan komoditas pertanian (AoA). Ketiga pilar itu adalah: (1) Akses pasar; (2) Subsidi domestik; dan (3) Subsidi ekspor. Ketiga pilar itu terkait yang satu dengan yang lainnya, sehingga tidaklah tepat apabila melihat perjanjian itu dari aspek akses pasar saja, dengan melupakan pilar yang lainnya. Subsidi ekspor komoditas pertanian yang dilakukan oleh suatu negara, misalnya, akan berdampak luas terhadap pasar ekspornya, sehingga berpengaruh buruk terhadap daya saing ekspor negara lain yang tidak memberikan subsidi ekspor. Demikian pula subsidi domestik yang diberikan oleh suatu negara terhadap petaninya, dapat menimbulkan persaingan yang tidak sehat, karena petani di negara itu mampu menghasilkan produk dengan biaya yang lebih rendah. Dalam konteks ini, perhatian yang selama ini diberikan oleh pemerintah terhadap akses pasar untuk komoditas beras, jagung, kedelai dan gula, hendaknya dapat diperluas dengan memanfaatkan pilar-pilar lainnya serta mencakup berbagai komoditas promosi ekspor.  Untuk itu, kebijakan perdagangan komoditas pertanian dalam jangka menengah dan jangka panjang, harus didasarkan atas sasaran sebagai berikut: 1. Memberikan proteksi terhadap komoditas beras, agar 95 persen dari kebutuhan nasional dapat dipenuhi dari produksi beras di dalam negeri; 2. Memberikan proteksi terhadap komoditas jagung, kedelai dan gula, agar 80 persen dari kebutuhan nasional dapat dipenuhi dari produksi jagung, kedelai dan gula di dalam negeri; 3. Meningkatkan ekspor CPO dengan laju 10 persen/tahun, sementara untuk komoditas karet, kopi, coklat dan lada dapat meningkat dengan laju 5 persen/tahun; 4. Menyediakan subsidi domestik dalam bentuk subsidi pupuk dan bunga kredit, sehingga para petani dapat meningkatkan kualitas dan produktivitas produk yang dihasilkan.

Satu catatan yang harus diperhatikan dalam kebijakan perdagangan di Sektor Pertanian adalah adanya keberpihakan pemerintah ke pada petani produsen. Contoh klasik dari ketidak-berpihakan pemerintah terhadap petani produsen, terlihat dari penerapan pajak ekspor produk-produk minyak sawit dengan suatu skema yang menetapkan harga patokan kena pajak. Untuk CPO ditetapkan harga patokan sebesar US $ 435/ton, dan apabila harga fob di atas itu, maka selisihnya akan dikenakan pajak ekspor dengan tingkatan yang berbeda. Penerapan kebijakan ini ternyata tidak saja merugikan petani kelapa sawit dan produsen CPO, tetapi juga memberikan efek yang negatif terhadap penerimaan pemerintah. Fenomena ini sesuai dengan penelitian bahwa ekspor Sektor Pertanian tidak pernah memperoleh insentif yang memadai untuk berkembang, sehingga petani produsen tetap menghadapi berbagai kesulitan di tengah peningkatan permintaan pangan dunia. Untuk mencapai sasaran perdagangan komoditas ini , maka diperlukan kebijakan program sebagai berikut: 1. Program peningkatan kualitas dan daya saing komoditas beras, jagung, kedelai dan gula melalui peningkatan efisiensi pada kegiatan produksi, pasca panen dan pengolahan hasil; 2. Program Penelitian dan Pengembangan Padi, Jagung dan Kedelai yang diarahkan untuk menciptakan dan mengembangkan varietas yang sesuai dengan permintaan di pasar domestik dan pasar dunia. Untuk itu, orientasi penelitian pemuliaan dan bioteknologi tanaman pangan harus diubah, dari menghasilkan varietas yang berdaya hasil tinggi menjadi varietas dengan kualitas yang sesuai dengan permintaan. 3. Program Pengembangan Industri Pertanian, khususnya komoditas perkebunan, yang berorientasi pada pengembangan produk-produk yang sesuai dengan permintaan di pasar dunia. Cepatnya perubahan permintaan di pasar dunia harus dapat diantisipasi, sehingga produk ekspor yang dihasilkan dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi. 4. Sementara itu,  Perdagangan dan Atase Pertanian yang ada dapat dimanfaatkan sebagai “intelijen” yang memberikan informasi terhadap setiap perubahan perilaku konsumen di negara-negara tujuan ekspor. Dengan demikian, industri pertanian di dalam negeri dapat melakukan penyesuaian terhadap perubahan permintaan di pasar dunia.

 

https://radiomarconi.com/