Kebijakan Pemerintah Tentang Kepariwisataan.

Kebijakan Pemerintah Tentang Kepariwisataan.

Undang-undang peraturan pemerintah

Mengingat pariwisata Indonesia kini berkembang dengan pesat dan perolehan devisa semakin bertambah karenanya sebagai kebijaksanaan pembangunaan 5 tahun ke- VI disektor pariwisata ini Majelis Permusyarwatan Rakyat (MPR ), dengan ketetapan NO. II/ MPR/ 1993. mengenai Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) bab IV merumuskan bahwa, pembangunan kepariwisataan diarahkan pada peningkatan pariwisaa menjadi sector andalan yang mampu menggalakkan kegiatan ekonomi, termasuk kegiatan sector lain yang terkait, sehingga lapangan kerja pendapatan masyarakat, pendapatan daerah, dan pendapatan Negara serta peningkatan peneriamaan devisa Negara melalui upaya pengembangan dan pendaya gunaan berbagai potensi kepariwisataan nasioanal.(Pendit, N, S. 1994 : 11).

Sebagai antispasi perkembangan dunia pariwisata yang telah mengglobal sifatnya, pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang No. 9. tahun 1996 tentang kepariwisataan, dengan ketentuan sebagai berikut.

1        Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata.

2        Wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan pariwisata.

3        Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungandengan wisata,termasuk pengusaha obyek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait dibidang tersebut.

4        Kepariwisataan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata.

5        Usaha pariwisata adalah kegiatan yang bertujuan menyelengarakan jasa pariwisata atau menyediakan, mengusahakan obyek dan daya tarik wisata, usaha sarana pariwisata, dan usaha lain yang terkait dibidang tersebut.

PEMBAHASAN

            Banyak teori dan contoh yang menunjukkan bahwa aktifitas wisata dapat peran yang signifikan dalam pembiayaan program-program konservasi lingkungan hidup. Namun, tetap harus diperhatikan bahwa aktifitas wisata juga mempunyai potensi untuk ikut serta mengarahkan pada kerusakan lingkungan (Hakim, Lukman :116).

            Para perencana pembangunan sering mengemukakan argumentasi bahwa untuk meningkatkan taraf perekonomian msyarakat sekitar hutan, dimana sebagian besar adalah kawasan lindung atau kawasan dengan tingkat keanekaragaman tinggi, para pemerhati lingkungan, konservasoinis, dan pihak-pihak pelestari lingkungan hidup melihat bahwa pembangunan yang akan dilakukan merupakan ancaman nyata terhadap keanekaragaman hayati  yang ada didalam atau sekitar kawasan yang akan dikembangkan (Beatley, 1997) (Hakim, Lukman :117).

            Lebih jauh, banyak peneliti yang menyebutkan bahwa pembangunan jalan raya mempunyai banyak pengaruh terhadap objek-objek wisata. Jalan raya menjadi ancaman bagi keaneka ragaman hayati disekitarnya, karena memberikan efek fragmentasi habitat, koridor bagi penyebaran hama, dan penyakit. Sesutau yang tidak kalah penting yaitu kejadian tertabraknya satwa oleh pengendara mobil atau jenis angkutan lainnya (Hakim, Lukman :118).

            Dampak wisata lainnya terhadap lingkungan yang dapat diamati dan dirakasan yakni masalah limbah. Limbah yang dihasilkan pengunjung menjadi masalah lingkungan yang dapat mempengaruhi kualitas daerah tujuan wisata. Hal itu mudah terjadi, dimana ukuran daerah tujuan wisata mempunyai ukuran yang kecil, limbah cair biasanya datang dari hotel , wisma dan restaurant yang tersebar pada destinasi wisata. Tidak dapat dihindari bahwa tempat-tempat tersebut merupakn bagian dari akomodasi ekotorisme. Namun, perhatian dan penanganan limbah cair yang dihasilkan seringkali sangat kurang. Untuk mengatasi populasi air yang terjadi, dua strategi yang umumnya ditempuh yaitu mereduksi sumber-sumber pencemar dan melakukan perlakuan terhadap limbah cair agar tidak dapat memhahayakan lingkungan (Hakim, Lukman :119).

Sumber: https://carbomark.org/

Orientasi Pengembangan Obyek

Orientasi Pengembangan Obyek

Pengembangan daerah tujuan wisata (DTW) berarti juga akan mengembangkan obyek-byek wisata, karena obyek wisata merupakan bagian dari tujuan wisata.disamping itu kebijaksanaan dinas pariwisata menjadi arahan kebijaksanaan di daerah Yaitu :

1        Menggencarkan promosi pariwisata dari luar negeri dan yang menuju obyek wisata.

2        Meningkatkan mata pelayanaan dan mata produksi wisata.

3        Menggambarkan kawasan-kawasan pariwisata untuk memajukan daerah lokasi yang potensial.

4        Menggalakkan berbagai obyek wisata terutama Di Indonesia  Bagian Timur baik wisata bahari maupun wisata alam.

5        Meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang kepariwisataan.

6        Membudayakan sadar wisata.

Kriteria Pengembangan Kawasan Pariwisata.

Study pengembangan obyek pariwisata diawali dengan pemikiran mengenai landasan, pengembangan kawasan tersebut baik ditinjau dari peran kegiatan pariwisata sebagai salah satu sector pembangunan wilayah maupun fungsi kawasan tersebut dalam kaitannya dengan wialayah pengembangan sekitarnya.

Untuk mewujudkan gagasan pengembangan tersebut dapat terlaksana dengan baik, selanjutnya memerlukan suatu kerja sama pengadaan sarana pariwisata ini dapat memenuhi kebutuhan pasar dengan memperhatikan sumber daya yang ada serta kemampuan developer.

Citra pegembangan obyek pariwisata digali dari potensi sumber daya yang ada dan menciptakan atraksi menarik sesuai dengan system social dan nilai masyarakat setempat.

7        Pemanfaatan Sumber Daya Alam.

8        Penanganan Masalah Dampak Lingkungan.

9        Pertimbangan Ekonomi Tata Ruang.

10    Organisasi Dan Struktur Tata Ruang.

11    Sistem Transportasi Dan Media Pelayanan.

Adapun Kriteria dasar yang mempunyai syarat kelayakan lokasi kegiatan pariwisata dalam hubungannya dengan para pelaku yang memanfaatkan kegiatan tersebut, antara lain meliputi:

  1. Syarat tata ruang dan konstruksi
  2. Syarat orientasi terhadap cahaya matahari, cuaca, pemandangan alam dan lain sebagainya.
  3. Syarat kemudahan pencapaian obyek wisata, pusat pelayanan umum, hubungan antara unsur kegiatan, fasilitas transportasi.
  4. Syarat keindahan dalam memberikan ekspresi dan ketenangan kawasan, memanfaatkan lingkungan yang berorientasi pada pemandangan alam.
  5. Syarat lingkungan yang serasi

Kegiatan pariwisata cenderung merusak kelestarian lingkungan alam dan budaya setempat, oleh karenanya perlu dijaga agar terhindar dari dampak negative dengan pengawasan dan pengendalian yang ketat, memperhatiakn dan mencerminkan cirri budaya setempat yang khas.

Sumber: https://multiply.co.id/

Subjek Pajak Luar Negeri

Subjek Pajak Luar Negeri

Dalam pengenaan Pajak Penghasilan, dikenal dua jenis subjek pajak yaitu subjek pajak dalam negeri (disingkat SPDN) dan subjek pajak luar negeri (SPLN). SPDN terdiri dari SPDN Orang Pribadi dan SPDN Badan.

 

SPDN Orang Pribadi adalah orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia. Sementara itu SPDN Badan adalah badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia.

 

SPLN adalah kebalikan dari SPDN dalam arti orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, tidak berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan suatu tahun pajak tidak berada di Indonesia dan tidak mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia.

 

SPLN yang berbentuk badan adalah badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia.

 

Kedua kelompok di atas (SPLN Orang Pribadi dan SPLN Badan) baru bias disebut SPLN jika memdapatkan penghasilan yang bersumber dari Indonesia. Nah, dilihat dari cara mendapatkan penghasilannya dari Indonesia, SPLN ini terbagi menjadi dua jenis. Pertama adalah SPLN yang mendapatkan penghasilan dengan memiliki tempat usaha tetap di Indonesia. Tempat usaha tetap ini biasa disebut Bentuk Usaha Tetap (BUT). Kedua, SPLN yang mendapatkan penghasilan dari Indonesia tidak melalui BUT di Indonesia. Kedua bentuk SPLN ini selanjutnya disebut SPLN BUT dan SPLN Non BUT.



Bentuk Usaha Tetap

 

Bentuk usaha tetap (BUT) adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh SPLN (baik orang pribdai atau badan) untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia.

 

Suatu bentuk usaha tetap mengandung pengertian adanya suatu tempat usaha (place of business) yaitu fasilitas yang dapat berupa tanah dan gedung termasuk juga mesin-mesin, peralatan, gudang dan komputer atau agen elektronik atau peralatan otomatis (automated equipment) yang dimiliki, disewa, atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan aktivitas usaha melalui internet.

 

Tempat usaha tersebut bersifat permanen dan digunakan untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan dari orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia.

 

Tujuan Kebijakan Perpajakan Internasional

Tujuan Kebijakan Perpajakan Internasional

Tujuan Kebijakan Perpajakan Internasional

Setiap kebijakan tentu mempunyai tujuan khusus yang ingin dicapai, begitu juga dengan kebijakan perpajakan internasional juga mempunyai tujuan yang ingin dicapai yaitu memajukan perdagangan antar negara, mendorong laju investasi di masing-masing negara, pemerintah berusaha untuk meminimalkan pajak yang menghambat perdagangan dan investasi tersebut. Salah satu upaya untuk meminimalkan beban tersebut adalah dengan melakukan penghindaraan Pajak Berganda Internasional.

 

Tujuan P3B antara lain:

 

  1. Tidak terjadi pemajakan ganda yang memberatkan iklim usaha dunia

 

  1. Peningkatan investasi modal dari luar negeri ke dalam negeri

 

  1. Peningkatan sumber daya manusia

 

  1. Pertukaran informasi untuk mencegah penghindaran pajak

 

  1. Keadilan dalam hal pemajakan penduduk dari negara yang terlibat dalam perjanjian.



Prinsip-prinsip yang harus dipahami dalam pemajakan internasional

 

Doernberg (1989) menyebut 3 unsur netralitas yang harus dipenuhi dalam kebijakan pemajakan internasional:

 

  1. Capital Export Neutrality (Netralitas Pasar Domestik) artinya kemanapun kita berinvestasi, beban pajak yang dibayar adalah sama. Sehingga tidak ada perbedaan apabila kita berinvestasi di dalam atau luar negeri. Oleh karena itu, hal yang perlu dihindari apabila berinvestasi di luar negeri adalah beban pajak yang lebih besar. Hal ini disebabkan karena adanya beban pajak di dua negara tersebut.
  2. Capital Import Neutrality (Netralitas Pasar Internasional artinya darimanapun investasi yang kita lakukan berasal, akan dikenakan pajak yang sama. Sehingga apabila berinvestasi di suatu negara, investor dari dalam negeri atau luar negeri akan dikenakan tarif pajak yang sama.
  3. National Neutrality artinya setiap negara, mempunyai bagian pajak atas penghasilan yang sama. Sehingga apabila terdapat pajak luar negeri yang tidak bisa dikreditkan dapat  dikurangkan sebagai biaya pengurang laba.

 

Aspek Perpajakan Internasional Dalam Undang-undang Pajak Penghasilan

 

Indonesia sebagai Negara berdaulat memiliki hak untuk membuat ketentuan tentang perpajakan. Fungsi dari pajak yang ditarik oleh pemerintah ini utamanya adalah untuk membiayai kegiatan pemerintahan dalam rangka menyediakan barang dan jasa publik yang diperlukan oleh seluruh rakyat Indonesia. Di samping itu, pajak juga berfungsi untuk mengatur perilaku warga Negara untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

 

Salah satu jenis pajak yang berlaku di Indonesia dan memiliki peranan penting dalam penerimaan negara adalah Pajak Penghasilan (PPh) yang pertama kali diberlakukan pada tahun 1984 berdasarkan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983.

 

Pajak Penghasilan adalah pajak subjektif di mana jenis pajak ini bisa dikenakan apabila syarat subjektif dan objektif terpenuhi bagi orang atau badan. Pada umumnya hampir semua orang atau badan di Indonesia akan memenihi syarat subjektif dan jika  orang atau badan ini memperoleh penghasilan maka syarat objektif juga terpenuhi.

Sumber :

https://urbanescapesusa.com/

PERBEDAAN SPDN DAN SPLN

PERBEDAAN SPDN DAN SPLN

  • WPDN dikenai pajak atas penghasilan baik yang diterima atau diperoleh di Indonesia maupun dari luar Indonesia, WPLN dikenai pajak hanya atas penghasilan yang berasal dari sumber penghasilan di Indonesia.

 

  • WPDN dikenai pajak berdasarkan tarif neto dengan tarif umum, WPLN dikenai pajak berdasarkan penghasilan bruto dengan tarif sepadan.

 

  • WPDN wajib menyampaikan SPT PPh, WPLN tidak wajib menyampaikan SPT PPh karena kewajiban pajaknya dipenuhi melalui pemotongan pajak yang bersifat final.



TIDAK TERMASUK OBJEK PAJAK

 

Orang pribadi ata instansi yang tidak termask objek pajak menurut ketentuan UU PPh adalah:

 

  • Kantor perwakilan Negara asing

 

  • Pejabat-pejabat perwakilan diplomatic dan konsulat atau penjabat-penjabat yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama-sama mereka dengan syarat bkan warga Negara Indonesia dan di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan diluar jabatan atau kerjaannya tersebut serta Negara bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik .

 

  • Organisasi-organisasi internasional dengan syarat :

 

  1. Indonesia menjadi anggota organisasi tersebt

 

  1. Tidak menjalankan usaha atau kegiatan untuk memperoleh penghasilan dari indonesia selain memberikan pinjaman kepada pemerintah yang dananya berasal dari iuran anggota.

 

  • Pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional dengan syarat bukan WNI dan tidak menjalankan usaha, kegiatan, atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia.



Pengertian Pajak Internasional

 

Definisi Pajak Internasional dalam Undang-undang Pajak Penghasilan sampai detik ini belum ada. Bapak Sriadi Kepala Seksi Perjanjian Perpajakan Eropa, Kantor Pusat Direktorat Jendral Pajak, memberanikan diri untuk mendefinisikan tentang pengertian Pajak Internasional berdasarkan uraian sebelumnya.

 

“Pajak Internasional adalah kesepakatan perpajakan yang berlaku di antara negara yang mempunyai Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) dan pelaksanaanya dilakukan dengan niat baik sesuai dengan Konvensi Wina (Pacta Sunt Servanda).”

 

Dengan demikian peraturan perpajakan yang berlaku di negara Indonesia terhadap badan atau orang asing menjadi tidak berlaku bilamana terdapat perjanjian bilateral (dua negara) tentang Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda dengan negara asal atau penduduk asing tersebut.

Sumber :

https://fgth.uk/

 

 

Pengertian Fi’il Ruba’i Mazid

Pengertian Fi’il Ruba’i Mazid

Fi’il Ruba’i Mazid ialah kalimah yang fi’il mazidnya memuat huruf lebih dari empat huruf, dengan rincian yang empat berupa huruf asal sedang yang lain berupa huruf tambahaan.

Wazan fi’il ruba’i mazid ada 3 bab, yaitu:

  1. Wazan تَفَعْلَلَ ditambah ta’, seperti تَدَخْرَجَ (menjadi terguling), asalnya دَخْرَجَ (tergulingkan).
  2. Wazan اِفْعَنْلَلَ ditambah hamzah dan nun, seperti اِخْرَنْجَمَ (menjadi berkumpul), asalnya خَرْجَمَ (mengumpulkan/berdesakan).
  3. Wazan اِفْعَلَلَّ ditambah hamzah dan takrar lam fi’il yang kedua, seperti اِقْشَعَرَّ (sangat mengerut), asalnya قَشْعَرَ (mengerut).
  4. Fi’il Ruba’I Mazid Dengan Penambahan 1 Huruf
    Fi’il Ruba’i Mazid dengan penambahan 1 huruf hanya ada satu wazan, yaitu:  تَفَعْلُلاً – يَتَفَعْلَلُ – تَفَعْلَلَ
    dengan penambahan ta’ memiliki makna muthowa’ah atau ” hasil perbuatan”, contoh :
    Kata دَخْرَجَ bermakna “menggulingkan”, bila diubah menjadi تَدَخْرَجَ bermakna “terguling”.
  5. Fi’il Ruba’I Mazid Dengan Penambahan 2 Huruf
    Fi’il Ruba’i Mazid dengan penambahan 2 huruf ada dua wazan, yaitu:    افْعِنْلالاً – يَفْعَنْلِل – افْعَنْلَلَ
    اِفْعَلِلَّ  – يَفْعَلِلُّ  – اِفْعَلَلَّ
    Pertama : افْعِنْلالاً – يَفْعَنْلِل – افْعَنْلَلَ
    dengan penambahan hamzah dan nun memiliki makna muthowa’ah atau hasil perbuatan, contoh :
    Kata  خَرْجَمَ bermakna “mengumpulkan unta”, bila diubah menjadi اِخْرَنْجَمَ  bermakna “terkumpul” atau “berdesakan”.
    Kedua : افعللّ  – يفعللّ  – افعللّ
    dengan penambahan hamzah dan syaddah memiliki makna mubalaghoh atau “sangat”, contoh :
    Kata اِقْشَعَرَّ bermakna “berkerut”, bila diubah menjadi اقشعرّ bermakna “sangat berkerut”.

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan
  2. Fi’il Ruba’i Mazid ialah kalimah yang fi’il madzinya memuat huruf lebih dari empat huruf, yang empat berupa huruf asal sedang yang lain berupa huruf tambahaan.
  3. Fi’il ruba’i mazid khumasi ialah kalimah yang fi’il madlinya terdiri dari lima huruf, yang empat berupa huruf asal dan yang satu berupa huruf tambahan.
  4. Fi’il ruba’i mazid sudasi ialah kalimah yang fi’il madlinya memuat enam huruf, yang empat berupa huruf asal dan yang dua berupa huruf tambahan.
  5. Saran

Sebagian besar penduduk di Indonesia adalah beragama islam, maka dari itu sudah seharusnya masyarakat Indonesia mempelajari bahasa Arab dalam upaya untuk memperdalam pemahaman terhadap agamanya, karena mempelajari bahasa Arab tidak kalah pentingnya dengan bahasa-bahasa internasional lainnya, untuk itu demi upaya memajukan bahasa Arab serta memperdalam nilai-nilai keagamaan kita belajarlah bahasa Arab sedini mungkin

 

Manfaat Media PembelajaranBerbentuk Jam

Manfaat Media PembelajaranBerbentuk Jam

Manfaat Media PembelajaranBerbentuk Jam

Memilikibeberapamanfaatyang dapatmengembangkankemampuanpesertadidikkhususnyaanakusiadinidalam proses kegiatanbelajarmenggunakan jam sebagai media pembelajarnya, diantaranya :

  1. a)

Melalui media iniakandapatmembantuanakuntukdapatmengenalberbagaimacamwarna, berbagaiwarna-warna yang menarik yang adadalam jam akandapatanakketahui. Serta anakdapatbelajarangka-angka yang adapada jam, di karenakan media yang di gunakanpadasaatiniadalah jam, makaangka yang dapatanakketahuiayaitu yang menunjukkanpada jam, yakni 1 – 12. Sehinggadalamhalinikemampuankognitifnyaakanlebihbaiklagi.

  1. b)Belajarberhitung

Jam yang di gunakansebagai media pembelajaranini, akandapatmembantukemampuananakuntukberhitung. Dalam media ini, setiapangkaakanadabenda-benda yang menyatakanjumlahnya. Misalpadaangka 12, makaakanadapensil yang menyatakanjumlahsesuaidenganangka 12, dankemudiandapatanakhitungjumlahnyaitu. Dalamkegiataninikemampuankognitifanakdapatjugadikembangkan.

  1. c)Dapatbelajarmengetahuinamabenda, hewandanbuah

Seperti yang telahdijelaskanpadamanfaatsebelumnya, bahwasetiapangkaadaberbagaimacamgambarbenda-benda, hewansertabuah-buahan yang jumlahnyasesuiadenganangkatersebut.Sehinggaakanmembantuanakuntukmengenalberbagaimacamgambarbenda, hewan, danbuah, sepertigambaradagambarpensil, tas, bebek, kupu-kupu, pisang, jeruk, dan lain-lain.

  1. d)Mengembangkankemampuanbahasaanak

Melalui media jam ini, makaanakdapatmenyebutkanberbagaimacamangkasertaberbagaimacamgambar yang ada, secaratidaklangsungakandapatmelatihkemampuanberbahasaanakmenjadilebihbaiklagi.

  1. e)Mengembangkankemampuanmotorikanak

Karena media yang digunakanadalah jam, makatidakterlepasdari yang namanyajarum jam sebagaipenunjukwaktu. Anakdapatmemainkanjarum jam tersebutdengancaramemutar-mutarkannya, sehinggadalamhalinikelenturanjari-jarianakakanlebihbaiklagi, bisajugadengancaraanakmenggambarkandanmewarnaigambarapasaja yang merekasukai yang adapadajam tersebut, untukdapatmelatihkemampuanmotoriknya.

  1. f)Belajarmengenalwaktumelalui jam

Kita jugadapatmengenalkanwaktupadaanak, tidakhanyasekedarwaktupagi, siangdanmalamsaja.Namundalamhalinikitadapatmenyertakanwaktutersebutdenganjamnya.Misalpada jam 06.00 adalahpagidanwaktunyautukbanguntidurlalumandi.

  1. g)Meningkatkandayafikirdanimajinasianak

Melalui media inianakdapatmengembangkandayafikirnyasertaanakmulaibelajarberfikirabstrak, sehinggaimajinasinyaakanmeningkat.





BAB 3

PENUTUP

3.1        Kesimpulan

Pengertian media dalampembelajaranadalahsegalabentukalatkomunikatif yang dapatdigunakanuntukmenyampaikanpesan/informasidarisumberkepadaanakdidikyanngbertujuan agar dapatmerangsangpikiran, perasaan, minatdanperhatiananakdidikuntukmengikutikegiatanpembelajaran.

Peran media dalam proses belajarmengajaradalah; a) MemperjelasPenyajianPesandanMengurangiVerbalitas; b) MemperdalamPemahamanAnakDidikterhadapMateriPelajaran; c) MemperagakanPengertian yang AbstrakkepadaPengertian yang KoonkretdanJelas; d) MengatasiKeterbatasanRuang, WaktudanDayaInderaManusia.

Manfaat media pembelajaranmenggunakan jam, diantaranya; a)mengenalkonsepwarnadanangka; b)  belajarberhitung; c) dapatbelajarmengetahuinamabenda, hewandanbuah; d) mengembangkankemampuanbahasa; e) mengembangkankemampuanmotorik; f) belajarmengenalwaktumelalui jam; g) meningkatkandaya piker anakdanimajinasianak.

Sumber :

https://robinschone.com/droidjoy-gamepad-apk/

 

Pengertian Media Pembelajaran

Pengertian Media Pembelajaran

 

Media berasaldaribahasa Latin danmerupakanbentukjamakdari kata medium yang secaraharfiahmemilikiartiantara, perantara,ataupengantar. Media adalahperantaraataupengantarpesandaripengirimpesankepadapenerimapesan.Terkaitdenganpembelajaran, media adalahsegalasesuatau yang dapatdigunakanuntukmenyampaikanpesandaripengirimpesankepadapenerimapesansehinggadapatmerangsangpikiran, perasaan, danperhatiananakdidikuntuktercapainyatujuanpendidikan.

Bahwapengertian media dalampembelajaranadalahsegalabentukalatkomunikatif yang dapatdigunakanuntukmenyampaikanpesan/informasidarisumberkepadaanakdidikyanngbertujuan agar dapatmerangsangpikiran, perasaan, minatdanperhatiananakdidikuntukmengikutikegiatanpembelajaran.

2.2        PerandanKedudukan Media dalamPembelajaran

Media selaindapatdigunakanuntukmengatarkanpembelajaransecarautuhjugadapatdimanfaatkanuntukmenyampaikanbagiantertentudarikegiatanpembelajaran, memberikanpenguatanmaupunmotivasi.Kembalikepadaartipenting media dalam proses beelajar-mengajar yang dapatmengantarkankepadatujuanpendidikan, makaberikutiniakandiuraikanberbagaiperanan media dalam proses belajarmengajar (Hamalik 1997, Sadiman, 2003).

  1. a)MemperjelasPenyajianPesandanMengurangiVerbalitas

Sesuaidengankarakteristikdari media, makapenggunaan media dapatmembantumanusiamengatasisedikitbanyakketerbatasaninderamanusiasehinggapesan yang disampaikanmenjadijelas.Penggunaan media dapatmengurangiverbalitaskarena media dapatmendooroonganakuntukaktifberperansertadalam proses belajarmengajar, sehinggainformasi yang diterimaolehanakdidiktidakhanyadari guru sajatetapianakdidikjugaturutaktifmencaridanmendapatkaninformasipembelajarantersebut.

  1. b)MemperdalamPemahamanAnakDidikterhadapMateriPelajaran

Denganpenggunaa media dalambelajarakanadakejelasaninformasi/pesantentangmateripelajaran yang diterimaanakdidik. Di sampingitu, melalui media peranaktifanakdidikdapatdigerakkanuntukmemperolehpengetahuantentangmateripelajaran, makahalitusecaraotomatisakanmemperdalampemahamananakdidik.

  1. c)MemperagakanPengertian yang AbstrakkepadaPengertian yang KoonkretdanJelas

Materipembelajaransering kali adalahsesuatu yang bersifatabstrak. Hal yang abstrakinitidakmudahdipahamiterutamauntukanakusiadini. Olehkarenaitu, media mampumenjadikansesuatu yang bersifatabstrakdapatdipahamisecarakonkretdanjelas.

  1. d)MengatasiKeterbatasanRuang, WaktudanDayaInderaManusia

Manusiamemilikiketerbatasaninderauntukbisamemahamitentangselukbeluklingkungankehidupannyajikahanyamengandalkandayainderanya.Olehkarenaitu, manusiamembutuhkanbantuanberbagaialatyaitudenagnmenggunakanberbagai media.

Dapatdikatakanbahwasalahsatufungsiutama media pembelajaranadalahsebagaialatbantumengajar. MenurutHamalik (1986) pemakaian media dalam proses pembelajarandapatmeningkatkankeinginandanminat yang baru, membangkitkanmotivasidanrangsangankegiatanbelajar, danjugaberpengaruhpadapsikologissiswa.Levie& Lentz (1982) mengemukakanfungsi media pembelajaransebagaiberikut

v  Fungsiatensiyaitumenarikdanmengarahkanperhatiansiswapadaisipelajarandibantudengan media gambarsehinggamemilikikemungkinanmengingatisipelajaranlebihbesar.

v  Fungsiafektifyaitumunculketikabelajardenganteks yang bergambar, sehinggadapatmenggugahemosidansikapsiswa.

v  Fungsikognitifyaitumengungkapkangambarmemperlancarpencapaiantujuanmemahamidanmengingatinformasi yang terkandung.

v  Fungsikompensatorisyaituberfungsimengakomodasikansiswa yang lemahdanlambatmenarimadanmemahamiisipelajaran yang disajikandenganteks.

Sumber :

Aplikasi Kekinian GB Whatsapp Beserta Cara Install

 

Skala Ordinal

Skala Ordinal

Skala Ordinal adalah skala variabel yang menunjukkan tingkatan- tingkatan. Skala Ordinal adalah himpunan yang beranggotakan menurut rangking, urutan, pangkat atau jabatan. Skala Ordinal adalah kategori yang dapat diurutkan atau diberi peringkat.

Contoh :

  1. Tingkat Pendidikan : dikategorikan SD, SMP, SMA, PT
  2. Pendapatan : Tinggi, Sedang, Rendah
  3. Tingkat Keganasan Kanker : dikategorikan dalam Stadium I, II, dan III.

Hal ini dapat dikatakan bahwa : Stadium II lebih berat daripada Stadium I dan Stadium III lebih berat daripada Stadium II.  Tetapi kita tidak bisa menentukan secara pasti besarnya perbedaan keparahan itu.

  1. Sikap (yang diukur dengan Skala Linkert) : Setuju, Ragu – ragu, Tidak Setuju. Dsb.
  1. Skala Interval

Skala Interval adalah skala data kontinum yang batas variasi nilai satu dengan yang lain jelas, sehingga jarak atau intervalnya dapat dibandingkan. Dikatakan Skala Interval bila jarak atau perbedaan antara nilai pengamatan satu dengan nilai pengamatan lainnya dapat diketahui secara pasti.

Nilai variasi pada Skala Interval juga dapat dibandingkan seperti halnya pada skala ordinal (Lebih Besar, Sama, Lebih Kecil,dsb); tetapi nilai mutlaknya TIDAK DAPAT DIBANDINGKAN secara Matematis, olehkarena itu batas – batas variasi nilai pada Skala Interval bersifat ARBIITRER (ANGKA NOL-nya TIDAK Absolut).

Contoh :

  1. Temperature / suhu tubuh : sebagai skala interval, suhu 36 derajat celcius jelas lebih panas daripada suhu 24 derajat celcius. Tetapi tidak bisa dikatakan bahwa suhu 36 derajat celcius 1½ kali lebih panas daripada suhu 24 derajat  celcius. Alasannya : Penentuan skala 0 derajat celcius tidak absolut (0 derajat celcius tidak berarti tidak ada suhu/temperatur sama sekali).
  2.  Tingkat Kecerdasan,
  3.  Jarak, dsb.
  1. Skala Ratio atau Skala Perbandingan.

Skala Ratio Adalah Skala yang disamping batas intervalnya jelas, juga variasi nilainya memunyai batas yang tegas dan mutlak ( mempunyai nilai NOL ABSOLUT ).

Misalnya :

  1. Tinggi Badan : sebagai Skala Ratio, tinggi badan 180 Cm dapat dikatakan mempunyai selisih 60 Cm terhadap tinggi badan 120 cm, hal ini juga dapat dikatakan bahwa : tinggi badan 180 adalah 1½ kali dari tinggi badan 120 cm.
  2. Denyut Nadi : Nilai 0 dalam denyut nadi dapat dikatakan tidak ada sama sekali denyut nadinya.
  3. Berat badan
  4. Dosis obat, dsb.

Baca juga:

Pengertian Variabel Penelitian

Pengertian Variabel Penelitian

Istilah “variabel” merupakan istilah yang tidak pernah ketinggalan dalam setiap jenis penelitian. Variabel dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.

Para ahli telah mendefenisikan pengertian variabel sebagai berikut :

  1. F.N. Kelinger, menyebutkan variabel adalah sebagai sebuah konsep seperti halnya laki-laki dalam konsep jenis kelamin.
  2. Kidder, menyebutkan variabel adalah suatu kualitas dimana peneliti mempelajari dan menarik kesimpulan darinya.
  3. Bhisma Murti, menyebutkan variable didefinisikan sebagai fenomena yang mempunyai variasi nilai. Variasi nilai itu bisa diukur secara kualitatif atau kuantitatif.
  4. Sudigdo Sastroasmoro, menyebutkan variable merupakan karakteristik subyek penelitian yang berubah dari  satu subyek ke subyek lainnya.
  5. Dr. Ahmad Watik Pratiknya, menyebutkan variable adalah Konsep yang mempunyai variabilitas. Sedangkan Konsep adalah penggambaran atau abstraksi dari suatu fenomena tertentu. Konsep yang berupa apapun, asal mempunyai ciri yang bervariasi, maka dapat disebut sebagai variable. Dengan demikian, variable dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang bervariasi.

Berdasarkan pengertian – pengertian di atas, maka dapat dirumuskan bahwa definisi Variabel  Penelitian  adalah  suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya.

Kegunaan variabel penelitian adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mempersiapkan alat dan metode pengumpulan data
  2. Untuk mempersiapkan metode analisis/pengolahan data
  3. Untuk pengujian hipotesis

Variabel penelitan yang baik adalah sebagai berikut :

  1. Relevan dengan tujuan penelitian
  2. Dapat diamati dan dapat diukur

Pengukuran Variabel Penelitian

Pengukuran variabel penelitian dapat dikelompokkan menjadi 4 skala pengukuran, yaitu :

  1. Skala Nominal

Skala Nominal adalah suatu himpunan yang terdiri dari anggota-anggota yang mempunyai kesamaan tiap anggotanya, dan memiliki perbedaan dari anggota himpunan yang lain. Misalnya :

  1. Jenis Kelamin : dibedakan antara laki – laki dan perempuan
  2. Pekerjaan : dapat dibedakan petani, pegawai, pedagang
  3. Golongan Darah : dibedakan atas Gol. 0, A, B, AB
  4. Ras : dapat dibedakan atas Mongoloid, Kaukasoid, Negroid.
  5. Suku Bangsa : dpt dibedakan dalam suku Jawa, Sunda, Batak dsb.

Skala Nominal, variasinya tidak menunjukkan perurutan atau kesinambungan, tiap variasi berdiri sendiri secara terpisah. Dalam skala nominal tidak dapat dipastikan apakah kategori satu mempunyai derajat yang lebih tinggi atau lebih rendah dari kategori yang lain ataukah  kategori itu lebih baik atau lebih buruk dari kategori yang lain.

 

Sumber: https://ngegas.com/tactics-squad-apk/