Penyebaran agama Kristen di India dilakukan olehnya orang-orang Portugis

KEHIDUPAN KEAGAMAAN DI MASA SULTAN AKBAR

1. Agama Islam

Sebelum sultan Akbar naik tahta, pemerintahan di India telah diwarnai oleh kaum ortodoks Sunni, baik di masa dinasti Ghaznawi dan Ghor, atau di masa kesultanan Delhi dan dinasti Sur. Namun ketika terjadinya disintegrasi pada kesultanaan Delhi, beberapa negara bagian di India menyatakan Syiah Itsna’ Asy’ariyah sebagai agama negara, seperti Bijapur pada tahun 1502 dan Ahmadagar tahun 1537. Penyebabnya adalah adanya pengaruh dari kerajaan Safawi di Persia (1501-1722) yang menganut aliran Syi’ah Itsna’ Asy’ariyah sebagai agama resmi negara. Meskipun begitu, kaum ortodoks Sunni masih tetap menjadi mayoritas yang paling berpengaruh. Sejak awal berdirinya kerajaan Mughal sampai dengan pertengahan pemerintahan Sultan Akbar, para ulama sangat memegang peranan penting dalam berbagai persoalan yang berkaitan dengan agama dan kemasyarakatan.
Sultan Akbar pada mulanya sangat antusias dalam mengembangkan agama Islam. Hal ini terbukti dengan didirikannya Ibadat Khana (982 H / 1574 M) di negeri-negeri yang berhasil di taklukkannya, seperti Gondwana, Chitor, Ranthamanbor, Kalanjar dan Gujarat. Selain itu sultan Akbar sering menziarahi makam Mu’inuddin Chistiy di Ajmer dan gemar mendengarkan pelajaran agama melalui Syekh Abdul Nabi. Hal ini menunjukkan tingginya semangat agama Islam Sultan Akbar.
2. Agama Hindu
Agama Hindu berkembang perlahan melalui percampuran sistem kepercayaan yang dibawa oleh bangsa Arya kira-kira 1500 SM dengan kepercayaan asli bangsa Dravida yang mereka taklukkan. Didalamnya termuat juga kebudayaan rakyat Harappa yang tinggi peradabannya dari lembah Indus.
Pada masa periode Veda, kira-kira 600 SM timbul ajaran baru dalam agama Hindu yaitu kelahiran kembali (reincarnation of the soul) yang digabungkan dengan ide karma yaitu undang-undang fundamental sebab-akibat. Sedangkan pada masa periode Epik, kurang lebih 200 M muncul ajaran pembagian manusia ke dalam empat kelas atau varna, yaitu Brahmana, Ksatrya, Vaisya, dan Sudra. Sesudahnya muncul pula kelas kelima yang tidak dapat disentuh yaitu Pariya.
Interaksi antara Islam dan Hindu pertama kali dilakukan oleh Kabir. Ia adalah seorang agamawan radikal yang menentang agama Islam dan sekte-sekte Hindu. Beberapa ajarannya adalah penentangannya terhadap politeisme, penyembahan berhala dan kasta. Dia mengutuk formalitas muslim dan berusaha keras untuk menghilangkan penghalang antara orang-orang Hindu dan Islam.
3. Agama Sikh
Agama Sikh muncul pada awal abad ke-16 sebagai sinkretisme dari agama Hindu dan Islam. Peletak dasar agama Sikh adalah Nanak. Dia dilahirkan di Nankana, 40 mil dari Lahore tahun 1469. Sasaran dakwah Nanak adalah orang-orang Islam dan Hindu. Meskipun pada masa itu tidak lazim menyamakan agama Hindu dan Islam, akan tetapi Nanak tidak mempedulikan hal itu.
Ajaran nanak terdiri atas cinta kepada Tuhan, cinta kepada manusia dan cinta kepada makhluk Tuhan. Para pengikutnya menamakan dirinya Sikh yang berasal dari bahasa SansEkerta sishya, berarti seorang pelajar atau seorang yang memperoleh pelajaran spiritual dari seorang guru. Perkumpulan Sikh dinamakan Sangat. Tempat-tempat orang Sikh berkumpul mendengarkan khutbah gurunya dan bernyanyi bersama memuji Tuhan terkenal sebagai Gurdwaras.
Pada awalnya Sikh merupakan sekte dalam agama Hindu tetapi pada masa Guru ke-5, Arjun, yang semasa dengan Sultan Akbar, sekte ini berkembang menjadi sebuah agama yang berdiri sendiri. Tujuannya adalah Guru Arjun ingin meninggikan status Sikhisme dari sebuah aliran menjadi sebuah agama. Ia mengumpulkan himne-himne Sikh menjadi sebuah buku suci yang bernama Adi Granth sebagai kitab suci kepercayaan agama Sikh.
4. Agama Kristen
Penyebaran agama Kristen di India dilakukan olehnya orang-orang Portugis yang berhasil menguasai Goa oleh Alfonso d’Albuquerque tahun 1510. Selain itu ada pula kelompok Jesuit atau masyarakat Yesus yang merupakan sebuah ordo agama Katolik Roma yang didirikan oleh St. Ignatius Loyola. Jesuit terdiri dari sejumlah orang pendeta yang telah disumpah untuk menjadi miskin, terhormat dan patuh. Tujuan Loyola membentuk Jesuit adalah untuk menyediakan sekawanan pendeta pengabdi yang seluruh kehidupannya dibaktikan untuk kebutuhan gereja.
Hubungan Sultan Akbar dengan orang-orang Jesuit ini bermula dari adanya perhatian Sultan Akbar terhadap persoalan agama dan keinginannya untuk mengetahui lebih banyak tentang kebenaran. Sultan Akbar mengundang mereka untuk berperan serta dalam perdebatan di Ibadat Khana. Kesempatan ini digunakan oleh para Jesuit untuk mengkonversi Sultan Akbar. Dalam tiga kali misi yang diutus dari Goa ke istana Mughal membawa harapan membujuk Sultan Akbar agar mau memperkenalkan agama Kristen di daerah kekuasaannya dan meminta sang Sultan untuk memeluk agama Kristen. Namun Sultan Akbar selalu menolaknya dengan halus. Orang-orang Jesuit ini hanya berhasil mendapatkan izin untuk mendirikan gereja di Agra, Lahore dan Cambay.

RECENT POSTS