KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

Setiap peserta didik memiliki ciri khas dan sifat atau karakteristik yang diperoleh oleh lingkungan, agar pembelajaran dapat menccapai hasil yang optimal guru perlu memahami karakteristik peserta didik. Karakteristik bawaan merupakan karakteristik yang dimiliki sejak lahir baik menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis untuk mengetahui siapa peserta didik perlu dipahami bahwa sebagai manusia yang sedang berkembang menuju kearah kedewasaan memiliki beberapa karakteristik yaitu sebagai berikut:

  1. Inidividu memiliki potensi fisik dan psikis yang khas sehingga merupakan makhluk yang unik.
  2. Individu yang sedang berkembang. Anak mengalami perubahan dalam dirinya secara wajar.
  3. Individu yang membutuhkan bimbingan individual.
  4. Individual yang memiliki kemampuan untuk mandiri dalam perkembangannya peserta didik memiliki kemampuan untuk berkembang kearah kedewasaan.

Karakteristik peserta didik dapat dibedakan berdasarkan tingkat usia, kecerdasan, bakat, hobi, dan minat, tempat tinggal, dan budaya, serta lainnya. Berbagai latar belakang perbedaan ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

  1. Karakteristik Peserta Didik  Berdasarkan Tingkat Usia

Dilihat dari segi usia, peserta didik dapat dibagi menjadi lima tahapan, yang masing-masing tahapan memiliki cirinya masing-masing. Kelima tahapan ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

1)      Tahapan asuhan ( usia 0-2 tahun ) atau neonatus. Tahap ini dimulai dari sejak kelahirannya sampai kira-kira dua tahun. Pada tahap ini, individu belum memiliki kesadaran dan daya intelektual. Ia hanya mampu menerima rangsangan yang bersifat biologis dan psikologis melalui air susu ibunya. Pada fase ini belum belum dapat diterapkan interaksi edukasi secara langsung. Berkenaan dengan itu, dalam ajaran Islam terdapat sejumlah tradisi keagamaan yang dapat diberlakukan kepada peseta didik, antara lain dengan memberi adzan ditelinga kanan dan iqomat ditelinga kiri pada baru lahir. Adzan dan iqomat ibarat  passworduntuk membuka sistem saraf rohani agar anak teringat pada Tuhan yang pernah diikrarkannya ketika berada dialam arwah. Selain itu dilakukan Aqiqah, sebagai tanda syukur, pengorbanan dan kepedulian terhadap bayinya, agar anaknya menjadi anak saleh ; memberi nama yang baik, karena nama dapat menjadi kebanggaan dan do’a bagi yang beri nama, memberikan makan madu yang melambangkan makanan yang halal dan yang baik, memberi air susu ibu, menggambarkan makanan yang sehat dan bergizi serta kedekatan anak dan orang tua.

2)      Tahap jasmani ( usia 2-12 tahun). Tahap ini lazim disebut sebagai fase kanak-kanak (al- thifl / shabi), yaitu mulai masa neonatus sampai dengan masa mimpi basah (polusi). Pada tahap ini, anak mulai memiliki potensi biologis, pedagogis, dan psikologis,sehingga seorang anak sudah mulai dapat dibina, dilatih, dibimbing, diberikan pelajaran dan pendidikan yang disesuaikan dengan bakat, minat dan kemampuannya.

3)      Tahap psikologis (usia 12-20 tahun). Tahap ini fase tamyiz, yaitu fase dimana anak mulai mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk, benar dan salah, dan fase baligh, atau tahap mukalaf, yaitu tahap berkewajiban menerima memikul beban tanggung jawab (takhlif). Pada masa ini seorang anak sudah dapat dibina, dibimbing, dan dididik untuk melaksanakan tugas-tugas yang menuntut komitmen dan tanggung jawab dalam arti yang luas.

4)      Tahap dewasa (20-30 tahun). Pada tahap ini, seseorang sudah tidak disebut lagi anak- anak atau remaja, melainkan sudah disebut dewasa dalam arti sesungguhnya, yakni kedewasaan secara biologis, sosial, psikologis, religius, dan lain sebagainya. Pada fase ini, mereka sudah memiliki kematangan dalam bertindak, bersikap, dan mengambil keputusan untuk menentukan masa depannya sendiri.

5)      Tahap bijaksana ( 30 sampai akhir hayat). Pada fase ini, manusia telah menemukan jati dirinya yang hakiki, sehingga tindakannya sudah memiliki makna dan mengandung kebijaksanaan yang mampu memberi naungan dan perlindungan bagi orang lain. Pendidikan pada tahap ini dilakukan dengan cara mengajak mereka agar mau mengamalkan ilmu, keterampilan, pengalaman, harta benda, kekuasaan, dan pengaruhnya untuk kepentingan masyarakat.

  1. Karakteristik Peserta Didik Berdasarkan Teori Fitrah

Fitrah yang ada pada manusia, adalah sesuatu bersifat orisinal, netral, dan ideal. Fitrah tersebut meliputi potensi rasa ingin tahu dan mencintai kebenaran; potensi rasa menyukai dan mencintai kepada kebaikan; dan potensi rasa menyukai dan mencintai keindahan. Rasa ingin tahu dan mencintai kebenaran akan mendorong seseorang untuk belajar dan melakukan penelitian dan kajian yang menghasilkan ilmu pengetahuan.  Rasa ingin tahu dan mencintai kebaikan mendorong seseorang untuk mengikuti segala perintahNya yang diyakini pasti mengandung kebaikan, yang selanjutnya menghasilkan etika atau ahklak mulia. Dan rasa ingin tahu mencintai keindahan, mendorong seseorang untuk mengembangkan daya imajinasi dan daya rasanya, yang selanjutnya menimbulkan seni. Perpaduan antara ilmu, ahklak, dan seni itulah yang membawa kemajuan yang tidak akan menyimpang dan tidak akan merusak moral manusia.

Termasuk kedalam pembahasan fitrah ini adalah adanya kenderungan alamiah yang bersifat naluri (instinct), yang menurut teori Maslow, terdiri dari naluri ingin tahu (curiosity), ingin dihormati (dignity), ingin dicintai (lovely), ingin memiliki sesuatu yang bersifat materi (hedonistik), ingin mendapat rasa aman (security), ingin mendapatkan kekuasaan (otority), dan ingin mendapatkan dan menikmati keindahan (estetika) dan kebaikan (etika).

Dengan demikian dapat diketahui, bahwa fitrah yang ada pada manusia, ialah potensi dasar, yaitu berupa kecenderungan untuk berilmu dan menyukai kebenaran, kecenderungan untuk berseni dan menyukai keindahan, kecenderungan untuk mengikuti nafsu biologis, nafsu sahwat, dan bakat bawaan yang diberikan oleh orang tua, serta naluri (insting).


Baca Juga :