Inovasi Mahasiswa Ubaya, Alat Bantu Uji Kelarutan Obat

Inovasi Mahasiswa Ubaya, Alat Bantu Uji Kelarutan Obat

Inovasi Mahasiswa Ubaya, Alat Bantu Uji Kelarutan Obat

Inovasi Mahasiswa Ubaya, Alat Bantu Uji Kelarutan Obat
Inovasi Mahasiswa Ubaya, Alat Bantu Uji Kelarutan Obat

Mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) kembali melahirkan inovasi, kali ini mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik, Yuliani Kurniawan menciptakan alat bantu Farmasis untuk uji kelarutan obat secara otomatis.

Alat ini dapat membantu Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia dalam menguji kadar zat khasiat satu produksi obat berbentuk tablet yang beredar di masyarakat.

Pengujian kelarutan obat merupakan faktor penting untuk mengetahui standar mutu obat yang beredar di masyarakat sesuai Farmakope Indonesia. BPOM memiliki tugas penting dalam mengawal keamanan obat yang beredar. Mengetahui hal tersebut, Yuliadi Kurniawan mendapat ide merancang alat uji kelarutan obat secara otomatis yang dapat digunakan oleh BPOM maupun laboratorium Farmasi untuk menguji standar mutu produksi obat berbentuk tablet.

“Seandainya larutan obat telah sesuai dengan standar mutu yang

ditetapkan oleh Farmakope Indonesia, maka dapat disimpulkan bahwa obat bisa diserap baik didalam tubuh. Ide awal pembuatan alat ini berawal ketika saya bekerja di BPOM Surabaya. Saya melihat Farmasis masih menggunakan cara manual untuk pengambilan sampel larutan obat kemudian saya coba membuat alat uji kelarutan yang dapat digunakan secara otomatis,” ucap mahasiswa angkatan 2016 ini, Kamis (7/11/2019).

Cara kerja alat yang dibuat mahasiswa asal Sidoarjo ini dirancang secara otomatis menggunakan database yang telah diprogram pada laptop atau komputer sehingga mempermudah Farmasis dalam pengambilan sampel larutan obat. Setiap obat yang diuji memiliki syarat yang berbeda berdasarkan suhu, waktu, dan kecepatan pengadukan yang telah ditetapkan Farmakope Indonesia.

Awalnya Farmasis dapat mengambil satu obat tablet yang akan diuji.

Kemudian memasukkan obat tablet ke dalam tabung yang berisi larutan untuk proses pengadukan sesuai yang ditentukan Farmakope Indonesia, sebagai contoh larutan Aquades atau HCl 0.1 N. Setelah itu, Farmasis dapat mengisi database dengan identitas user (pengguna), nama obat, tanggal praktikum, suhu, waktu, dan kecepatan. Kemudian setelah terisi datanya maka Farmasis dapat menekan tombol mulai pada layar monitor untuk memulai proses uji kelarutan obat.

Nantinya terdapat alarm yang berbunyi sebagai pengingat jika uji kelarutan

telah selesai sesuai waktu pengadukan yang telah ditentukan. Sampel larutan obat yang sudah mengalami proses pengadukan secara otomatis akan diambil sebanyak 50 ml dan masuk pada gelas ukur yang akan diuji kembali untuk mengetahui kadar larutan obat.

 

Baca Juga :