Inovasi Lalu Lintas Berbasis IoT dari Mahasiswa Universitas Narotama

Inovasi Lalu Lintas Berbasis IoT dari Mahasiswa Universitas Narotama

Inovasi Lalu Lintas Berbasis IoT dari Mahasiswa Universitas Narotama

Inovasi Lalu Lintas Berbasis IoT dari Mahasiswa Universitas Narotama
Inovasi Lalu Lintas Berbasis IoT dari Mahasiswa Universitas Narotama

Seringnya terjadi penumpukan kendaraan saat lampu merah, menjadi perhatian dosen dan mahasiswa Sistem Komputer Universitas Narotama Surabaya. Slamet Winardi, S.T.,M.T dan Sandi Ifan Maulana kemudian menganalisa beberapa lampu lalu lintas di Surabaya yang seringkali mengalami penumpukan kendaraan yang berbuah kemacetan.

“Di semua lampu lalu lintas, durasinya selalu tetap meskipun jumlah

kendaraan yang melintas tidak sama di setiap jam. Saat jam padat kendaraan, durasi tersebut kemudian menimbulkan kemacetan yang cukup parah,” kata Sandi.

Sandi dan Slamet kemudian membuat penelitian untuk menentukan durasi lampu lalu lintas berdasarkan jumlah kendaraan bermotor dengan mendeteksi plat nomor berbasis Internet of Things. “Tujuannya adalah untuk menghindari salah satu jalur dengan lampu lalu lintas mengalami penumpukan kendaraan saat volume kendaraan cukup banyak,” lanjut pria kelahiran 25 April 1994 itu.

Penelitian ini mengacu pada penelitian sebelumnya oleh mahasiswa Sistem

Komputer Universitas Narotama bimbingan Slamet dengan menggunakan chip digital tipe wimos dan scanner. “Cara kerjanya adalah dengan meletakkan chip digital pada jarak sekitar 50 meter dari lampu lalu lintas. Chip wimos akan memancarkan wi-fi yang terkoneksi dengan scanner di setiap lampu lalu lintas. Scanner tersebut yang kemudian mendeteksi kendaraan bermotor,” jelas Sandi.

Pendeteksian kendaraan bermotor juga berbasis internet of things yaitu dengan chip digital yang ditanam pada setiap kendaraan kemudian dimasukkan ke dalam database pusat. Sehingga penelitian ini memang masih membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk diterapkan.

“Setiap kendaraan yang terdeteksi melintas di lampu lalu lintas kemudian

dikirim ke pusat untuk diolah dengan rumus. Pengolahan data itu dilakukan untuk menentukan berapa durasi lampu lalu lintas yang paling tepat agar tidak terjadi kemacetan,” papar pria asal Jepara itu.

Sandi mengatakan pengiriman data kendaraan ke pusat database berdasarkan simulasinya masih mengalami keterlambatan 1 detik namun sudah bisa menghitung durasi tepat untuk lampu hijau, yaitu 24 detik setiap 5 kendaraan. “Untuk lampu merah, database harus mengolah data kendaraan dari setiap sisi lampu lalu lintas baru bisa mengkalkulasikan durasi yang tepat,” katanya.

 

Sumber :

https://www.ram.co.id/