Waktu yang Pas Berkata ‘Tidak’ Dalam Pekerjaan

Waktu yang Pas Berkata ‘Tidak’ Dalam Pekerjaan

“It’s only by saying ‘NO’ that you can concentrate on the things that are really important.” – Steve Jobs. Berdasarkan keterangan dari pendiri Apple inc. itu, keberanian berbicara ‘tidak’ dapat membantu seseorang guna lebih konsentrasi dan menyerahkan hasil terbaik di distrik kerjanya. Apakah itu berbicara ‘tidak’ untuk sesama kolega, atasan, atau seorang manajer untuk stafnya.

Pertanyaannya, dalam situasi seperti apa seorang karyawan bisa berbicara ‘tidak’ guna tantangan kegiatan yang datang? Apakah itu berbicara ‘tidak’ untuk atasan, sesama kolega, atau untuk bawahan. Seperti apa etika dan langkah-langkah yang dapat Anda lakukan? Simak pembahasan dan tip dari founder Daya Lima Family, suatu jasa konsultan yang bergerak dalam bidang people strategist, Rozan Anwar.

Di lingkungan kerja berlaku sistem prioritas. Tiap orang mempunyai to-do list masing-masing, mulai dari CEO, manajer, staf, sampai office boy. Namun, perlu dikenang juga bahwa dalam dunia karier, seorang profesional tidak bicara soal beban kerja, namun tanggung jawab kerja.

Tak jarang, di tengah perjalanan merampungkan pekerjaan, anda mendapat tugas tambahan. Hal-hal laksana ini sering kali tidak terhindarkan. Namun, bukan berarti kita hanya dapat menganggukkan kepala, walau pada prakteknya keputusan ini bakal berkonsekuensi buruk pada kualitas kerja dan performa Anda.

“Sebelumnya, yang mesti ditekankan ialah bukannya anda menolak. Namun, kita menyuruh rekan, atasan, atau bawahan anda untuk beranggapan ulang bareng mencari solusinya. Bahwa andai pekerjaan ekstra ini memang mesti dikerjakan, dengan beban kerja yang sudah ada, maka bakal ada konsekuensi yang mesti ditanggung bersama,” jelas lelaki yang sudah 25 tahun menjadi pengajar di bidang SDM di sekian banyak universitas, tergolong Universitas Indonesia, ini.

Menurutnya, urusan ini sebetulnya tidak bakal menimbulkan tidak sedikit masalah andai organisasi atau institusi kerja itu mempunyai sistem manajemen kinerja yang diturunkan dalam key performance indicator (KPI). Jika telah jelas target yang mesti dijangkau dalam periode tertentu, contohnya mingguan, bulanan, atau tahunan, maka kita dapat mengacu pada sistem ini.

Pendekatan dengan mengacu pada KPI ini, jelas Rozan, memungkinkan kedua belah pihak guna memahami situasi dan target kerja. Sebab, andai memang tugas ekstra ini mempunyai sifat urgent dan mesti dikerjakan, maka kedua belah pihak sudah sepakat dengan konsekuensi yang bakal dihadapi. Apakah tersebut penyusunan ulang prioritas kerja, peningkatan tenggat, atau peningkatan SDM.

“Dengan demikian, setting kondisinya bukan guna gagal, tapi mengejar solusi untuk kebajikan bersama. Sebab, kesepakatan yang lantas terjadi tetap mengacu pada persetujuan bareng dalam manajemen kinerja atau KPI,” tegas Rozan.

Baca Juga :