Tempe Indonesia Digemari Masyarakat Jepang

Tempe Indonesia Digemari Masyarakat Jepang

Tempe Indonesia Digemari Masyarakat Jepang

Tempe Indonesia Digemari Masyarakat Jepang
Tempe Indonesia Digemari Masyarakat Jepang

Hampir semua masyarakat Indonesia mengenal tempe. Makanan ini rutin tersaji di meja makan berbagai kalangan sosial. Mulai dari orang kaya, miskin, pengusaha, artis, pejabat, semua suka tempe. Entah sejak kapan tempe ini menyatu dengan rakyat Indonesia. Yang pasti, begitu memberikan makanan padat pertama, rata-rata ibu di Indonesia mengenalkan tempe pada anaknya. Mungkin kebiasaan ini sudah berlangsung dari dulu, sampai akhirnya kelezatan tempe menempel dari lidah generasi ke generasi.

Saat krisis ekonomi menghimpit Indonesia, tempe menjadi penyelamat. Murahnya harga dan kandungan zat isoflavone di dalamnya mampu menopang kebutuhan gizi jutaan masyarakat miskin. Itu sebabnya tempe bisa dikategorikan sebagai makanan dengan kandungan gizi terbaik di Indonesia. Thanks to tempe.

Kabar kurang mengenakkan dari tempe justru terjadi tahun 2004 lalu. Berkat “kesaktiannya” itu, Jepang mematenkan tempe. Banyak orang Indonesia yang resah, tapi segera mereda. Ternyata Jepang mematenkan tempe versi mereka sendiri, namanya natto. Sama seperti tempe kita, natto menyehatkan. Terbuat dari kedelai rebus dan diragi. Bedanya natto lebih basah dan apek. Natto dikenal sejak 950 tahun lalu. Ketika seseorang bernama Hachimantaro Yoshiie dan rekan-rekannya harus mengungsi dari ancaman militer klan Abe. Saat itu mereka membawa berkarung-karung kedelai rebus. Begitu tiba di pengungsian, kedelai rebus tadi sudah berubah menjadi natto. Sejak itulah, natto diproduksi oleh banyak perusahaan. Dijual bersama tahu dan susu kedelai.

Lalu bagaimana dengan tempe Indonesia, apa orang Jepang juga mengenalnya? Yup, bangsa Jepang sangat suka tempe kita. Mereka menyebutnya Indonesia no natto. Mereka juga memproduksi dalam skala besar. Baik industri rumah tangga maupun pabrik. Yang mencengangkan, orang Jepang mengadakan kursus masak tempe dan melakukan riset masakan tempe Indonesia.

Karena orang Jepang sangat percaya Indonesia no natto berkhasiat bagi kesehatan dan kecantikan. Maka mereka lebih suka makan tempe mentah. Kalaupun digoreng atau dipanggang, mereka tidak menambahkan bumbu alias tetap tawar. Tempe goreng biasanya dimakan bersama lobak parut dan kecap Jepang. Kalau untuk menemani minum sake, tempe diberi gula agar manis.

Bila di negeri asalnya (Indonesia) tempe bisa diperoleh dengan harga 1000 rupiah, di Jepang tempe menjadi makanan mahal. Satu kantong plastik atau sekitar 150 gram berharga di atas 300 yen. Harga ini setara dengan harga daging sapi impor Australia seberat 300 gram. Wah, jika di Jepang tempe menjadi makanan mahal, mengapa kita merasa lebih bangga menyantap daging impor dibanding tempe? Padahal melahap sepotong tempe sangat menyehatkan sekaligus menjaga agar makanan tradisional tidak kehilangan hak paten. Cara lain agar tempe tetap lestari adalah jangan pernah bosan membuat inovasi hidangan dari tempe.

Sumber : https://downloadapk.co.id/