KISAH NABI IBRAHIM A.S.

Table of Contents

KISAH NABI IBRAHIM A.S.

Nabi Ibrahim adalah putera Aaazar Tarih bin Tahur bin Saruj bin Rau’ bin Falij bin Aaabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh A.S.Ia dilahirkan di sebuah area bernama “Faddam A’ram” di dalam kerajaan “Babylon” yang pd sementara itu diperintah oleh seorang raja bernama “Namrud bin Kan’aan.”
Kerajaan Babylon pd era itu juga kerajaan yang makmur rakyat hidup senang, sejahtera di dalam kondisi serba lumayan sandang mahupun pandangan dan juga saranan-saranan yang jadi kepentingan perkembangan jasmani mrk.Akan namun tingkatan hidup rohani mrk masih berada di tingkat jahiliyah. Mrk tidak mengenal Tuhan Pencipta mrk yang sudah mengurniakan mrk bersama segala kenikmatan dan kebahagiaan duniawi. Persembahan mrk adalah patung-patung yang mrk pahat sendiri dari batu-batu atau terbuat dari lumpur dan tanah.

Raja mereka Namrud bin Kan’aan mobilisasi tampuk pemerintahnya bersama tangan besi dan kekuasaan mutlak.Semua kehendaknya harus terlaksana dan segala perintahnya merupakan undang-undang yang tidak dpt dilanggar atau di tawar. Kekuasaan yang besar yang berada di tangannya itu dan kemewahan hidup yang berlebuh-lebihanyang ia menikmati lama-kelamaan menjadikan ia tidak senang bersama kedudukannya sebagai raja. Ia merasakan dirinya patut disembah oleh rakyatnya sebagai tuhan. Ia berfikir terkecuali rakyatnya mahu dan rela menyembah patung-patung yang terbina dari batu yang tidal dpt memberi faedah dan mendtgkan kebahagiaan bagi mrk, mengapa bukan dialah yang disembah sebagai tuhan.Dia yang dpt berbicara, mampu mendengar, dpt berfikir, dpt memimpin mrk, mempunyai kemakmuran bagi mrk dan membiarkan dari kesengsaraan dan kesusahan. Dia yang dpt membuat perubahan orang miskin jadi kaya dan orang yang hina-dina diangkatnya jadi orang mulia. di samping itu semuanya, ia adalah raja yang berkuasa dan punya negara yang besar dan luas.

Di tengah-tengah penduduk yang sedemikian buruknya lahir dan dibesarkanlah Nabi Ibrahim dari seorang bapak yang bekerja sebagai pemahat dan pedagang patung. Ia sebagai calun Rasul dan pesuruh Allah yang akan mempunyai pelita kebenaran kepada kaumnya,jauh-jauh sudah diilhami akal sihat dan fikiran tajam dan juga kesedaran bahwa apa yang sudah diperbuat oleh kaumnya juga ayahnya sendiri adalah perbuat yang sesat yang pertanda kebodohan dan kecetekan fikiran dan bahwa persembahan kaumnya kepada patung-patung itu adalah perbuatan mungkar yang harus dibanteras dan diperangi sehingga mrk kembali kepada persembahan yang benar ialah persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan pencipta alam semesta ini.

Semasa remajanya Nabi Ibrahim sering disuruh ayahnya keliling kota menjual patung-patung buatannya namun gara-gara iman dan tauhid yang sudah diilhamkan oleh Tuhan kepadanya ia tidak bersemangat untuk menjual brg-brg itu apalagi secara mengejek ia menawarkan patung-patung ayahnya kepada calun customer bersama kata-kata: ” Siapakah yang akan belanja patung-patung yang tidak berfungsi ini? ”

Nabi Ibrahim Ingin Melihat Bagaimana Makhluk Yang Sudah Mati Dihidupkan Kembali Oleh Allah

Nabi Ibrahim yang sudah berketetapan hati hendak memerangi syirik dan persembahan berhala yang berlaku di dalam penduduk kaumnya ingin lebih dahulu mempertebalkan iman dan keyakinannya, menenteramkan
hatinya dan juga membersihkannya dari keragu-raguan yang barangkali esekali mangganggu fikirannya bersama memohon kepada Allah sehingga diperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati.Berserulah ia kepada Allah: ” Ya Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku bagaimana engkau menghidupkan makhluk-makhluk yang sudah mati.” Allah menjawab seruannya bersama berfirman: ”Tidakkah engkau beriman dan yakin kepada kekuasaan-Ku?” Nabi Ibrahim menjawab: ” Betul, wahai Tuhanku, saya sudah beriman dan yakin kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu, namun saya ingin sekali lihat itu bersama mata kepala ku sendiri, sehingga saya mendapat ketenteraman dan ketenangan dan hatiku dan sehingga makin jadi tidak tipis dan kukuh keyakinanku kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu.”

Allah memperkenankan permintaan Nabi Ibrahim lalu diperintahkanlah ia menangkap empat ekor burung lalu sehabis memperhatikan dan meneliti bahagian tubuh-tubuh burung itu, memotongnya jadi berkeping-keping mencampur-baurkan sesudah itu tubuh burung yang sudak hancur-luluh dan bercampur-baur itu di tempatkan di atas puncak setiap bukit dari empat bukit yang letaknya berjauhan satu dari yang lain.
Setelah dijalankan apa yang sudah diisyaratkan oleh Allah itu, diperintahnyalah Nabi Ibrahim memanggil burung-burung yang sudah terkoyak-koyak tubuhnya dan terpisah jauh masing-masing bahagian tubuh burung dari bahagian yang lain.

Dengan izin Allah dan kuasa-Nya datanglah berterbangan enpat ekor burung itu di dalam kondisi utuh bernyawa layaknya sedia sementara begitu mendengar seruan dan panggilan Nabi Ibrahim kepadanya lalu hinggaplah empat burung yang hidup kembali itu di depannya, diamati bersama mata kepalanya sendiri bagaimana Allah YAng Maha Berkuasa dpt menghidupkan kembali makhluk-Nya yang sudah mati sebagaimana Dia menciptakannya dari suatu hal yang tidak ada. Dan bersama demikianlah tercapailah apa yang di inginkan oleh Nabi Ibrahim untuk mententeramkan hatinya dan menyingkirkan barangkali ada kesangsian di di dalam iman dan keyakinannya, bahwa kekuasaan dan tekad Allah tidak ada suatu hal pun di langit atau di bumi yang dpt menghambat atau menentangnya dan hanya kata “Kun” yang difirmankan Oleh-Nya maka terjadilah akan apa yang dikenhendaki ” Fayakun”.

Nabi Ibrahim Berdakwah Kepada Ayah Kandungnya

Aazar, bapak Nabi Ibrahim tidak terkecuali sebagaimana kaumnya yang lain, bertuhan dan menyembah berhala bah ia adalah pedagang dari patung-patung yang dibikin dan dipahatnya sendiri dan drpnya orang belanja patung-patung yang dijadikan persembahan.
Nabi Ibrahim menjadi bahwa kewajiban pertama yang harus ia melakukan sebelum berdakwah kepada orang lain ialah menyedarkan bapak kandungnya pernah orang yang paling dekat kepadanya bahwa keyakinan dan persembahannya kepada berhala-berhala itu adalah perbuatan yang sesat dan bodoh.Beliau merasakan bahawa kebaktian kepada ayahnya mewajibkannya memberi penerangan kepadanya sehingga membiarkan keyakinan yang sesat itu dan mengikutinya beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Dengan sikap yang sopan dan adab yang patut ditunjukkan oleh seorang anak pada orang tuanya dan bersama kalimat yang halus ia dtg kepada ayahnya menyampaikan bahwa ia diutuskan oleh Allah sebagai nabi dan rasul dan bahawa ia sudah diilhamkan bersama ilmu dan ilmu yang tidak dimiliki oleh ayahnya. Ia bertanya kepada ayahnya bersama lemah lembut gerangan apakah yang mendorongnya untuk menyembah berhala layaknya lain-lain kaumnya padahal ia sadar bahwa berhala-berhala itu tidak berfungsi sedikit pun tidak dpt mendtgkan keuntungan bagi penyembahnya atau menghindar kerugian atau musibah. Diterangkan pula kepada ayahnya bahwa penyembahan kepada berhala-berhala itu adalah cuman ajaran syaitan yang sebetulnya jadi musuh kepada manusia sejak Adam diturunkan ke bumi lagi. Ia berseru kepada ayahnya sehingga merenungkan dan berkhayal nasihat dan ajakannya berpaling dari berhala-berhala dan kembali menyembah kepada Allah yang menciptakan manusia dan semua makhluk yang dihidupkan memberi mrk rezeki dan kenikmatan hidup dan juga menguasakan bumi bersama segala isinya kepada manusia.

Aazar jadi merah mukanya dan melotot matanya mendengar kalimat seruan puteranya Nabi Ibrahim yyang ditanggapinya sebagai dosa dan perihal yang kurang patut bahwa puteranya sudah berani mengecam dan menghina keyakinan ayahnya apalagi mengajakkannya untuk meninggalkan keyakinan itu dan menganut keyakinan dan agama yang ia bawa. Ia tidak menyembunyikan murka dan marahnya namun dinyatakannya di dalam kalimat yang kasar dan di dalam maki hamun seakan-akan tidak ada hunbungan diantara mereka. IA bicara kepada Nabi Ibrahim bersama suara gusar: ” Hai Ibrahim! Berpalingkah engkau dari keyakinan dan persembahanku ? Dan keyakinan apakah yang engkau berikan kepadaku yang menganjurkan sehingga saya mengikutinya? Janganlah engkau menghidupkan amarahku dan cuba mendurhakaiku.Jika engkau tidak menghentikan penyelewenganmu dari agama ayahmu tidak engkau hentikan usahamu mengecam dan memburuk-burukkan persembahanku, maka keluarlah engkau dari rumahku ini. Aku tidak rela bercampur denganmu di dalam suatu tempat tinggal di bawah suatu atap. Pergilah engkau dari mukaku sebelum saya menimpamu bersama batu dan mencelakakan engkau.”

Nabi Ibrahim terima kemarahan ayahnya, pengusirannya dan kalimat kasarnya bersama sikap tenang, normal selaku anak pada bapak seray berkata: ” Oh ayahku! Semoga engkau selamat, saya akan tetap memohonkan ampun bagimu dari Allah dan akan tinggalkan kamu bersama persembahan tidak cuman kepada Allah. Mudah-mudahan saya tidak jadi orang yang celaka dan malang bersama doaku utkmu.” Lalu keluarlah Nabi Ibrahim meninggalkan tempat tinggal ayahnya di dalam kondisi sedih dan prihati gara-gara tidak berhasil mengangkatkan ayahnya dari lembah syirik dan kufur.

Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala-berhala

Kegagalan Nabi Ibrahim di dalam usahanya menyedarkan ayahnya yang tersesat itu terlalu menusuk hatinya gara-gara ia sebagai putera yang baik ingin sekali lihat ayahnya berada di dalam jalur yang benar terangkat dari lembah kesesatan dan syirik namun ia sedar bahwa hidayah itu adalah di tangan Allah dan bagaimana pun ia ingin bersama sepenuh hatinya sehingga ayahnya mendpt hidayah ,bila belum diharapkan oleh Allah maka sia-sialah permintaan dan usahanya.
Penolakan ayahnya pada dakwahnya bersama cara yang kasar dan kejam itu tidak sedikit pun pengaruhi keputusan hatinya dan melemahkan semangatnya untuk berlangsung terus memberi penerangan kepada kaumnya untuk menyapu bersih persembahan-persembahan yang bathil dan kepercayaan-kepercayaan yang bertentangan bersama tauhid dan iman kepada Allah dan Rasul-Nya

Nabi Ibrahim tidak henti-henti di dalam setiap peluang mengajak kaumnya berdialog dan bermujadalah tentang keyakinan yang mrk anut dan ajaran yang ia bawa. Dan ternyata bahwa jikalau mrk sudah tidak berdaya menilak dan menyanggah alasan-alasan dan dalil-dalil yang dikemukakan oleh Nabi Ibrahim tentang kebenaran ajarannya dan kebathilan keyakinan mrk maka dalil dan alasan yang usanglah yang mrk kemukakan iaitu bahwa mrk hanya meneruskan apa yang oleh bapa-bapa dan nenek moyang mrk dijalankan dan sesekali mrk tidak akan membiarkan keyakinan dan agama yang sudah mrk warisi.

Nabi Ibrahim pd akhirnya menjadi tidak berfungsi kembali berdebat dan bermujadalah bersama kaumnya yang berkepala batu dan yang tidak mahu terima info dan bukti-bukti nyata yang dikemukakan oleh beliau dan selalu
berpegang pada satu-satunya alasan bahwa mrk tidak akan menyimpang dari cara persembahan nenek moyang mrk, walaupun oleh Nabi Ibrahim dinyatakan beberapa kali bahwa mrk dan bapa-bapa mrk salah dan tersesat ikuti jejak syaitan dan iblis.
Nabi Ibrahim sesudah itu merancang akan tunjukkan kepada kaumnya bersama perbuatan yang nyata yang mampu mrk lihat bersama mata kepala mrk sendiri bahwa berhala-berhala dan patung-patung mrk serius tidak berfungsi bagi mrk dan apalagi tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.

Adalah sudah jadi tradisi dan tradisi penduduk kerajaan Babylon bahwa setiap tahun mrk keluar kota beramai-ramai pd suatu hari raya yang mrk anggap sebagai keramat. Berhari-hari mrk tinggal di luar kota di suatu padang terbuka, berkhemah bersama mempunyai bekalan makanan dan minuman yang cukup. Mrk bersuka ria dan bersenang-senang sambil meninggalkan kota-kota mrk kosong dan sunyi. Mrk berseru dan mengajak semua penduduk sehingga keluar meninggalkan tempat tinggal dan ikut beramai -ramai menjunjung hari-hari suci itu. Nabi Ibrahim yang juga ikut diajak ikut dan juga berlagak berpura-pura sakit dan diizinkanlah ia tinggal di tempat tinggal apalagi mrk menjadi khuatir bahwa penyakit Nabi Ibrahim yang dibuat-buat itu akan menular dan menjalar di kalangan mrk jikalau ia ikut serta.

” Inilah dia peluang yang ku nantikan,” kata hati Nabi Ibrahim tatkala lihat kota sudah kosong dari penduduknya, sunyi senyap tidak terdengar terkecuali suara burung-burung yang berkicau, suara daun-daun pohon yang gemerisik ditiup angin kencang. Dengan mempunyai sebuah kapak ditangannya ia pergi menuju area beribadatan kaumnya yang sudah ditinggalkan tanpa penjaga, tanpa juru kunci dan hanya deretan patung-patung yang keluar diserambi area peribadatan itu. Sambil menunjuk kepada semahan bunga-bunga dan makanan yang berada di setiap kaki patung bicara Nabi Ibrahim, mengejek: ” Mengapa kamu tidak makan makanan yang lazat yang disaljikan bagi kamu ini? Jawablah saya dan berkata-katalah kamu.”
Kemudian disepak, ditamparlah patung-patung itu dan dihancurkannya berpotong-potong bersama kapak yang berada di tangannya. Patung yang besar ditinggalkannya utuh, tidak diganggu yang pada lehernya dikalungkanlah kapak Nabi Ibrahim itu.

Terperanjat dan terkejutlah para penduduk, tatkala pulang dari berpesta ria di luar kota dan lihat kondisi patung-patung, tuhan-tuhan mrk hancur berantakan dan jadi potongan-potongan terserak-serak di atas lantai. Bertanyalah satu kepada yang lain bersama suara hairan dan takjub: “Gerangan siapakah yang sudah berani melakukan perbuatan yang jahat dan keji ini pada tuhan-tuhan persembahan mrk ini?” Berkata salah seorang diantara mrk: ” Ada barangkali bahwa orang yang tetap mengolok-olok dan mengejek persembahan kita yang bernama Ibrahim itulah yang melakukan perbuatan yang berani ini.” Seorang yang lain meningkatkan info bersama berkata: ” Bahkan dialah yang tentu berbuat, gara-gara ia adalah satu-satunya orang yang tinggal di kota sewaktu kita semua berada di luar merayakan hari suci dan keramat itu.” Selidik punya selidik, akhirnya terdpt kepastian yang tidak diragukan kembali bahwa Ibrahimlah yang merusakkan dan memusnahkan patung-patung itu. Rakyat kota beramai-ramai mengulas perihal yang diakui suatu perihal atau penghinaan yang tidak dpt diampuni pada keyakinan dan persembahan mrk. Suara marah, jengkel dan kutukan terdengar dari segala penjuru, yang menuntut sehingga si pelaku diminta bertanggungjawab di dalam suatu pengadilan terbuka, di mana semua rakyat penduduk kota mampu ikut dan juga menyaksikannya.

Dan sebetulnya itulah yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim sehingga pengadilannya dijalankan secara terbuka di mana semua warga penduduk mampu ikut menyaksikannya. Karena bersama cara demikianlah beliau mampu secara terselubung berdakwah menyerang keyakinan mrk yang bathil dan sesat itu, seraya menerangkan kebenaran agama dan keyakinan yang ia bawa, terkecuali diantara yang ada ada yang masih boleh diharapkan terbuka hatinya bagi iman dari tauhid yang ia ajarkan dan dakwahkan.
Hari pengadilan ditentukan dan datang rakyat dari segala pelosok berduyung-duyung mengujungi padang terbuka yang di sediakan bagi sidang pengadilan itu.

Ketika Nabi Ibrahim datang menghadap para hakim yang akan mengadili ia disambut oleh para hadirin bersama teriakan kutukan dan cercaan, pertanda terlalu gusarnya para penyembah berhala pada beliau yang sudah berani menghancurkan persembahan mrk.

Ditanyalah Nabi Ibrahim oleh para hakim: ” Apakah engkau yang melakukan penghancuran dan merusakkan tuhan-tuhan kami?” Dengan tenang dan sikap dingin, Nabi Ibrahim menjawab: ” Patung besar yang berkalungkan kapak di lehernya itulah yang melakukannya. Cuba tanya saja kepada patung-patung itu siapakah yang menghancurkannya. ” Para hakim penanya terdiam sejenak seraya lihat yang satu kepada yang lain dan berbisik-bisik, seakan-akan Ibrahim yang mengandungi ejekan itu. Kemudian bicara si hakim: ” Engkaukan sadar bahwa patung-patung itu tidak mampu bercakap dan bicara mengapa engkau minta kita bertanya kepadanya?” Tibalah masanya yang sebetulnya dinantikan oleh Nabi Ibrahim,maka sebagai jawapan atas pertanyaan yang terakhir itu beliau berpidato membentangkan kebathilan persembahan mrk,yang mrk pertahankan mati-matian, cuman hanya gara-gara kebiasaan itu adalah warisan nenek-moyang. Berkata Nabi Ibrahim kepada para hakim itu: ” Jika demikianlah halnya, mengapa kamu sembah patung-patung itu, yang tidak mampu berkata, tidak mampu lihat dan tidak mampu mendengar, tidak mampu mempunyai faedah atau menolak mudharat, apalagi tidak mampu menopang dirinya dari kehancuran dan kebinasaan? Alangkah bodohnya kamu bersama keyakinan dan persembahan kamu itu! Tidakkah mampu kamu berfikir bersama akal yang sihat bahwa persembahan kamu adalah perbuatan yang salah yang hanya difahami oleh syaitan. Mengapa kamu tidak menyembah Tuhan yang menciptakan kamu, menciptakan alam sekeliling kamu dan menguasakan kamu di atas bumi bersama segala mengisi dan kekayaan. Alangkah hina dinanya kamu bersama persembahan kamu itu.”

Setelah selesai Nabi Ibrahim menguraikan pidatonya iut, para hakim mencetuskan keputusan bahawa Nabi Ibrahim harus dibakar hidup-hidup sebagai ganjaran atas perbuatannya menghina dan menghancurkan tuhan-tuhan mrk, maka berserulah para hakim kepada rakyat yang ada lihat pengadilan itu: ” Bakarlah ia dan belalah tuhan-tuhanmu , terkecuali kamu terlalu setia kepadanya.”

Nabi Ibrahim Dibakar Hidup-hidup

Keputusan mahkamah sudah dijatuhakan.Nabi Ibrahim harus dihukum bersama membakar hidup-hidup di dalam api yang besar sebesar dosa yang sudah dilakukan. Persiapan bagi upacara pembakaran yang akan disaksikan oleh semua rakyat sedang diaturkan. Tanah lapang bagi area pembakaran di sediakan dan diadakan pengumpulan kayu bakar bersama banyaknya dimana tiap penduduk secara gotong-royong harus mengambil bahagian mempunyai kayu bakar sebanyak yang ia mampu sebagai tanda bakti kepada tuhan-tuhan persembahan mrk yang sudah dihancurkan oleh Nabi Ibrahim.

Berduyun-duyunlah para penduduk dari segala penjuru kota mempunyai kayu bakar sebagai sumbangan dan tanda bakti kepada tuhan mrk. Di pada terdapat para wanita yang hamil dan orang yang sakit yang mempunyai sumbangan kayu bakarnya bersama harapan memperolehi barakah dari tuhan-tuhan mereka bersama membuat sembuh penyakit mereka atau menjaga yang hamil di sementara ia bersalin.
Setelah terkumpul kayu bakar di lanpangan yang di sediakan untuk upacara pembakaran dan tertumpuk dan juga tersusun laksan sebuah bukit, berduyun-duyunlah orang datang untuk lihat pelaksanaan hukuman atas diri Nabi Ibrahim. Kayu lalu dibakar dan terbentuklah gunung berapi yang dahsyat yang sedang berterbangan di atasnya berjatuhan terbakar oleh panasnya wap yang ditimbulkan oleh api yang menggunung itu. Kemudian di dalam kondisi terbelenggu, Nabi Ibrahim didtgkan dan dari atas sebuah gedung yang tinggi dilemparkanlah ia kedalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu bersama iringan firman Allah: ” Hai api, menjadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.”

Sejak keputusan hukuman dijatuhkan sampai sementara ia dilemparkan ke di dalam bukit api yang menyala-nyala itu, Nabi Ibrahim tetap tunjukkan sikap tenang dan tawakkal gara-gara iman dan keyakinannya bahwa Allah tidak akan rela membiarkan hamba pesuruhnya jadi makanan api dan kurban keganasan orang-orang kafir musuh Allah. Dan sebetulnya demikianlah apa yang berlangsung tatkala ia berada di dalam perut bukit api yang dahsyat itu ia menjadi dingin sesuai bersama seruan Allah Pelindungnya dan hanya tali temali dan rantai yang mengikat tangan dan kakinya yang terbakar hangus, sedang tubuh dan busana yang terlekat pada tubuhnya tetap utuh, tidak sedikit pun tersentuh oleh api, perihal mana merupakan suatu mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada hamba pilihannya, Nabi Ibrahim, sehingga mampu melanjutkan penyampaian risalah yang ditugaskan kepadanya kepada hamba-hamba Allah yang tersesat itu.

Para pemirsa upacara pembakaran hairan tercenggang tatkala lihat Nabi Ibrahim keluar dari bukit api yang sudah padam dan jadi abu itu di dalam kondisi selamat, utuh bersama pakaiannya yang tetap berda layaknya biasa, tidak ada gejala sentuhan api sedikit jua pun. Mereka bersurai meninggalkan lapangan di dalam kondisi hairan seraya bertanya-tanya pada diri sendiri dan di pada satu sama lain bagaimana perihal yang ajaib itu berlaku, padahal menurut pemikiran mereka dosa Nabi Ibrahim sudah nyata mendurhakai tuhan-tuhan yang mereka puja dan sembah.Ada sebahagian drp mrk yang di dalam hati kecilnya menjadi meragui kebenaran agama mrk namun tidak berani melahirkan rasa ragu-ragunya itu kepada orang lain, sedang para pemuka dan para pemimpin mrk menjadi kecewa dan malu, gara-gara hukuman yang mrk jatuhkan ke atas diri Nabi Ibrahim dan kesibukan rakyat mengumpulkan kayu bakar sepanjang berminggu-minggu sudah berakhir bersama kegagalan, sehingga mrk menjadi malu kepada Nabi Ibrahim dan para pengikutnya.

Mukjizat yang diberikan oleh Allah s.w.t. kepada Nabi Ibrahim sebagai bukti nyata akan kebenaran dakwahnya, sudah menimbulkan kegoncangan di dalam keyakinan sebahagian penduduk pada persembahan dan patung-patung mrk dan membuka mata hati banyak drp mrk untuk berkhayal kembali ajakan Nabi Ibrahim dan dakwahnya, apalagi tidak kurang drp mrk yang ingin tunjukkan imannya kepada Nabi Ibrahim, namun khuatir akan mendapat kesukaran di dalam penghidupannya akibat kemarahan dan balas dendam para pemuka dan para pembesarnya yang barangkali akan jadi hilang akal jikalau merasakan bahwa pengaruhnya sudah bealih ke pihak Nabi Ibrahim.

Sumber : https://tokoh.co.id/

Baca Juga :