Kami Shibai, sebuah budaya cerita…

Kami Shibai, sebuah budaya cerita

Kami Shibai, sebuah budaya cerita…

Kami Shibai, sebuah budaya cerita
Kami Shibai, sebuah budaya cerita

Selasa lalu siswa-siswi SD SRIT dihibur oleh pertunjukkan Kami Shibai, sebuah budaya cerita yang ada di Jepang sejak ratusan tahun silam. Secara etimologis Kami Shibai dapat diartikan sebagai cerita bergambar yang terbuat dari kertas, namun secara sosiologis ia bisa diartikan sebagai budaya tutur bergambar yang menjadi media berkembangnya cerita-cerita rakyat maupun cerita anak-anak yang tumbuh dan berkembang di negeri sakura. Secara ekonomis Kami Shibai adalah juga budaya ekonomi sebagian rakyat kecil Jepang pada ratusan tahun silam. Menurut sejarahnya pada ratusan tahun silam lalu budaya Kami Shibai sesungguhnya berfungsi untuk menghibur anak-anak dan sekaligus menjajakan jajanan yang dijual untuk anak-anak. Budaya tutur yang menghibur dan mencerdaskan sekaligus berfungsi ekonomis bagi para pelaku budaya Kami Shibai dimasa lalu.

Kini budaya yang sudah berumur itu masih tetap terpelihara dan terus dikembangkan oleh para pegiat budaya di Jepang. Hal ini terlihat seperti yang terjadi pada Selasa lalu di Sekolah RI Tokyo. Pegiat Kami Shibai asal Indonesia yang sudah berkeluarga dengan orang Jepang dan menetap lama di negeri sakura menunjukkan kebolehannya dalam mengapresiasi budaya yang sudah berumur itu. Pegiat budaya yang dimaksud adalah Silvia Cakrawati Mihira. Kemampuanya bertutur patut diacungkan jempol, sebab mampu membuat siswa-siswi SD SRIT berdecak kagum, sedih, kesel, dan gembira. Hari itu Silvia San menunjukkan lembaran-lembaran gambar berwarna dari sebuah box kecil yang diposisikan seperti mini screen . Dengan gambar-gambar yang menarik membuat anak-anak antusias untuk melihatnya. Bertuturnya lalu meluncur dengan gaya bahasanya yang menarik, walhasil cerita bawang merah-bawang putih, lalu cerita rakyat dari Vietnam tentang perdebatan para binatang mengenai dari mana terbitnya matahari, dan cerita tentang anak muda Jepang yang dikejar-kejar penjahat yang bisa mewujud menjadi raksasa perempuan tua namun kemudian penggangu atau penjahat itu berubah wujud menjadi kacang setelah sang pemuda Jepang masuk kuil dan dilindungi biksu hingga kemudian raksasa nenek perempuan itu menjadi mengecil menjadi kacang dan dimakan dengan nikmat oleh sang biksu bagai kacang goreng yang gurih. Tentu saja cerita ini penuh variasi hingga menimbulkan reaksi tertawa anak-anak SD SRIT yang nonton selama satu jam tanpa terasa.

Terlepas dari itu semua, kita bisa mengambil pelajaran bahwa budaya tutur masyarakat Jepang masih terus terpelihara meski sudah berumur ratusan tahun. Sebuah apresiasi budaya yang hebat, sebab pegiat budaya Kami Shibai ini juga memiliki komunitasnya sendiri dan Silvia San adalah bagian dari komunitas itu. Kita layaknya perlu bangga dengan upaya Silvia San dalam mendalami budaya tutur negeri samurai ini.

Sumber : https://filehippo.co.id/