Sempat Tidak Percaya Diri, Hadyan Imal Fathoni Raih Emas dan Best MMT di OSN 2019

Sempat Tidak Percaya Diri, Hadyan Imal Fathoni Raih Emas dan Best MMT di OSN 2019

Sempat Tidak Percaya Diri, Hadyan Imal Fathoni Raih Emas dan Best MMT di OSN 2019

Sempat Tidak Percaya Diri, Hadyan Imal Fathoni Raih Emas dan Best MMT di OSN 2019
Sempat Tidak Percaya Diri, Hadyan Imal Fathoni Raih Emas dan Best MMT di OSN 2019

Gelisah melanda salah seorang peserta Olimpiade Sains Nasional (OSN) asal Jawa Barat, Hadyan Imal Fathoni saat pengumuman juara berlangsung pada Jumat (5/7/2019). Bukan tanpa alasan mengapa Imal pesimis. Ia mengaku sempat buntu ketika mengerjakan beberapa soal yang dianggapnya sulit. “Saya sudah maksimal, tapi memang sempat stuck di beberapa soal,” ujarnya.

Namun seperti kata pepatah, usaha takkan pernah mengkhianati hasil. Akhirnya, namanya disebut sebagai salah satu peraih medali emas di bidang geografi. Lebih dari itu, ia pun berhasil menyabet predikat best multimedia test. Usahanya tersebut ternyata membuahkan hasil.

“Pengumuman dimulai dari peraih perunggu. Ketika enggak ada nama saya sebagai peraih medali perunggu ataupun perak, saya sudah mulai nangis dan pasrah, udah enggak berharap apa-apa. Tapi ternyata pas nama saya diumumkan sebagai peraih emas, saya kaget banget. Saya langsung teriak dan lari ke panggung, pokoknya pecah banget,” cerita Imal saat dihubungi, Selasa (9/7/2019).

Empat Proses Ujian

Imal menjelaskan, proses ujian di bidang geografi terbagi menjadi dua kategori, yakni ujian tulis dan praktik. Untuk ujian tulis terbagi tiga bagian, yakni esai, multimedia test (pilihan ganda), dan uji laboratorium. “Sedangkan praktiknya kita langsung ke lapangan. Tepatnya ke Pasar 45 dan Taman Persatuan Bangsa di Manado untuk melakukan observasi ke warga sekitar,” tuturnya.

Ia mengaku, uji laboratorium menjadi ujian yang paling sulit karena harus mencocokkan data ke dalam grafik. “Grafiknya banyak banget, ini yang paling sulit,” katanya.

Selain mendapat pengalaman baru, siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Kota Bekasi ini juga mendapatkan banyak teman dari berbagai wilayah yang ada di Indonesia. “Menarik bisa berteman dengan mereka yang memiliki logat bicara berbeda. Bahkan, ada beberapa yang masih saling kontak lewat grup di media sosial,” tambahnya.

Modal Nekat

Imal menuturkan, salah satu faktor yang membuat ia meraih best multimedia test adalah keberaniannya mengerjakan seluruh soal yang berjumlah 40. Berdasarkan ketentuan yang berlaku di kategori multimedia test, peserta yang menjawab soal dengan benar akan diberi poin +3. Sedangkan jawaban salah diberi poin -1 dan jika tidak menjawab akan diberi poin 0.

“Saya memilih mengerjakan semua 40 soal tersebut, memang modal nekat banget,” ungkapnya.

Bukan tanpa alasan mengapa Imal nekat mengerjakan semua soal tersebut. Ia meyakini, pilihannya tepat setelah mengakumulasi perkiraan poin sesuai aturan yang berlaku. “Karena, kalau kita salah menjawab satu soal, itu sama saja dapat -4 poin dan kalau enggak jawab, sama dengan dapet -3 poin,” paparnya.

Pada prosesnya, Imal berusaha berhati-hati saat menjawab soal. Alih-alih menjawab langsung, Imal lebih memilih mengulas soal satu per satu. “Jika ada soal yang sudah yakin jawabannya, saya tandai dulu. Ketika sudah fix, baru saya isi pakai pulpen,” ujarnya.

Meski hasil ujian belum keluar, namun predikat best multimedia test yang diraih Imal membuktikan bahwa pilihannya itu tidak keliru.

Sempat Tidak Percaya Diri

Meski berhasil meraih medali emas dan penghargaan lainnya, Imal

mengaku sempat tidak percaya diri. Terlebih saat berkumpul dengan seluruh peserta olimpiade, ia sempat merasa minder. “Ketika ketemu sama siswa lain yang lolos, langsung ngerasa gugup aja. Takutnya enggak bisa, takutnya mereka jauh lebih pintar dari saya,” ungkapnya.

Namun, perasaan tersebut hilang seketika saat ia mulai berbagi

pengalaman dengan seluruh peserta lainnya. “Alhamdulillah dapat saran dari mereka agar saya enjoy menghadapinya. Juga enggak ada tekanan dari pihak sekolah yang mewajibkan saya dapat juara. Jadi, lebih enak menjalaninnya,” tutur siswa yang baru pertama kali mengikuti olimpiade tingkat nasional ini.

Dalam menghadapi OSN, siswa kelahiran Desember 2001 itu mengaku telah

melakukan persiapan sebaik-baiknya. Mulai dari mempelajari soal hingga mengikuti pembinaan yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan Jawa Barat pada Juni 2019. “Alhamdulillah, dari sana cukup banyak materi yang bisa diambil,” tambahnya.

Imal bersama 28 siswa lainnya berhasil meraih medali di ajang OSN ke-18 yang dihelat di Manado pada 30 Juni hingga 6 Juli, sekaligus mengantar Jawa Barat meraih juara II, terbaik dari 32 provinsi lainnya. ***

 

Baca Juga :