Faktor Utama Dari Tindakan Main Hakim Sendiri

Faktor Utama Dari Tindakan Main Hakim Sendiri

Faktor Utama Dari Tindakan Main Hakim Sendiri

Faktor Utama Dari Tindakan Main Hakim Sendiri
Faktor Utama Dari Tindakan Main Hakim Sendiri

Kemajuan pebangunan yang dicapai oleh masyatrakat Indonesia saat ini secara umum dapat dikategorikan pada struktur masyarakat bentuk solidaritas organik. Dengan kemajuan ini tentunya norma hukum yang dianut lebih bersifat restritutif. Namun melihat perilaku nain hakim sendiri yang dilakukan oleh masyarakat, tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai penerapan hukum yang berlaku pada masyarakat yang memiliki karakteristik solidaritas mekanik. Ketidakselarasan antara kemajuan zaman dengan praktik pelaksanaan hukum ini selanjutnya dapat dikategorikan sebagai penyimpangan.

Seiring dengan jatuhnya kekuasaan orde baru, masyarakat kemudian merasa menggunakan kekuasaan yang dimilikinya, masyarakat kemudian mengadopsi dan meniru pola atau model penggunaan kekuasaan yang dilakukan oleh pemerintah orde baru. Masyarakat telah belajar banyak dari kemampuan pemerintah orde baru dalam menggunakan kekuasaannya, yang selanjutnya dipraktikan dalam bentuk pengadilan jalanan. Tindakan main hakim sendiri ini merupakan upaya masyarakat untuk menciptakan opini kepada pemerintah maupun kepada masyarakat lain secara lebih luas, guna menunjukkan kekuasaanya, meskipun tindakan tersebut disadari telah melanggar hukum.

Faktor penyebab utama dari tindakan Main Hakim Sendiri itu adalah:

  1. Supaya pelaku tidak melakukan perbuatan lagi (residivis) atau pelaku kejahatan yang pernah melakukan perbuatan serupa menjadi jera misalnya curanmor, jambret
  2. Masyarakat tidak lagi mempercayai upaya Hukum yang dilakukan oleh pihak Kepolisian
  3. Karena ikut-ikutan saja, ketika melihat massa secara anarkhis dan membabi buta menghajar pelaku mereka ikut-ikutan.
  4. Perbuatan pidana itu sendiri sudah sangat meresahkan masyarakat.

Kendala-kendala yang dialami pihak Kepolisian dalam menanggulangi kejahatan Main Hakim Sendiri, antara lain adalah:

  1. Tidak adanya laporan mengenai tertangkapnya pelaku oleh massa.
  2. Tidak adanya laporan mengenai adanya tindakan Main Hakim Sendiri.
  3. Letak TKP yang jauh dari markas Kepolisian, khususnya di daerah yang sulit tranportasi
  4. Tidak ada masyarakat yang mau memberikan ketarangan (saksi) terhadap Tindakan Main Hakim Sendiri.
  5. Ruang tahanan yang kurang memadai untuk tempat tahanan dalam perkara yang melibatkan massa.
  6. Minimnya anggota Kepolisian setingkat Polsek.

Sumber : https://merkbagus.id/