Pelapisan sosial dan kesamaan derajat

Pelapisan sosial dan kesamaan derajat

Pelapisan sosial dan kesamaan derajat
Pelapisan sosial dan kesamaan derajat

 

Pelapisan sosial dan kesamaan derajat banyak kita jumpai di lingkungan kita

berbagai hal dalam hal apa pun pasti tak luput dari perbedaan dalam pemberian , kesamaan , kesetaraan , pembagian yang setimbang dengan yang lainya. Mungkin semua orang tak heran dedengan semua ini karena mereka tak begitu menanggapi tetapi ada juga yang menanggapinya dan mengkritiknya. Karena bagi yang mengkritiknya hal itu sangat tidak adil terhadap semua tindakan yang akan terjadi nanti atau sesudah hal yang terjadi , mereka mau semua menadapatkan hal itu yang sama tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lainya.

Kesamaan derajat terkadang membuat orang berwibawa

dan sangat disegankan di sekitar lingkungannya, tetapi ada juga yang mereka ingin sama dengan apa yang mereka rasakan. Karena mereka tak ingin diberlakukan tak adil terhadap semua yang akan dilakukan atau dilaksanakan oleh orang itu.

Pelapisan sosial bias dikategorikan sebagai sebuah urutan

atau tingkatan , sedangkan kesamaan derajat, sama seperti dengan pelapisan social tetapi kesamaan derajat ialah sesuatu yang bias dikatakan memiliki status, tingkatan tang sama dalam lingkunganatau daerahnya.

Pelapisan social dan kesamaan derajat

memiliki tali hubungan yang erat , karena kedua hal ini sangat berkaitan antar yang satu dengan yang lain.maka dari itu, semua atau sebagian orang yang mengkritik hal ini , karena bila tak mengkritik , orang itu bias dikatakan akan keterlaluan terhadap semua hak dan kewajiban yang harus dibagi sama ratakan terhadap semua orang, tetapi semua itu kembali keorang itu sendiri atau pribadi diri kita, karena semua itu kita yang melakukan dan melaksanakan serta kita juga pun yang akan rasakan jika kita bias melakukan sesuai yang ditetapkan.


Baca Juga : 

Mengenal Deklarasi Array dalam Algoritma dan Contoh

Mengenal Deklarasi Array dalam Algoritma dan Contoh

Mengenal Deklarasi Array dalam Algoritma dan Contoh
Mengenal Deklarasi Array dalam Algoritma dan Contoh

Contoh deklarasia atau penulisan variable array di dalam algoritma adalah sebagai berikut:

1. Array satu dimensi

Pengertian Array 1 dimensi adalah sekelompok data yang memiliki nama variable dan tipe data yang sama yang dapat diakses menggunakan 1 buah index saja.

 var nama_variable: array[range_index] of tipe_data

Sebagai contoh, buatlah deklarasi array dengan nama  variable deret yang memiliki kapasitas 10 dengan tipe data integer, deklarasi variable array untuk contoh diatas adalah:

 var deret:array[10] of integer

Deklarasi diantas dapat didefinisikan, membuat variable array dengan nama deret yang dapat menampung angka dalam bentuk integer (bilangan bulat) sebanyak 10 buah.

Mengisi elemen array 1 dimensi
Menulis atau mengisi elemen array satu dimensi formatnya adalah:

 nama_aray[index_array]<- nilai

Misal: mengisi variale array dengan nilai 10 pada index ke 1 untuk nama array deret, maka penulisanya adalah sebagai berikut:

 deret[1]<-10

Dengan penulisan diatas, index ke 1 array deret akan berisi nilai 10.

Membaca Array satu dimensi 
Untuk membaca elemen array 1 dimensi formatnya adalah:

 nama_aray[index_aray]

Misal membaca elemen array yang terdapat di index ke 3 pada array dengan nama deret maka pemulisannya adalah:

 deret[3]

 

2. Array 2 dimensi

Pengertian Array dua dimensi adalah kumpulan data yang memiliki nama dan tipe data yang sama dimana elemennya dapat diakses menggunakan 2 buah index, bisa juga disebut sebagai index baris dan index kolom.

Array 2 dimensi bisa di gambarkan sebagai table, yang memiliki index baris dan index kolom, index tersebut digunakan untuk mengakses elemen aray 2 dimensi.

Format Deklarasi variable array dua dimensi di dalam algoritma adalah seabgai berikut:

 var nama_variable:array[index_baris][index_kolom] of tipe_data

Contoh:
Deklarasikan variable array yang memiliki index baris 10 dan index kolom 5 dengan nama data yang memiliki tipedata integer atau bilangan bulat, sebagai berikut:

 var data:array[10][5] of integer

Membaca variable array 2 dimensi

Sama halnya seperti membaca variable array 1 dimensi namun harus melibatkan index baris dan kolim, misalnya, baca array data index kolom 1 dan baris 2

 data[2][1]

Mengisi menyimpan nilai pada variable array 2 dimensi
Menyimpan ke dalam array itu artinya menyimpan data ke dalam memori komputer untuk diproses.

Penyimpanan data pada array multi dimensi dengan sebuah nilai harus melibatkan index baris dan juga index kolomnya, sebagai contoh misalnya mengisi array data pada index baris 3 dan index kolom 4 dengan nilai 10, maka perintahnya adalah:

 data[3][4]<-10

 

Contoh Kasus Pemecahan Program dalam algoritma menggunakan array

1. Buatlah sebuah algoritma untuk menjumlahkan 3 buah bilangan bulat yang diinput oleh pengguna menggunakan variable array.

Jawab:

 program penjumlahan
var
angka:array[3]of integer
hasil:integer

algoritma:
read(x[0],x[1],x[2])
hasil<-x[0]+x[1]+x[2]
write(hasil)

Bandingkan jika tidak menggunakan variable array:

 program penjumlahan
var
angka1:integer
angka2:integer
angka3:integer
hasil:integer

algoritma:
read(angka1,angka2,angka3)
hasil<- angka1+angka2+angka3
write(hasil)

Tanpa array ternyata penulisan program lebih panjang, itu baru hanya 3 variable saja, dapat dibayangkan jika variable yang dilibatkan ada 100 buah, tentu akan menyilitkan programmer dalam menulis program.


Sumber: https://merkterbaru.id/

Mengenal Konsep Dasar Memahami Algoritma

Mengenal Konsep Dasar Memahami Algoritma

Mengenal Konsep Dasar Memahami Algoritma
Mengenal Konsep Dasar Memahami Algoritma

Konsep dasar Memahami Algoritma untuk Pemula

Jika anda masih bingung mengenai gambaran algoritma, saya akan kasih sebuah contoh algoritma sederhana dalam matematika, sudah lama kita kenal ketika kita diminta untuk memecahkan soal matematika, fisika atau kimia yang sifatnya soal cerita, guru mengajarkan kepada kita bahwa soal-soal cerita untuk mata pelajaran eksak akan lebih baik jika dipecahkan dengan langkah-langkah penyelesaian (diketahui, ditanyakan dan jawab), mungkin anda masih ingat,  seperti ilustrasi dibawah ini:
diketahui:
point-point apa saja yang diketahui dari soal untuk diproses
 
ditanyakan:
Apa yang ditanyakan di soal?
 
Jawab:
Uraian proses penyelesaian sampai ditemukan jawabannya.

Saya yakin anda pasti sudah kenal dengan langkah-langkah diatas.

Nah jika diamati langkah-langkah penyelesaian masalah matematika di atas sebenarnya bisa dikatakan identik dengan sebuah algoritma, bedanya adalah struktur dasarnya saja.

Struktur dasar algoritma

Struktur dasar dari algoritma adalah sebagai berikut:

program nama_program

deklarasi
berisi deklarasi-deklarasi variable

algoritma:
berisi proses pemecahan masalah


Penjelasan
Nama program bisa diisi apa saja dengan aturan yang telah ditentukan (tidak boleh mengandung spasi, tidak boleh didahului angka dan tidak boleh mengandung operator matematika +,-,x / dan lain-lain)

Saya yakin anda mungkin bertanya apa itu variable? nanti saya akan jelaskan.

Memahami algoritma dari Kasus menukarkan isi Gelas

Untuk mempelajari algoritma bagi pemula, salah satunya adalah melalui ilustrasi menukarkan gelas yang berisi susu dan satunya adalah kopi, dengan ilustrasi di bawah ini maka anda akan dilatih dan dikenalkan bagaimana cara berfikir algoritma.
Kasusnya adalah sebagai berikut:
Misal Ada 2 gelas, gelas A berisi Kopi dan gelas B berisi Susu, bagaimana caranya untuk menukarkan isi gelas, jadi gelas A berisi susu dan Gelas B yang awalnya berisi susu harus berisi Kopi?
Ketika melihat soal diatas anda akan sedikit berfikir dan punya logikanya bukan, gampang sekali, ya jawaban untuk menukarkan isi gelas A dan B diatas sangatlah mudah, sepertinya cara anda sama seperti apa yang saya fikirkan.
Sediakan satu gelas kosong, misal gelas C, kemudian isi dari gelas A (berisi kopi) kita masukan ke gelas C ini menyebabkan gelas A kosong dan gelas C berisi Kopi, kemudian dari gelas B (berisi susu), Masukan ke gelas A (yang kosong), ini menyebabkan gelas A berisi susu dan gelas B kosong, terakhir, dari gelas C (berisi kopi), tuangkan ke gelas B yang kosong.
Dengan logika di atas maka gelas A, akan berisi Susu dan gelas B akan berisi kopi.

Beberapa Istilah algoritma dasar

beberapa istilah algoritma dasar yaitu:
  • Variable
  • Tipedata
Wah apa itu?
Dari kasus di atas anda akan memahami apa itu variable dan apa itu tipedata.
Di algorima, gelas pada kasus  di atas dapat disebut sebagai variable, dan jenis isinya (kopi dan susu) itu dapat disebut sebagai tipedata.
Jadi dari soal diatas anda sudah menganal konteks atau maksud  mengenai apa itu variable dan tipedata, jadi variable itu semacam wadah, atau penampung, sedangkan tipe data adalah jenis yang ditampungnya. saya harap anda paham.
Kalau dipecahkan dalam algorima maka langkah pertama harus mematuhi struktur dasar algoritma seperti yang telah di jelaskan di atas, dan aturan penulisan algoritma
Untuk memecahkan kasus di atas di dalam algoritma adalah sebagai berikut:
program tukar_gelas
deklarasi
var
a : zatcair {gelas a}
b : zatcair {gelas b}
c : zatcair  {gelas c}
algoritma:
a <– kopi
b <– susu
c <– a   {tuangkan isi gelas a pada gelas c}
a <– b   {tuangkan isi gelas b pada gelas a}
b <– c   {tuangkan isi gelas c pada gelas b}

Dengan kasus di atas diharap anda sudah mengenal bagaimana konsep algoritma dasar itu, ilustrasi di atas sebenarnya hanya untuk memahami konsepnya saja, sedangkan untuk memahami algoritma lebih dalam, anda harus banyak belajar lagi.

Apa yang harus dipelajari:

  1. Selain mempelajari strukturnya, anda juga harus belajar aturan dasar algoritma (dapat anda kuasai jika anda sering mengerjakan soal-soal algortima), misalnya, aturan dasar penulisan variable, dan nama program dan aturan dasar lainnya.
  2. Memahami tipe data, apa itu tipe data, dan berapa jenis tipe data, perlu diketahui bahwa tipe data yang harus anda ketahui itu banyak dan lebih dari satu.
  3. Ekpresi matematika, bagaimana memecahkan masalah matematika menggunakan operator matematika seperti tambah, kurang kali bagi dll.
  4. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Sumber: https://appbrain.co.id/

TEMPAT PEMIJAHAN IKAN HIAS CUPANG

TEMPAT PEMIJAHAN IKAN HIAS CUPANG

  • Untuk memijahkannya cukup disediakan akuarium berukuran 20 x 40 cm, tinggi 20 cm. Atau toples-toples kaca. Dapat juga dengan menggunakan bak semen berukuran 1 x 2 m atau 1 x 1 m dengan ketinggian bak antara 30-40 cm. Bila pemijahan dilakukan dalam bak semen sebaiknya dibuatkan kamar-kamar dengan sekatan kayu, agar dapat dipakai untuk mengawinkan cupang dalam jumlah yang cukup banyak. Kamar pemijahan ini boleh berukuran hanya 20 x 20 cm.
  • Di dalam tempat pemijahan diberi tanaman air untuk membantu induk jantan membuat sarang busa. Tanaman ini boleh eceng gondok yang mengapung atau Aponogeton yang memanjang dari dasar bak. Bisa juga sekedar potongan daun eceng gondok, jika pemijahan dilakukan pada kamar-kamar yang disekat di bak semen.
  • Air yang digunakan bisa air biasa dari sumur atau ledeng. Sebaiknya telah didiamkan selama 24 jam, untuk menguapkan gas yang tidak dikehendaki. Bila memang air sulit dicari, ikan ini masih mau dikawinkan pada air yang diperoleh dari penampungan hujan. Tentunya harus pula diendapkan sehari semalam.

MEMILIH INDUK IKAN HIAS CUPANG:

  • Untuk membedakan ikan cupang jantan dari betin dapat dilihat dari perbedaan sirip-siripnya dan warna badannya.
  • Ikan hias cupang jantan mempunyai jari-jari sirip anal, punggung, dan ekor yang tumbuh dengan sangat sempurna, yaitu lebih panjang sedikit dibandingkan selaput yang menutupinya. Sedangkan ikan hias cupang betina mempunyai sirip ekor, anal, dan punggung yang biasa, tanpa ada penonjolan dari jari-jari siripnya.
  • Selain itu ikan hias cupang jantan juga terlihat mempunyai ujung sirip punggung yang berwarna kemerahan, yang juga terlihat pada sirip ekor dan analnya. Pada ikan jantan yang telah matang kelamin terdapat bintik-bintik hitam pada punggungnya yang lebih banyak dari biasanya, yang tidak terlihat pada induk ikan hias cupang betina.
  • Ikan-ikan yang dipilih sebagai induk sebaiknya telah berukuran 5 cm dan telah berumur antara 6-7 bulan. Induk jantan berjumlah sebanding dengan induk betina, karena perkawinan ikan hias cupang menganut sistem monogami.
  • Induk yang telah terpilih ditempatkan dalam wadah terpisah, dan diberi makan yang layak, biasanya kutu air atau cuk (jentik nyamuk).

PEMIJAHAN IKAN HIAS CUPANG:

  • Sebelum dipakai, bak atau akuarium dibersihkan dulu untuk menghindari jamur atau bibit penyakit lainnya. Kotoran yang melekat di dindingnya digosok hingga licin, kemudian dibilas dengan air bersih. Jika dirasakan perlu, boleh direndam dengan larutan PK encer, sebelum akhirnya dibilas lagi.
  • Ke dalam akuarium diisi air setinggi 15-18 cm, sedangkan bak boleh sampai kedalaman 25 cm. Kemudian dimasukkan tanaman yang telah dibersihkan. Aponogeton harus diberi pecahan genteng pada dasarnya supaya jangan tumbang, sedangkan eceng gondok dapat ditempatkan begitu saja.
  • Induk-induk ikan hias cupang yang telah dipilih dimasukkan ke dalam tempat pemijahan, satu ikan jantan untuk satu induk ikan betina. Bila menggunakan tempat bak semen, banyaknya induk yang dikawinkan disesuaikan dengan banyaknya sarang yang tersedia.
  • lnduk ikan hias cupang jantan akan membangun sarang busa di antara daun-daunan enceng gondok atau di sekitar tanaman Aponogeton. Induk ikan hias cupang betina hanya mengawasi pasangannya mempersiapkan pelaminan. Setelah sarang busa siap, maka tidak berapa lama induk betina akan menghampiri pasangannya untuk bersama-sama bercumbu di bawah sarang busa.

Baca juga:

PEMBESARAN IKAN HIAS ARULIUS

PEMBESARAN IKAN HIAS ARULIUS

  • Biasanya telur ikan hias arulius akan menetas dalam waktu 24-36 jam. Tetapi ada pula yang baru menetas keseluruhan jadi burayak setelah tiga hari. Larva atau burayak yang baru saja menetas sampai dengan tiga hari tidak perlu diberi makan. Pakan diberikan setelah pada hari keempat berupa infusspria. Seminggu kemudian, kutu air hasil saringan pun sudah bisa disantapnya. Jika ukuran mulutnya sudah mampu menelan pakan yang berukuran lebih besar maka perlu diberi tambahan pakan lain seperti cacing sutera yang diberikan pagi dan sore agar pertumbuhannya lebih pesat.
  • Induk ikan hias arulius dipelihara di tempat terpisah untuk memulihkan kondisinya seperti semula dan dapat dikawinkan kembali. Perlakuan merawat anak-anak ini harus tetap memperhatikan suhu air dan kesadahannya airnya. Yang perlu diperhatikan adalah saat penggantian air harus dilakukan dengan hati-hati terutama suhu air yang lama dan air baru harus dipastikan sama. Setelah tempat pendederan ini terlalu padat, maka perlu dilakukan pendederan di tempat yang lebih luas.

BUDIDAYA IKAN HIAS CUPANG

KLASIFIKASI IKAN HIAS CUPANG

Ordo: Percomorphoidei,
Sub-ordo: Anabantoidea,
Famili: Anabantidae,
Genus: Trichopsis,
Spesies: Trichopsis vittatus (Cuvier & Valenciennes), Osphromenus vittatus (Cuvier & Valenciennes)

CIRI-CIRI IKAN HIAS CUPANG:

  • Ikan hias cupang berasal dari daerah Jawa, Kalimantan, Sumatera, Malaya, Indochina dan Siam. Ikan hias yang dikenal dalam bahasa Inggris dengan sebutan Talking Gourami atau Croaking Gourami memiliki bentuk tubuh yang sangat langsing dan pipih ke samping (Compressed). Warna dasar badannya bervariasi dari kuning hingga sawo matang. Punggung berwarna lebih gelap dengan bagian perut lebih kuning putih. Secara keseluruhan warna pada tubuhnya sangat bervariasi dan terlihat tajam.
  • Pada sisi badannya terdapat garis horizontal yang berwarna biru gelap atau hitam. Garis ini dimulai dari mata hingga di daerah sirip ekor. Beberapa specimen lain yang ditemukan kadang-kadang mempunyai tambahan garis samar-samar, sebanyak satu atau dua buah.
  • Sirip-sirip berwarna kemerahan, dengan ujung berwarna ungu atau biru. Sirip ini mempunyai bintik-bintik berwarna seperti pelangi — biru, merah, kehijauan. Warna matanya sangat menarik. Bagian luar berwarna merah darah, sedangkan bagian dalam berwarna hijau kebiruan. Sirip anal, punggung dan ekor tumbuh sempurna dengan beberapa jari-jari sirip yang tumbuh menonjol.

SIFAT-SIFAT IKAN HIAS CUPANG:

  • Ikan hias ini dapat mencapai panjang total 6,25 cm, sedangkan untuk pemijahannya dapat dilakukan sejak berukuran 5 cm.
  • Cupang merupakan salah satu jenis ikan hias yang memiliki kebiasaan menyusun sarang busa sebelum melakukan pemijahan. Namun demikian berbeda dengan ikan hias betta, ikan hias cupang ini bisa ditempatkan dalam akuarium umum, karena mempunyai sifat pendamai.
  • Ikan hias cupang banyak ditemukan hampir pada semua perairan bebas serta dapat hidup dan berkembang biak pada media yang terbatas.

Sumber: https://newsinfilm.com/

TEMPAT PEMIJAHAN IKAN HIAS ARULIUS

TEMPAT PEMIJAHAN IKAN HIAS ARULIUS

Memijahkan ikan hias arulius merupakan kegiatan yang bisa dibilang mudah. Tempat memijah yang disediakan buat ikan ini ialah :
1. Kolam atau bak dari semen 2 x 3 m sedalam 50 cm.
2. Akuarium panjang 1 m, lebar 0,5 m, kedalaman 0,5 m.
3. Air yang dikehendaki arulius tidak ada kekecualian dengan ikan hias jenis lain, yaitu bisa dari sumur atau ledeng dengan kesadahan normal, keasaman (pH) 7 dengan suhu antara 23-25°C.
Untuk melengkapi tempat pemijahan ini maka ke dalam tempat pemijahan diisi air setinggi 40 cm. Karena arulius sifatnya memberantakkan telur, maka ke dalam tempat pemijahan harus disediakan tanaman air dasar, untuk melindungi keselamatan telur dari induknya. Tempat pemijahan ini kalau bisa diusahakan menerima sinar matahari pagi. Eceng gondok boleh ditempatkan untuk mengurangi terik matahari dan memberi kesan alami bagi induk.

MEMILIH INDUK IKAN HIAS ARULIUS:

Syarat induk tak boleh ditawar, yaitu harus sehat, bentuk tubuh normal, dan lincah. Usia siap kawin arulius setidaknya 9-12 bulan dengan panjang. tubuh antara 8-10 cm. Untuk membedakan jenis kelaminnya bisa dilihat dari bentuk badan dan sirip punggungnya. Bentuk badan si jantan biasanya lebih panjang dan langsing, sementara si betina lebih montok, buntek dengan penampang badan lebih besar. Selain itu, ikan hias arulius jantan memiliki sirip punggung yang luar biasa cantik, memanjang dengan warna gelap atau kemerahan. Sedang si betina memiliki sirip punggung yang lebih pendek.
PEMIJAHAN IKAN HIAS ARULIUS:
  • Induk ikan hias arulius yang telah dipilih ditaruh ke dalam tempat pemijahan yang sudah dimanupulasi sedemikian rupa sebelumnya, dengan perbandingan jantan-betina 4 : 10. Induk arulius jantan 4 ekor betina 10 ekor. Dengan perbandingan ini diharapkan ikan jantan dapat membuahi telur-telur ikan betina secara merata.
  • Biasanya, induk ikan hias arulius yang telah matang kelamin yang dimasukkan sore hari akan memijah malam harinya. Telur-telur akan jatuh dan berserakan di dasar kolam/akuarium pemijahan, di antara tanaman air. Jadi tidak menempel pada tanaman. Biasanya telur-telur itu akan menetas setelah 24-36 jam.
  • Untuk lebih memberi jaminan keselamatan bagi telur dan benih sebaiknya induk dikembalikan ke tempat pemeliharaan induk, begitu selesai memijah. Ke dalam akuarium diberi aerator sebagai supplyer oksigen. Sedang bak/kolam kurang perlu diberi aerator.
  • Telur dan benih tetap dibiarkan dalam akuarium pemijahan, tanpa perlu diganggu. Setelah menetas, tanaman air dasar boleh dipindahkan. Untuk menjaga agar benih tidak terikut, sebaiknya digoyang-goyangkan terlebih dahulu.

Sumber: https://officialjimbreuer.com/

Hukum dan Nilai-nilai Sosial-Budaya

Hukum dan Nilai-nilai Sosial-Budaya

Hukum dan Nilai-nilai Sosial-Budaya

Hukum sebagai kaidah atau norma sosial, tidak terlepas dari nilai-nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat, dan bahkan dapat dikatakan bahwa hukum itu merupakan percerminan dan konkritisasi daripada nilai-nilai yang pada suatu saat berlaku dalam masyarakat. Misalnya, Hukum waris daerah Tapanuli menentukan bahwa seorang janda bukanlah merupakan ahli waris bagi suaminya, oleh karena janda dianggap sebagai orang luar (keluarga suaminya).

  1. Kepastian hukum dan kesebandingan

Kepastian hukum dan kesebandingan merupakan dua tugas pokok daripada hukum. Walaupaun demikian, seringkali kedua tugas tersebut tidak dapat ditetapkan sekalgus secara merata. Dilema ini merupakan tema yang menarik bagi penelitian sosiologi hukum.

  1. Peranan Hukum sebagai Alat untuk Mengubah Masyarakat

Perubahan merupakan sesuatu yang tak terhindarkan. Di dalam proses perubahan, biasanya ada satu kekuatan yang menjadi pelopor perubahan (agent of cange). Kita mengenal berbagai kemlompok sosial sebagai agen perubahan, misalnya pemerintah, sekolah, organisasi politik, dsb. Bagaimanakah dengan hukum? Sampai sejauh manakah peranan hukum dalam mengubah masyarakat ?

 

Sifat system hukum yang diualistis

Sifat system hukum yang diualistis

Sifat system hukum yang diualistis

Baik hukum substantive maupun hukum ajektif, disatu pihak berisikan ketentuan-ketentuan tentang bagaimana manusia akan dapat menjalankan serta memperkembangkan kesamaan derajat manusia, menjamin kesejahteraannya dan seterusnya. Akan tetapi dilain pihak, hukum dapat menjadi alat yang ampuh untuk mengendalikan warga-warga masyarakat atau dapat dijadikan sarana oleh sebagian kecil warga-warga masyarakat atau dapat dijadikan sarana oleh sebagian kecil warga-warga  masyarakat yang menamakan dirinya sebagai penguasa, untuk mempertahankan kedudukan sosial-politik-ekonominya yang lebih tinggi dari bagian terbesar warga-warga masyarakat. Hukum dapat menjadi alat yang potensial bagi pemerintahan yang bersifat tirannis. Dengan demikian, maka sampai batas-batas tertentu, isi hukum dapat ditafsirkan dari segi maksud pengguna hukum tersebut.

  1. Hukum dan Kekuasaan

Ditinjau dari sudut ilmu politik, hukum merupakan suatu sarana dari elit yang memegang kekuasaan dan sedikit banyaknya dipergunakan sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaannya, atau untuk menambah serta mengembangkannya. Secara sosiologis, elit tersebut merupakan golongan kecil dalam masyarakat yang mempunyai kedudukan yang tinggi atau tertinggi dalam masyarakat, dan yang biasanya berasal dalam lapisan atas atau menengah atas. Baik-buruknya suatu kekuasaan, tergantung dari bagaimana kekuasaan tersebut dipergunakan. Artinya, baik-buruknya kekuasaan senantiasa harus diukur dengan kegunaannya untuk mencapai suatu tujuan yang sudah ditentukan atau disadari oleh masyarakat tersebut lebih dahulu. Hal ini merupakan suatu unsur yang mutlak bagi kehidupan masyarakat yang tertib dan bahkan bagi setiap bentuk organisasi yang teratur. Akan tetapi karena sifat-sifat dan hakikatnya, kekuasaan tersebut supaya dapat bermanfaat, harus ditetapkan ruang lingkup, arah dan batas-batasnya. Untuk itu diperlukan hukum yang ditetapkan oleh penguasa itu sendiri yang hendak dipegang dengan teguh.

 

Sumber :

https://nomorcallcenter.id/

 Hukum dan Sistem Sosial Masyarakat

 Hukum dan Sistem Sosial Masyarakat

 Hukum dan Sistem Sosial Masyarakat

Suatu system hukum merupakan pencerminan dari suatu system social dimana system hakim tadi merupakan bagian darinya. Akan tetapi persoalannya tidak mudah, oleh karena perlu diteliti dalam keadaan-keadaan apa dan dengan cara-cara yang bagaimana system social mempengaruhi sustu system hukum sebagai subsistemnya, dan sampai sejauhmanakah proses pengaruh-mempengaruhi tadi bersifat timbale balik. Misalnya, apakah suatu system kewarisan dalam suatu masyarakat selalu mempengaruhi system hukum kewarisannya. Kemudian timbul persoalan, apakah dengan memperkenalkan atau menerapkan suatu system hukum kewarisan yang baru, system kewarisan yang lama akan dapat diubah?

  1. Persamaan dan Perbedaan Sistem Hukum

Penelitian di bidang ini penting bagi suatu ilmu perbandingan serta untuk dapat mengetahui apakah memang terdapat konsep-konsep hukum yang universal, dan apakah perbedaan-perbedaan yang ada merupakan suatu penyimpangan dari konsep-konsep yang universal, oleh karena kebutuhan masyarakat setempat memang menghendakinya.

Sumber :

https://callcenters.id/

 

Sejarah Bangsa Indonesia

Sejarah Bangsa Indonesia

Sejarah Bangsa Indonesia
Sejarah Bangsa Indonesia

Siapa tak kenal burung Garuda

berkalung perisai yang merangkum lima sila (Pancasila). Tapi orang Indonesia mana sajakah yang tahu, siapa pembuat lambang negara itu dulu? Dia adalah Sultan Hamid II, yang terlahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie, putra sulung Sultan Pontianak; Sultan Syarif Muhammad Alkadrie. Lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913.
Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia, Arab –walau pernah diurus ibu asuh berkebangsaan Inggris. Istri beliau seorang perempuan Belanda yang kemudian melahirkan dua anak –keduanya sekarang di Negeri Belanda.

Syarif Abdul Hamid Alkadrie

menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Negeri Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.
Ketika Jepang mengalahkan Belanda dan sekutunya, pada 10 Maret 1942, ia tertawan dan dibebaskan ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel. Ketika ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi Sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II. Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II memperoleh jabatan penting sebagai wakil Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB) berdasarkan konstitusi RIS 1949 dan selalu turut dalam perundingan-perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan KMB di Indonesia dan Belanda.
Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda dan orang Indonesia pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran. Pada 21-22 Desember 1949, beberapa hari setelah diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio, Westerling yang telah melakukan makar di Tanah Air menawarkan “over commando” kepadanya, namun dia menolak tegas. Karena tahu Westerling adalah gembong APRA. Selanjutnya dia berangkat ke Negeri Belanda, dan pada 2 Januari 1950, sepulangnya dari Negeri Kincir itu dia merasa kecewa atas pengiriman pasukan TNI ke Kalbar – karena tidak mengikutsertakan anak buahnya dari KNIL.

Pada saat yang hampir bersamaan

terjadi peristiwa yang menggegerkan; Westerling menyerbu Bandung pada 23 Januari 1950. Sultan Hamid II tidak setuju dengan tindakan anak buahnya itu, Westerling sempat di marah. Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara. Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan file dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara.

Dia teringat ucapan Presiden Soekarno

bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara. Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis M Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah. Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan

DPR RIS adalah

rancangan Sultan Hamid II. Karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang. Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.

Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-Garuda Pancasila. Disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Dep Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “tidak berjambul” seperti bentuk sekarang ini. Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS.
Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes Jakarta pada 15 Februari 1950. Penyempurnaan kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno. Tanggal 20 Maret 1950, bentuk final gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk final rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.

Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II

menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974 Rancangan terakhir inilah yang menjadi lampiran resmi PP No 66 Tahun 1951 berdasarkan pasal 2 Jo Pasal 6 PP No 66 Tahun 1951. Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah Pontianak. Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang.
Turiman SH M.Hum, Dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura Pontianak yang mengangkat sejarah hukum lambang negara RI sebagai tesis demi meraih gelar Magister Hukum di Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa hasil penelitiannya tersebut bisa membuktikan bahwa Sultan Hamid II adalah perancang lambang negara. “Satu tahun yang melelahkan untuk mengumpulkan semua data.

Dari tahun 1998-1999,” akunya. Yayasan Idayu Jakarta, Yayasan Masagung Jakarta, Badan Arsip Nasional, Pusat Sejarah ABRI dan tidak ketinggalan Keluarga Istana Kadariah Pontianak, merupakan tempat-tempat yang paling sering disinggahinya untuk mengumpulkan bahan penulisan tesis yang diberi judul Sejarah Hukum Lambang Negara RI (Suatu Analisis Yuridis Normatif Tentang Pengaturan Lambang Negara dalam Peraturan Perundang-undangan). Di hadapan dewan penguji, Prof Dr M Dimyati Hartono SH dan Prof Dr H Azhary SH dia berhasil mempertahankan tesisnya itu pada hari Rabu 11 Agustus 1999. “Secara hukum, saya bisa membuktikan. Mulai dari sketsa awal hingga sketsa akhir. Garuda Pancasila adalah rancangan Sultan Hamid II,” katanya pasti. Besar harapan masyarakat Kal-Bar dan bangsa Indonesia kepada Presiden RI SBY untuk memperjuangkan karya anak bangsa tersebut, demi pengakuan sejarah, sebagaimana janji beliau ketika berkunjung ke Kal-Bar dihadapan tokoh masyarakat, pemerintah daerah dan anggota DPRD Provinsi Kal-Bar.


Baca Juga :