PERKEMBANGAN BAHASA

PERKEMBANGAN BAHASA

PERKEMBANGAN BAHASA
PERKEMBANGAN BAHASA

Setiap hari pastinya kita menggunakan Bahasa Indonesia

sebagai bahasa sehari-hari kita. Baik untuk berbicara, menulis, dan kegiatan sehari-hari lainnya. Tapi sekarang ini telah banyak perubahan yang ada. Baik dari segi pengaruh luar yaitu perkembangan global dan juga dari masyarakat Indonesia sendiri.

 

Sekarang ini pun dari bidang pendidikan, anak-anak playgroup

sudah diajarkan menggunakan bahasa luar negeri seperti Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin dan Bahasa Jepang dan masih banyak yang lainnya. Belum lagi setelah tingkat SD, SMP, SMA dan seterusnya, makin banyak bahasa-bahasa asing yang dipelajari.
Ini dianggap sebagai kebutuhan modal, juga sebagai tolak ukur kemajuan individu-individu di masa depan. Tapi ini mempunyai pengaruh secara langsung dan tak langsung, yaitu bahasa asing menjadi bahasa sehari-hari agar terbiasa dan juga sebagai alat latih untuk memperlancar pengucapan, pendengaran dan penulisan.

Cukup memprihatinkan, karena fungsi Bahasa Indonesia

sebagai bahasa ibu dari Warga Negara Indonesia menjadi tergeser. Karena bahasa asing, menjadi bahasa pergaulan, menjadi jembatan dalam persaingan global dan juga salah satu syarat dalam dunia pekerjaan.
Tak dipungkiri pentingnya mempelajari bahasa asing, tapi alangkah jauh lebih baik bila kita tetap menjaga, melestarikan dan membudayakan Bahasa Indonesia. Maka dari itu untuk memperdalam mengenai Bahasa Indonesia, kita perlu mengetahui bagaimana perkembangannya sampai saat ini sehingga kita tahu mengenai bahasa pemersatu dari berbagai suku dan adat-istiadat yang beranekaragam yang ada di Indonesia, yang termasuk kita didalamnya.

 

Asal Mula Bahasa Indonesia dari segi bahasa yang digunakan

Bahasa Indonesia adalah Bahasa Melayu, sebuah Bahasa Austronesia yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern, paling tidak dalam bentuk informalnya. Bentuk bahasa sehari-hari ini sering dinamai dengan istilah Melayu Pasar. Jenis ini sangat lentur sebab sangat mudah dimengerti dan ekspresif, dengan toleransi kesalahan sangat besar dan mudah menyerap istilah-istilah lain dari berbagai bahasa yang digunakan para penggunanya.
Bentuk yang lebih resmi, disebut Melayu Tinggi, pada masa lalu digunakan kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Malaya, dan Jawa. Bentuk bahasa ini lebih sulit karena penggunaannya sangat halus, penuh sindiran, dan tidak seekspresif Bahasa Melayu Pasar.
Pemerintah kolonial Belanda yang menganggap kelenturan Melayu Pasar mengancam keberadaan bahasa dan budaya Belanda berusaha meredamnya dengan mempromosikan Bahasa Melayu Tinggi, di antaranya dengan penerbitan karya sastra dalam Bahasa Melayu Tinggi oleh Balai Pustaka. Tetapi Bahasa Melayu Pasar sudah telanjur diambil oleh banyak pedagang yang melewati Indonesia.
Bahasa Melayu di Indonesia kemudian digunakan sebagai lingua franca (bahasa pergaulan), namun pada waktu itu belum banyak yang menggunakannya sebagai bahasa ibu. Biasanya masih digunakan bahasa daerah (yang jumlahnya bisa sampai sebanyak 360).
Awal penciptaan Bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa bermula dari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Di sana, pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, dicanangkanlah penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk negara Indonesia pascakemerdekaan. Soekarno tidak memilih bahasanya sendiri, Jawa (yang sebenarnya juga bahasa mayoritas pada saat itu), namun beliau memilih Bahasa Indonesia yang beliau dasarkan dari Bahasa Melayu yang dituturkan di Riau.

Sumber : https://uberant.com/article/556673-how-to-prevent-air-and-soil-pollution/

Medan Listrik bisa Rangsang Pertumbuhan Lele, Begini Caranya…

Medan Listrik bisa Rangsang Pertumbuhan Lele, Begini Caranya…

Medan Listrik bisa Rangsang Pertumbuhan Lele, Begini Caranya…
Medan Listrik bisa Rangsang Pertumbuhan Lele, Begini Caranya…

Ikan lele boleh jadi sebagai ”ikan rakyat”, karena banyak dikonsumsi oleh

kalangan apapun dan dimana pun. Budidayanya pun bertebar dimana-mana. Untuk mendapatkan produksi ikan lele yang lebih cepat, kini terdapat alat medan listrik sebagai stimulator perkembangan gonad ikan lele dumbo yang dapat menguntungkan bagi masyarakat, khususnya para pembudidaya.

Konsep ini digagas oleh empat mahasiswa Unair, yaitu Endah Rochmatika

(ketua tim), Dimas Jaya Subakti, Regita Dwi Ayu Armeda, Elsa Mirantika, dan Abdul Hamid. Endah menjelaskan, medan listrik diharapkan dapat menghasilkan suatu getaran-getaran biolistrik sehingga dapat merangsang peningkatan proses metabolisme yang sebagian besar energi tertuju pada perkembangan reproduksi.

‘’Selain itu untuk merangsang hormon reproduksi ikan untuk bekerja lebih

cepat, sehingga menghasilkan hormon yang dapat mempercepat terjadinya kematangan reproduksi ikan dan ikan siap dipijahkan,’’ imbuh Endang dalam penelitian yang mendapatkan dana riset dari Kemenristekdikti tahun 2017 kategori penelitian eksakta (PKM-PE) tersebut

 

Baca Juga :

 

 

Siswa Tidak Wajib Beli Seragam

Siswa Tidak Wajib Beli Seragam

Siswa Tidak Wajib Beli Seragam
Siswa Tidak Wajib Beli Seragam

Daftar ulang penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMA/SMK Surabaya berlangsung mulai Jumat (7/7). Tidak sedikit wali murid yang mengeluhkan prosedurnya yang terlalu rumit.

Nunik Sutari, salah satunya. Dia mengaku tidak mengetahui dokumen apa saja yang harus dilengkapi ketika daftar ulang. Nunik yang saat itu mengantar anaknya, Naura Rafifa, ke SMAN 5 Surabaya menyatakan, dirinya hanya mengetahui ada empat dokumen yang harus dibawa. Yakni, bukti penerimaan, fotokopi ijazah sementara, surat keterangan hasil ujian nasional (SKHUN) sementara, dan fotokopi kartu keluarga (KK).

Hal serupa disampaikan Niken Purwandari yang juga mengantar anaknya ke sekolah yang sama. Karena tidak membawa persyaratan lengkap sama halnya dengan Nunik, dia dan anaknya harus kembali lagi Sabtu ini (8/7). Selain untuk melengkapi berkas, dia harus membeli seragam untuk anaknya.

Ketua PPDB SMAN 5 Surabaya Agus Widodo membenarkan adanya beberapa persyaratan tambahan yang diminta sekolahnya. Data-data tambahan itu digunakan sekolah untuk memetakan secara dini kondisi siswa sebelum pembelajaran berlangsung. Misalnya, surat keterangan sehat dari dokter.

Meski begitu, Agus optimistis persyaratan tersebut dapat dipenuhi para wali murid dan siswa. ’’Wali murid pasti bisa. Jika kurang kelengkapannya, sekolah akan menelepon wali murid,’’ terangnya.

Berapa biaya yang harus dibayarkan wali murid? Entah kenapa Agus enggan memberikan jawaban. Adapun para wali murid menyatakan belum mendapatkan pemberitahuan dari sekolah.

Kondisi berbeda ditunjukkan sekolah lain yang lebih terbuka. Hendro Kristantyo, salah seorang wali murid di SMAN 15 Surabaya, menuturkan bahwa sekolah tidak mengharuskan pelunasan langsung ketika daftar ulang. Meski demikian, Hendro mengaku sudah membayar Rp 1,5 juta. Uang itu digunakan untuk membeli seragam.

Dia menuturkan, sekolah tidak menyampaikan batasan akhir pembayaran. Namun, menurut Hendro, lebih enak jika segera dilunasi secepatnya. ’’Biar cepat beres,’’ ujarnya.

Daftar ulang bagi siswa yang diterima dalam PPDB juga terjadi di SMKN 12 Surabaya. Alfian Fahri Zamzani, salah seorang siswa yang diterima, mengaku harus membayar Rp 1,4 juta. Dana tersebut untuk membeli seragam, aksesori, iuran kegiatan dan koperasi, serta SPP Juli. Untuk siswa perempuan yang berkerudung, ada tambahan Rp 30 ribu.

Proses daftar ulang di SMA dan SMK itu juga dipantau Ombudsman Perwakilan Jatim, Koordinator Bidang Pendidikan Ombudsman Jatim Vice Admira Frimaherera. Dari sidak ombudsman ke beberapa SMA, banyaknya perincian berkas yang disyaratkan sekolah tersebut membuat banyak wali murid yang harus kembali pulang untuk melengkapi berkas.

Selain itu, Vice menerangkan, ombudsman menemukan pelanggaran dalam proses daftar ulang PPDB. Yakni, kewajiban membeli seragam yang disediakan koperasi sekolah.

Vice mengungkapkan, salah satu temuannya ada di SMKN 1. Sekolah tersebut menarik biaya seragam untuk siswa mulai Rp 1,5 juta–Rp 1,7 juta. Jumlah itu digunakan untuk membayar lima setel seragam.

’’Kami sudah mewawancarai beberapa wali murid. Mereka mengaku

keberatan dengan sistem tersebut,’’ tuturnya. Apalagi, batas pelunasan pembayaran seragam itu cukup singkat. Hanya dua hari. Terhitung dari saat daftar ulang PPDB hari pertama dibuka.

Sikap SMKN 1 yang mewajibkan wali murid untuk membeli seragam koperasi sekolah tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 45 Tahun 2014 tentang Seragam Sekolah bagi Peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Pada bab 4, pasal 4, ayat 1, pakaian seragam sekolah diusahakan sendiri oleh orang tua atau wali peserta didik. Selain tidak wajib, perlengkapan seragam sekolah tidak boleh dikaitkan dengan pelaksanaan PPDB.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Saiful Rachman menyatakan, tidak

boleh ada paksaan dalam pembelian seragam. Siswa bisa membeli di sekolah, bisa juga di luar sekolah. Jika tidak membeli pun, tidak masalah. Para siswa bisa menggunakan seragam dari kakak kelas sebelumnya.

Pihaknya bahkan menyiapkan dua setel seragam untuk siswa baru. Yakni,

seragam putih abu-abu dan Pramuka. Seragam itu untuk siswa yang tidak mampu. Adapun seragam lainnya seperti olahraga, batik, seragam praktik, dan lain-lain bisa dibeli di koperasi sekolah.

 

Sumber :

https://articles.abilogic.com/372235/chemical-periodic-table-system.html

Pelajar Indonesia Raih Medali Emas di Konferensi Inovasi Polandia

Pelajar Indonesia Raih Medali Emas di Konferensi Inovasi Polandia

Pelajar Indonesia Raih Medali Emas di Konferensi Inovasi Polandia
Pelajar Indonesia Raih Medali Emas di Konferensi Inovasi Polandia

Tim pelajar Indonesia yang diwakili oleh Universitas Islam Indonesia (UII) dan SMAN 3 Denpasar berhasil menyabet medali emas dan perunggu di International Invention and Innovation (INTARG) yang diadakan pada Kamis-Jumat (22-23/6) di Katowice, Polandia. Dalam acara yang dihadiri oleh ilmuwan dari seluruh dunia itu, Indonesia diwakili oleh dua tim, yaitu tim SMAN 3 Denpasar dan UII.P

Penelitian yang dipamerkan oleh tim SMA 3 Denpasar adalah Nata De Coco

Cellulose as a Calcium Binder From Egg Shell Waste in Imitation Bone Formation. Sedangkan judul penelitian yang dipamerkan oleh tim UII adalah BG-Trole (Blood Glucose control equipment): A Novel Equipment to Decrease the Glycemic Index on White Rice as New Innovation For Prevent the Increasing of Blood Glucose on Diabetes Mellitus Type 2 Patient.

Tim dari UII yang mendapatkan medali emas, yaitu Razty Surisfika jurusan pendidikan dokter 2014, Nurul Hidayah jurusan pendidikan dokter 2015, dan Muhammad Abdul Rauf Lamada jurusan teknik mesin. Razty Surisfika menjelaskan, penelitian dimulai dari pembuatan alat yang prinsip kerjanya untuk menurunkan kadar glukosa dalam nasi, sehingga kenaikkan kadar glukosa darah pasien diabetes juga tidak meningkat.

Setelah selesai membuat alatnya, perlu dilakukan uji hasil nasi BG-Trole

tersebut menggunakan alat tes kadar glukosa, serta melakukan tes kepada pasien diabetesnya. Hasilnya ada penurunan kadar glukosa nasi dibanding nasi biasa, dan kadar glukosa darah pasien diabetes juga lebih rendah dibanding mereka yang konsumsi nasi biasa.

’’Pada awalnya, penelitian sudah pernah dilakukan sebelumnya oleh Nurul

Hidayah sampai pada tahap pengujian kadar glukosa nasi. Kemudian kami mengembangkan penelitian tersebut. Dalam penelitian yang kami buat kali ini, kami modifikasi alatnya dan kemudian mengembangkan penelitian sampe ke pasien diabetesnya juga, alat ini sangat berguna bagi penderita diabetes. Saat ini kami sedang proses untuk melakukan paten,” ulas Razty

 

Sumber :

https://articles.abilogic.com/372234/examples-explanatory-texts-definition-structure.html

Pengertian Globalisasi

Pengertian Globalisasi

Pengertian Globalisasi
Pengertian Globalisasi

Kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang berarti

universal (mendunia). Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya popular, dan bentuk interaksi yang lain.

Globalisasi memiliki banyak definisi

salah satunya seperti yang dikemukakan oleh Lodge (1991), mendefinisikan globalisasi sebagai suatu proses yang menempatkan masyarakat dunia bisa menjangkau satu dengan yang lain atau saling terhubungkan dalam semua aspek kehidupan mereka, baik dalam budaya, ekonomi, politik, teknologi maupun lingkungan. Dengan pengertian ini globalisasi dikatakan bahwa masyarakat dunia hidup dalam era dimana kehidupan mereka sangat ditentukan oleh proses-proses global.

Ciri Globalisasi

Berikut ini beberapa ciri yang menandakan semakin berkembangnya fenomena globalisasi di dunia.
a. Perubahan dalam konsep ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam, televisi, satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi sedemikian cepatnya, sehingga memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda.
b. Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO).
c. Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, fim, musik, dan transmisi berita dan olahraga internasional). Saat ini kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beranekaragam budaya, misalnya dalam bidang fashion dan makanan.
d. Meningkatknya masalah besama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional dan lain-lain.

Proses Terjadinya Globalisasi

Hubungan antarbangsa di dunia telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Bila ditelusuri, benih-benih globalisasi telah tumbuh ketika manusia mulai mengenal perdagangan antarnegara sekitar tahun 1000 dan 1500 M. Saat itu para pedagang dari Cina dan India mulai menelusuri negeri lain baik melalui jalan darat maupun jalan laut untuk berdagang.

Fase selanjutnya ditandai dengan dominasi perdagangan kaum muslim di Asia dan Afrika. Kaum muslim membentuk jaringan perdagangan dan menyebarkan nilai-nilai agamanya, nama-nama, abjad, arsitek, nilai sosial dan budaya Arab ke warga dunia.

Fase selanjutnya ditandai dengan eksplorasi dunia secara besar-besaran oleh bangsa Eropa. Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda adalah pelopor-pelopor eksplorasi ini. Hal ini didukung pla denan terjadinya revolusi industri yang meningkatkan keterkaitan antarbangsa dunia.

Semakin berkembangnya industri dan kebutuhan akan bahan baku serta pasar juga memunculkan berbagai perusahaan multinasional di dunia. Di Indonesia, perusahaan Eropa membuka berbagai cabangnya di Indonesia, Freeport dan Exxon dari Amerika Serikat, Unilever dari Belanda British Petroleum dari Inggris adalah beberapa contohnya.

Fase selanjutnya terus berjalan dan mendapat momentumnya ketika perang dingin berakhir dan komunisme di dunia runtuh. Runtuhnya komunisme seakan memberi pembenaran bahwa kapitalisme adalah jalan terbaik dalam mewujudkan kesejahteraan dunia. Implikasinya, negara di dunia mulai menyediakan diri sebagai pasar yang bebas. Hal ini didukung pula dengan perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi. Hasilnya, sekat-sekat antarnegara pun mulai kabur.

Globalisasi Perekonomian

Globalisasi perekonomian merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, dimana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kesatuan asar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara. Globalisasi perekonomian mengharuskan penghapusan seluruh batasan dan hambatan terhadap arus modal, barang dan jasa.

Ketika globalisasi ekonomi terjadi, batas-batas suatu negara akan menjadi kabur dan keterkaitan antara ekonomi nasional dengan perekonomian internasional akan semakin erat. Globalisasi perekonomian di satu pihak akan membuka peluang pasar produk dari dalam negeri ke pasar internasional secara kompetitif, sebaliknya juga membuka peluang masuknya produk-produk global ke dalam pasar domestik.

Baca :

Pengertian Modernisasi

Pengertian Modernisasi

Pengertian Modernisasi
Pengertian Modernisasi

Modernisasi mungkin merupakan

persoalan menarik yang dewasa ini merupakan gejala umum di dunia ini. Kebanyakan masyarakat di dunia dewasa ini terkait pada jaringan modernisasi, baik yang baru memasukinya, maupun yang sedang meneruskan tradisi modernisasi. Secara historis, modernisasi merupakan suatu proses perubahan yang menuju pada tipe sistem-sistem sosial, ekonomi, dan politik yang telah berkembang di Eropa Barat dan Amerika Utara pada abad ke-17 sampai 19. Sistem sosial yang baru ini kemudian menyebar ke negara-negara Eropa lainnya serta juga ke negara-negara Amerika Selatan, Asia, dan Afrika.

Menurut Wilbert E Moore modernisasi

mencakup suatu transformasi total kehidupan bersama yang tradisional atau pra modern dalam arti teknologi serta organisasi sosial ke arah pola-pola ekonomi dan politis yang menjadi ciri negara-negara barat yang stabil. Karakteristik umum modernisasi yang menyangkut aspek-aspek sosio-demografis masyarakat dan aspek-aspek sosio-demografis digambarkan dengan istilah gerak sosial (social mobility). Artinya suatu proses unsur-unsur sosial ekonomis dan psikologis mulai menunjukkan peluang-peluang ke arah pola-pola baru melalui sosialisasi dan pola-pola perilaku. Perwujudannya adalah aspek-aspek kehidupan modern seperti misalnya mekanisasi, mass media yang teratur, urbanisasi, peningkatan pendapatan perkapita dan sebagainya.

2. Syarat-syarat Modernisasi

Modernisasi pada hakikatnya mancakup bidang-bidang yang sangat banyak. Syarat-syarat suatu modernisasi adalah sebagai berikut:
a. Cara berpikir yang ilmiah yang melembaga dalam kelas penguasa maupun masyarakat.
b. Sistem administrasi negara yang baik, yang benar-benar mewujudkan birokrasi yang baik, jauh dari KKN, serta semangat kerja yang tinggi.
c. Adanya sistem pengumpulan data yang baik dan teratur dan terpusat pada suatu lembaga atau badan tertentu. Misalnya BPS (Badan Pusat Statistik) yang menjadi sumber data bagi pemerintah.
d. Penciptaan iklim yang favorable (kondusif) dalam masyarakat terhadap modernisasi dengan cara penggunaan alat-alat komunikasi massa.
e. Kedisiplinan yang tinggi, tetapi tidak melanggar HAM warga negara.
f. Sentralisasi wewenang dalam pelaksanaan perencanaan sosial (social planning)

3. Perkembangan Modernisasi

Menurut Cyril Black, masyarakat modern ditandai dengan tumbuh dan berkembangnya ilmu pengatahuan dan teknologi baru yang menambah kemampuan manusia dalam mengungkap rahasia-rahasia dan perubahan-perubahan pada lingkungan alam.

Modernisasi hanya dapat terjadi jika terdapat suatu dorongan. Dorongan-dorongan itu menurut David McCleland adalah sebagai berikut.
a. Pribadi yang memiliki need for achievement, yaitu kebutuhan untuk berprestasi.
b. Perasaan tanggung jawab terhadap masyarakat
c. Memiliki modal yang cukup
d. Memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi

Menurut Alex Inkeles (1965), seorang sosiologi dari Universitas Harvard untuk mencapai modernisasi harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a. Bersedia menerima gagasan-gagasan baru dan melaksanakan cara-cara baru.
b. Sanggup membentuk atau mempunyai pendapat mengenai sejumlah persoalan yang tidak hanya timbul di sekitarnya, tetapi juga di luarnya.
c. Peka terhadap waktu, serta lebih mementingkan masa kini dan masa mendatang daripada masa lampau.
d. Terlibat dalam perencanaan dan organisasi, serta menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar dalam hidup.
e. Kepercayaan terahadap keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi.

4. Modernisasi Bukan Westernisasi

Westernisasi adalah sikap meniru dan menerapkan unsur kebudayaan Barat apa adanya tanpa diseleksi. Berlangsungnya westernisasi melalui interaksi sosial yang berupa kontak sosial langsung ataupun tidak langsung. Westernisasi dapat berlangsung terutama melalui media cetak dan elektronik, seperti buku, majalah, televisi, video dan internet.

Westernisasi dapat berlangsung pada setiap generasi baik anak-anak, remaja ataupun orang tua yang kurang peka terhadap nilai kepribadian bangsa Indonesia. Westernisasi di kalangan remaja berlangsung lebih intensif sebab pada usia itu, secara psikologis remaja sedang dalam proses mencari nilai yang dianggap lebih baik.

Negara-negara Barat memang lebih maju, tetapi tidak semua kemajuan harus diserap atau cocok diterapkan di Indonesia. Hal itu bukan berarti semua unsur budaya Barat ditolak untuk berkembang di Indonesia, tetapi harus diseleksi dan disesuaikan dengan nilai-nilai kepribadian bangsa Indonesia.

Sumber : http://bupropion.lo.gs/contoh-teks-eksplanasi-singkat-a165655880

PENGOLAHAN DATA

PENGOLAHAN DATA

PENGOLAHAN DATA
PENGOLAHAN DATA

A. Mengelompokkan Data

Setelah data dikumpulkan lengkap dari lapangan, tahap berikut yang harus dikerjakan adalah mengelompokkan dan menganalisis data. Jadi data yang dikumpulkan akan digunakan untuk:
1. Memecahkan masalah-masalah yang ada
2. Mengambil/menyarankan kebijakan
3. Mencapai tujuan

Analisis data dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kualitatif dan kuantitatif. Perbedaan ini tergantung pada sifat data yang dikumpulkan oleh si peneliti. Apabila data yang dikumpulkan itu hanya sedikit dan berbentuk kasus-kasus, maka analisisnya pasti kualitatif. Demikian pula, kalau data yang dikumpulkan itu berjumlah besar dan mudah untuk diklasifikasikan, maka analisisnya kuantitatif dan disebut juga analisis statistik. Proses pengolahan data dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu:

1. Tahap pendahuluan atau pengolahan data
2. Tahap kedua atau tahap pokok, yaitu tahap pengorganisasian data
3. Tahap ketiga adalah tahap penemuan hasil

1. Tahap Pengolahan Data

Setelah si peneliti pulang dari lapangan, seluruh berkas catatan informasi akan diserahkan kepada para pengolah data. Tugas pengolah data yang pertama-tama adalah meneliti kembali catatan para pencari data itu untuk mengatahui apakan catatan itu dapat disiapkan untuk melakukan proses berikutnya. Langkah-langkah pengolahan data adalah sebagai berikut:

a. Editing

Editing merupakan meneliti kembali catatan-catatan yang telah kembalid ari lapangan. Editing dilakukan terhadap kuesioner-kuesioner yang disusun secara berstruktur dan diisi lewat wawancara formal. Hal-hal yang diteliti kembali dalam editing meliputi:
Keterbacaan tulisan
Lengkapnya pengisian
Kejelasan makna jawaban
Relevansi jawaban
Keajegan dan kesesuaian jawaban satu sama lain
Keseragaman satuan data

b. Coding (pengkodean)

Setelah editing diselesaikan, kegiatan selanjutnya yang perlu dilakukan adalah memberi kode (pengkodean). Pengkodean dilakukan dengan memberi tanda (simbol) yang berupa angka pada jawaban responden yang diterima. Tujuan pengkodean adalah untuk menyederhanakan jawaban responden. Jadi coding ialah usaha mengklasifikasikan jawaban-jawaban para responden menurut macamnya yang dilakukan dengan menandai masing-masing jawaban dalam bentuk angka.
Pemberian kode dapat dilakukan dengan melihat jenis pertanyaannya. Maka, pengkodean dapat dibedakan atas:
Jawaban berupa angka
Pertanyaan yang jawabannya berupa angka seperti pertanyaan tentang umur, jumlah anak, penghasilan dan sebagainya. Jawaban semacam itu tidak perlu diubah menjadi kode. Misalnya:
Jawaban kode
Umur : 47 th
Jumlah anak : 4 orang
Penghasilan : Rp. 410.000,-

2. Tahap Pengorganisasian Data

Setelah kode diberikan, akan diperoleh data jawaban yang seluruhnya berada dalam keadaan sudah terdistribusi ke dalam kategori-kategori. Setiap kategori telah memuat data dalam jumlah atau frekuensi tertentu. Pengorganisasian data perlu dilakukan dalam bentuk tabel, baik tabel frekuensi maupun tabel silang.

a. Tabel Frekuensi

Untuk mengetahui besarnya frekuensi data masing-masing kategori perlu dilakukan perhitungan dan disusun dalam tabel frekuensi. Cara menghitung frekuensi yang paling sederhana adalah dengan cara men-talli.

b. Tabulasi

Tabulasi artinya menyusun data ke dalam bentuk tabel. Pada tahap ini data dianggap telah selesai diproses. Melalui tabulasi, data dari lapangan akan tampak ringkas dan bersifat merangkum. Dalam keadaannya yang ringkas dan tersusun dalam tabel yang baik, data akan dapat mudah dipahami.

c. Tabulasi Silang
Tabulasi silang dibuat dengan jalan memecah setiap kesatuan data ke dalam setiap kategori menjadi dua atau tiga atau lebih sub-kesatuan. Pemecahan ini dilakukan atas suatu kriteria baru yang lain

Sumber : http://ecoledespirates.eklablog.com/teks-eksplanasi-a165655848

Kartika Nuswantara, Dosen ITS yang Jadi Diplomat Bahasa di India (2)

Kartika Nuswantara, Dosen ITS yang Jadi Diplomat Bahasa di India (2)

Kartika Nuswantara, Dosen ITS yang Jadi Diplomat Bahasa di India (2)
Kartika Nuswantara, Dosen ITS yang Jadi Diplomat Bahasa di India (2)

Lewat program SAME (Scheme for Academic Mobility and Exchange) BIPA (Bahasa Indonesia Penutur Asing), Kartika Nuswantara, dosen Insitut Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) berkesempatan mengajar sekitar 100 siswa di Kalinga Institute of Social Sciences, Bhubaneswar, Odhisa. Berikut kisahnya yang dipaparkan dengan gaya bertutur.

Program BIPA di Odisha ini menjadi sangat istimewa karena siswa-siswa di sekolah ini memiliki kesempatan untuk menguasai beberapa bahasa. Pada awal memulai pembelajaran di sekolah ini, mereka hanya mampu berbahasa Ibu dan memiliki pengetahuan yang sangat terbatas.
Kartika Nuswantara
HASILNYA: Siswa Kartika menunjukkan hasil belajar mereka. (Kartika Nuswantara for JawaPos.com)

Sehingga pada tahun pertama hingga tahun kedua, siswa masih harus belajar bahasa regional yaitu bahasa Odia, bahasa regional Odisha.

Pada tahun berikutnya, mereka mulai diperkenalkan dengan bahasa India sebagai bahasa nasional dan bahasa pengantar pembelajaran didalam kelas yaitu ketika pada kelas tiga dan empat. Pada saat bersamaan, kosakata bahasa Inggris mulai diperkenalkan.

Sedangkan pada saat kelas lima, siswa yang telah siap untuk menerima bahasa baru diperbolehkan untuk belajar bahasa Indonesia. Kondisi yang menarik yaitu keterbatasan kosa kata bahasa Inggris yang mereka digunakan sebagai bahasa perantara.

Saya memulai mengajarkan bahasa Indonesia dengan jumlah siswa sebanyak 50 orang. Kelas besar menjadi kendala tersendiri pada awal mengajar.

Akan tetapi semangat dan rasa ingin tahu yang besar dari anak-anak menjadi penyemangat bagi saya untuk memulai memperkenalkan dan mengajarkan Bahasa Indonesia kepada mereka.

Sebagai pengajar dan pegiat BIPA yang aktif di organisasi, APPBIPA Jawa Timur, kesempatan ini tidak akan saya sia-siakan karena pengalaman ini dapat dimanfaatkan sebagai pengembangan sumber pustaka untuk mengembangkan metode pembelajaran BIPA bagi anak-anak yang selama ini masih belum banyak yang memulai menggarap.

Saya memanfaatkan keterampilan mereka yang pandai menggambar dan ahli dalam membuat kerajinan tangan (prakarya). Pelibatan partisipasi mereka untuk menciptakan media dalam mengembangkan pembelajaran di kelas, dengan mengajak mereka menggambar kemudian mengenalkan dan membantunya menuliskan nama obyek gambar tersebut dalam bahasa Indonesia.

Mereka mengenal nama buah, warna, nama binatang, jenis transportasi, serta mengenal nama alam dari obyek yang digambarnya.

Selain itu, dari topeng hasil karya mereka, saya mengenalkan kata sifat

yang tergambar melalui karakter topeng yang mereka buat.

Pembelajaran menjadi sangat menyenangkan dan mudah dipahami karena dilakukan sesuai dengan minat anak-anak, sehingga mereka senang serta antusias untuk belajar bahasa Indonesia.

Kebanyakan anak-anak India sangat menyukai lagu dan tari, sehingga dua hal ini yang saya cermati sebagai aset untuk memulai mengajarkan kata dalam kalimat.

Lagu-lagu anak yang tidak lagi populer di kalangan anak Indonesia,

sekarang menjadi media yang menyenangkan bagi mereka. Anak-anak telah pandai menyanyikan lagu Bangun Tidur, Lihat Kebunku, Pelangi-pelangi, Naik Delman, dan masih banyak lagu-lagu lain yang saya manfaatkan

Aktifitas lain selain menyanyi, yaitu permainan seperti sapu tangan dikipaskan menjadikan pembelajaran bahasa Indonesia semakin menarik dan interaktif tidak hanya terpaku pada aktifitas di dalam kelas.

Kesempatan lain yang tak kalah membanggakan yaitu ketika saya

berkesempatan memberikan kuliah umum pada mahasiswa di tingkat Sarjana dan Pasca Sarjana.

Saya mempresentasikan hal-hal yang berkaitan dengan bahasa dan budaya bangsa Indonesia, serta menceritakan secara historis keterdekatan negara Indonesia dan India. (*)

 

Baca Juga :

Mendikbud: 2018 Perluas Akses, Tingkatkan Mutu Pendidikan

Mendikbud: 2018 Perluas Akses, Tingkatkan Mutu Pendidikan

Mendikbud 2018 Perluas Akses, Tingkatkan Mutu Pendidikan
Mendikbud 2018 Perluas Akses, Tingkatkan Mutu Pendidikan

Dalam perencanaan kerja tahun 2018, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan memprioritaskan beberapa hal yang diamanahkan dalam Nawacita. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan mutu dan memperluas akses pendidikan.

Program yang diprioritaskan adalah Program Indonesia Pintar (PIP), Revitalisasi Pendidikan Kejuruan, dan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), serta peningkatan Ujian Nasional (UN).

PIP tahun ini, diperluas target penerimanya dengan memperluas penerima manfaat. Menjangkau anak-anak yatim piatu dan anak-anak yang tinggal di panti asuhan serta dididik non-formal.

“Terobosan terbaru Kartu Indonesia Pintar (KIP) diberikan dalam bentuk

Simpanan Pelajar dilengkapi kartu ATM. Dengan ini, Kemendikbud terus mendorong transaksi non-tunai,” jelas Mendikbud, Muhadjir Effendy, Selasa (19/12).

Berdasarkan data (11/11), pemerintah menyalurkan KIP pada jenjang SD sebanyak 7.778.963 anak, SMP sebanyak 3.244.134 anak, SMA sebanyak 1.037.351 anak dan SMK sebanyak 1.436.186 anak.

Pada program Revitalisasi Pendidikan Kejuruan dan Keterampilan yang bertujuan untuk kemandirian bangsa, revitalisasi dilakukan sesuai kebutuhan industri. Untuk mewujudkan hal itu sebanyak 12.750 guru dilatih menjadi guru produktif dan merekrut 15.000 guru Program Keahlian Ganda.

Kemendikbud juga telah lakukan kerjasama dengan 8

kementerian/lembaga, dan 16 dunia usaha dan dunia industri. Selanjutnya, sebanyak 3.574 industri telah bekerja sama dengan SMK.

Prioritas selanjutnya, PPK yang menjadi gerakan pemerintah dengan melibatkan dan kerjasama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Kemendikbud menyelaraskan beban kerja guru dengan beban kerja PNS 40 jam per minggu.

Terkait pelaksanaan UN, tahun ini UN Berbasis Komputer (UNBK)

diselenggarakan pada 33.448 sekolah dengan peserta 49 perden dari total peserta UN. 4,7 peserta diantaranya bergabung dengan sekolah lain.

Adapun pelaksanaan tahun ini juga, 70 persen daerah mendapatkan nilai Indeks Integritas Ujian Nasional (IIUN) tinggi. Untuk pelaksanaan UN dalam pendidikan kesetaraan paket B dan C diselenggarakan dua gelombang.

“Pelaksanaan UN tahun ini kita memperkenalkan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN). Dengan adanya USBN, guru-guru dilatih dan diberikan tugas menyusun soalnya,” tutur Mendikbud.

 

Sumber :

https://mammoth.co.id/kata-sifat/

Buku SD Kontroversial, Yudhistira Kecolongan Hal Ini

Buku SD Kontroversial, Yudhistira Kecolongan Hal Ini

Buku SD Kontroversial, Yudhistira Kecolongan Hal Ini
Buku SD Kontroversial, Yudhistira Kecolongan Hal Ini

Pihak penerbit Yudhistira buka suara mengenai kontroversi buku pelajaran

IPS kelas 6 SD. Melalui Wakil Kepala Penerbitan Yudhistira, Jaja Subagja mengemukakan hal yang menjadi pokok permasalahan sehingga buku tersebut memuat kesalahan fatal.

Jaja mengakui pihaknya mengambil sumber buku tersebut dari internet. “Kemarin itu kami cek ulang ternyata kami ambil dari internet. Ada World Population Site di 2010 kalau tidak salah meskipun sekrang itu sudah berubah lagi setelah di cek,” ungkap Jaja di Kantor KPAI, Jakarta Pusat, Senin (18/12).

Yudhistira menerbitkan buku IPS tersebut semenjak 2010. Fakta ini baru

terbongkar akhir-akhir ini, sehingga banyak yang menyayangkan langkah Yudhistira dalam mencari sumber. Hal ini diketahui tidaklah lazim, karena sumber harus dipastikan terlebih dahulu kebenarannya.

“Sekarang ini kurikulum baru 2013 Pemerintah memang tidak menyarankan penerbit mengambil data dari internet yg tidak jelas kecuali yg resmi misalanya web resmi kementerian,” tutur Jaja.

Jaja pun menjelaskan hal ini baru terungkap sekarang, dan sebelumnya

belum ada yang melaporkan mengenai buku tersebut. “Sebetulnya karena ini kan di dalam teks tabel kecil bukan di utamanya mungkin orang orang tidak terlalu memperhatikan. Barangkali ya,” tutupnya.

KPAI menyatakan Yudhistira akan menarik buku, dan dalam prosesnya sebagian sudah ditarik . Untuk yang masih ada kegiatan proses belajar mengajar. Yudhistira akan memberikan penawaran apakah mau diganti dengan yang baru atau disisipkan perbaikan dalam buku.

 

Sumber :

http://www.rumahtanahdijual.com/usaha-menghadapi-tantangan-pendidikan-di-era-global/