5 Fitur Microsoft Excel yang Jarang Diketahui

5 Fitur Microsoft Excel yang Jarang Diketahui

Microsoft Excel menjadi keliru satu aplikasi yang benar-benar menopang penyelesaian pekerjaan Anda. Aplikasi ini memiliki banyak sekali fitur yang dapat mempermudah pekerjaaan dalam pengelolaan data, statistik, dan berbagai fitur pemikiran lainnya. Namun, tidak semua fitur selanjutnya sudah diketahui oleh khalayak. Oleh karena itu, bersama dengan menguasai fitur-fitur Microsoft Excel itu, Rekan Kerja dapat sanggup menjadi lebih unggul daripada yang lain, bukan? Mari menyaksikan artikel di bawah ini!

1. Menghemat sementara bersama dengan Basic Template

Ketika menggunakan Microsoft Excel, Anda sanggup menggunakan berbagai dasar template yang sudah ada cocok bersama dengan kebutuhan Anda. Seperti yang sanggup Anda menyaksikan pada foto di bawah ini, Anda sanggup sebabkan berbagai laporan menggunakan Microsoft Excel layaknya financial budgeting, daily schedule, list, dan berbagai laporan lainnya bersama dengan mudah.

2. Merapikan teks bersama dengan Basic Text Function

Pada umumnya, jumlah data yang terdapat di Microsoft Excel cukup banyak. Namun, tidak semua data selanjutnya sudah diketik bersama dengan tepat cocok kaidah PUEBI. Misalnya, ada sebagian kata yang belum tercantum menggunakan huruf kapital yang seragam. Akan tetapi, Anda tidak harus was-was harus merapikannya satu-persatu karena Anda sanggup mengetikkan formula khusus di bawah ini :

Trim : Untuk merapikan postingan dan menghapus space yang tidak diinginkan. Formulanya adalah =TRIM(CELL)
Proper Case : Dengan menggunakan formula ini, setiap kata yang tercantum dapat dimulai huruf kapital. Cocok digunakan untuk penamaan nama. Formulanya adalah =PROPER
Upper Case : Seluruh karakter yang ada di postingan selanjutnya dapat tercantum menggunakan huruf kapital. Formulanya adalah =UPPER
Lower Case : Seluruh karakter yang ada dapat tercantum menggunakan huruf kecil. Formulanya adalah =LOWER
Len : Untuk mengkalkulasi jumlah karakter yang terdapat pada kata tersebut. Formulanya adalah =LEN

3. Mengatur angka bersama dengan Numbers Formatting

Aplikasi Microsoft Excel seringkali digunakan untuk memproduksi angka-angka statistik. Tidak hanya itu, Rekan Kerja termasuk sanggup sesuaikan format angka yang terdapat pada sheet Anda menggunakan Numbers Format yang terdapat pada tab Home. Di sini terdapat sebagian wujud Numbers Formatting yang sanggup digunakan untuk memformat tanggal, mata uang, waktu, pecahan, dan kepentingan lainnya.

4. Menggunakan Freezes agar tidak keliru dalam penginputan

Pernahkah Anda mendapatkan kasus dalam penginputan kala memiliki data yang benar-benar banyak? Atau Anda jadi pusing kala sedang membaca data yang sudah tidak nampak kembali judul kolomnya karena jumlah data yang benar-benar banyak? Rekan Kerja tidak harus was-was kasus itu berjalan kembali karena Anda sanggup menggunakan fitur Freezes yang terdapat dalam tab View.

5. Menggunakan Statistical Function untuk menjumlahkan data

Apakah Anda harus menjumlahkan banyak data dalam sementara yang singkat? Atau Anda menghendaki tahu bagaimana nilai kebanyakan dari kumpulan data yang ada? Hal ini tidak dapat menjadi suatu kasus terkecuali Anda menggunakan aplikasi Excel. Anda hanya harus menggunakan Statistical Function yang terdapat pada tab Formulas. Berikut adalah Statistical Function yang sanggup Anda menggunakan :

Sum : Digunakan untuk menjumlahkan keseluruhan data
Average : Digunakan untuk mengkalkulasi nilai kebanyakan dari keseluruhan data
Count Numbers : Digunakan untuk mengkalkulasi jumlah cell yang berisi angka
Max : Digunakan untuk melacak nilai terbesar
Min : Digunakan untuk melacak nilai terkecil

Itulah lima fitur Microsoft Excel yang sanggup dimanfaatkan untuk pekerjaan Anda.

Selengkapnya : https://www.biologi.co.id/

Apa Saja Dampak Pemanasan Global?

Apa Saja Dampak Pemanasan Global?

Kalian sudah paham sebelumnya perihal pemanasan global, kan? Pemanasan international ini lumayan merugikan lingkungan sekitar, ya. Selain itu, pemanasan international ini termasuk miliki banyak pengaruh negatif bagi lingkungan sekitar, termasuk bagi mahkluk hidup. Apa saja, ya pengaruh negatifnya? Yuk, belajar bersama-sama!

Perubahan Temperatur

Dampak negatif pertama yang diakibatkan oleh pemanasan international adalah pergantian temperatur. Wah, pergantian temperatur layaknya apa, nih? Contoh pergantian temperaturnya adalah suhu yang tambah meningkat dikarenakan terdapatnya panas yang terjerat di di dalam bumi. Selain itu, dikarenakan suhunya tambah meningkat berasal dari hari ke hari, es yang berada di kutub utara dan kutub selatan termasuk turut mencair, lho. Kamu mampu bayangkan nggak nih akibat berasal dari mencairnya es-es tersebut? Yes, volume air laut jadi meningkat dan habitat beruang kutub termasuk turut berkurang. Lalu, beruang kutubnya senang tinggal di mana, dong? Kasihan banget, ya.

Kerusakan Biota Laut

Dampak seterusnya adalah kerusakan biota laut dikarenakan berubahnya suhu di lingkungan laut. Ternyata, yang terasa kepanasan bukan cuma kita-kita yang berada di darat, Squad. Teman-teman di laut juga! Suhu laut turut meningkat sebanyak 0.18 derajat celcius. Ih, nggak banyak tuh! Memang terkesan nggak banyak, tetapi ternyata lumayan mengganggu. Apalagi kenaikan suhu ini tidak cuma berjalan di permukaan laut, tetapi termasuk di laut di dalam – area kehidupan laut berkembang paling subur.

Lalu, apa efeknya pada terumbu karang? Ketika suhu laut meningkat, suasana fisik terumbu karang turut terpengaruh. Terumbu karang dapat mengalami pemutihan. Pemutihan berikut dapat membawa dampak terumbu karang rentan di serang penyakit agar mampu membawa dampak kematian di dalam jumlah besar. Sayang sekali, ya. Padahal terumbu karang Indonesia masuk ke di dalam segitiga terumbu karang dunia dengan kepemilikan sebanyak 15% berasal dari total jumlah terumbu karang di seluruh dunia, lho.

Gagal Panen

Efek paling akhir yang kemungkinan berjalan akibat pemanasan international adalah gagal panen. Kok pemanasan international turut memengaruhi keberhasilan panen, sih? Jelas turut mempengaruhi, dong! Pemanasan international ini mampu membawa dampak kekeringan lahan. Jika lahannya mengering, nutrisi yang dibutuhkan oleh tumbuhan termasuk tidak mampu tersedia secara maksimal. Akibatnya, panennya terganggu, lalu lantas dapat mengalami kegagalan. Kalau gagal panen hingga terjadi, pasokan bahan baku termasuk jadi terganggu. Bahaya banget, kan?

Ternyata, bahaya banget ya pemanasan international ini. Kamu tentu nggak senang kan terkecuali pemanasan international ini konsisten terjadi? Yuk, terasa mencintai bumi berasal dari sekarang! Kamu mampu memulainya dengan hal-hal sederhana, lho. Misalnya dengan tidak melenyapkan sampah sembarangan.

Selengkapnya : https://www.gurukelas.co.id/

Cara Efektif Menghadapi Body-Shaming di Lingkungan Kerja

Cara Efektif Menghadapi Body-Shaming di Lingkungan Kerja

Pertanyaan berikut merupakan satu contoh kalimat yang biasa kita temui di dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk lain berasal dari bertanya kabar. Kalimat bersama dengan sisipan komentar perihal tubuh seolah jadi hal yang wajar di masyarakat, tanpa peduli bahwa tindakan seperti itu sanggup berdampak jelek secara psikologis bagi si penerima.

Tindakan mengomentari fisik seseorang dikenal bersama dengan istilah body-shaming. Tanpa disadari, sarana mempunyai peran besar terhadap timbulnya pembentukan konstruksi tubuh ideal di kalangan masyarakat.

Lalu, bagaimana langkah menangani tindakan body-shaming?

1. Berikan pemahaman perihal body-shaming

Banyak orang yang mengomentari bentuk tubuh orang lain tidak tahu bahwa yang mereka laksanakan adalah tabiat body-shaming dan berdampak negatif bagi orang lain. Oleh karena itu, Anda perlu menyatakan kepada mereka apa itu body-shaming. Ketidaktahuan masyarakat akan definisi body-shaming merupakan potensi besar untuk menambahkan edukasi perihal body-shaming.

2. Katakan andaikata Anda tidak nyaman

Selain menyatakan pengertian body-shaming, Anda terhitung perlu mengungkap perasaan Anda akan ketidaknyamanan itu. Jangan kuatir Anda akan dimusuhi bersama dengan mengatakannya, justru setelah mengutarakannya orang akan lebih waspada bersama dengan ucapan mereka kedepannya. Tentu saja Anda sanggup menyampaikannya bersama dengan cari yang baik, ‘kan?

3. Jangan bersembunyi

Bila Anda menjadi tidak cukup yakin diri bersama dengan tubuh yang Anda miliki, udah pasti Anda akan menjadi sungkan untuk bertemu orang lain. Hal ini pasti saja sanggup menyebabkan Anda jadi spesial yang tertutup dan sulit bergaul bersama dengan kawan kerja Anda di kantor. Cobalah peduli bagian berasal dari tubuh Anda yang tidak cukup kamu sukai dan senantiasa mengusahakan Anda tutupi. Kemudian, sesekali pergilah terlihat bersama dengan tanpa menutupi kekurangan berikut dan menyaksikan apa yang berjalan walaupun cuma sebentar. Bila masalah lainnya adalah Anda sungkan untuk berkata di depan umum, coba untuk sesekali angkat bicara. Ambil langkah-langkah kecil seperti dua hal tadi dan perhatikan perasaan Anda atas setiap tindakan tersebut. Lambat laun Anda akan terbiasa bersama dengan hal-hal berikut dan terlihat berasal dari zona nyaman.

4. Cintai diri Anda apa adanya

Di manapun terjadi, kunci untuk hadapi tabiat body-shaming terletak terhadap diri Anda sendiri. Cintailah diri Anda apapun kekurangan yang Anda miliki, karena terhadap dasarnya tidak ada manusia yang sempurna. Bahkan tipe dan bintang iklan pun mempunyai banyak kekurangan fisik yang ditutupi untuk keperluan profesi. Bila artikel-artikel di internet tidak sanggup menambahkan progres terhadap keyakinan diri Anda, coba menemui terapis untuk menopang andaikata dirasakan tindakan body-shaming yang dulu Anda alami begitu mempengaruhi Anda.

5. Tunjukkan usaha Anda untuk mendapat tampilan baru

Poin ini terlalu berfaedah andaikata Anda mempunyai body-shaming tentang bersama dengan berat badan. Bukan maksud untuk melawan komentar negatif orang lain perihal tubuh Anda, tapi usaha ini akan menyebabkan orang lain tersadar bahwa situasi tubuh Anda pun mengalami ada masalah akan situasi tubuh Anda waktu ini. Bila Anda ikuti senam atau bahkan mempunyai seorang PT (Personal Trainer) untuk berolahraga dan mengurangi berat badan, menunjukkan itu lewat sarana sosial Anda atau di dalam pembicaraan Anda sehari-hari bersama dengan kawan kerja. Anda tidak perlu beranggap hal berikut sebagai sebuah aib, sehingga perlu ditutupi. Dengan menunjukan usaha yang tidak ringan berikut kepada orang lain, orang-orang akan tahu bahwa tidak sepantasnya hal itu dijadikan bahan lelucon. Bahkan sanggup jadi orang-orang akan menopang usaha Anda tersebut.

Body-shaming yang biasa disisipkan di dalam candaan, justru perlu ditanggapi secara sungguh-sungguh sehingga tidak jadi budaya di dalam kehidupan sehari-hari kita. Bila tindakan body-shaming berjalan di kira-kira Anda, kini Anda tahu apa yang perlu Anda lakukan, yaitu berikan edukasi perihal dampak negatif body-shaming.

Baca Juga :

Mungkinkah Mengintegrasikan Pendidikan Sains dan Agama?

Mungkinkah Mengintegrasikan Pendidikan Sains dan Agama? – Siapa bilang mengintegrasikan edukasi sains dan agama ialah hal mustahil? Metode edukasi Madina Islamic School bisa menjadi di antara modelnya. Soal integrasi sains dan edukasi agama ini dikatakan Riyanto Sofyan, Founder Madina Islamic School ketika menerima trafik petinggi Cambridge International ke Indonesia, Jumat (26/10/2018).

Berdasarkan keterangan dari Riyanto, disiplin ilmu sains laksana matematika, algoritma dan aljabar pun ada dalam Al Quran. “Makna yang tersirat dalam Al Quran berisi makna-makna dalam ilmu sains, ilmuwan muslim pendahulu sudah mengajarkan kita tidak sedikit hal ini laksana Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, dan lainnya,” jelas Riyanto.

Ia menambahkan sejarah pertumbuhan ilmu Aljabar tidak dapat dicungkil dari kemajuan Islam. Riyanto menjelaskan, Al Khawarizmi dikenal sebagai penemu Aljabar sebelum diadopsi Yunani menjadi ilmu aritmatika.

“Jadi sebetulnya tidak susah mengintegrasikan sains dan agama dalam kurikulum pendidikan bila kita tahu akar sejarahnya,” tegasnya.

Dalam  https://www.bahasainggris.co.id urusan akademik, Madina Islamic School menjadi sekolah yang mengadopsi tiga kurikulum sekaligus yakni kurikulum Cambridge International, kurikulum Al-Azhar Cairo, dan kurikulum Nasional.

Meskipun terkesan berat dan sulit untuk siswa, tetapi ketiga kurikulum ini berhasil diterapkan di sekolah yang telah berdiri selama nyaris 15 tahun itu.

Riyanto mengucapkan pada tadinya orang tua murid merasa keberatan dengan diberlakukannya 3 kurikulum sekaligus. Alasannya, menurut keterangan dari orang tua murid dapat mengganggu ekuilibrium waktu belajar dan bermain anak.

“Lambat laun, orang tua murid mulai percaya dengan kurikulum yang diterapkan oleh sekolah, lulusan Madina Islamic School juga tidak sedikit yang kesudahannya diterima di sekolah terbaik domestik dan luar negeri,” tambahnya.

Ian Harris, Head of Marketing Communications Cambridge International Examination, mengucapkan kekagumannya. Sebab, tidak tidak banyak sekolah kewalahan mengintegrasikan sains, dalam urusan ini kurikulum Cambridge International, ke dalam kurikulum baku sekolah.

Di samping Ian Harris, muncul dua petinggi Cambridge International lainnya, yakni Dianindah Apriyani, Senior Country Manager Indonesia dan Eve Sewell, Marketing Communication Manager, Southeast Asia and Pacific.

Madina Islamic School (MIS) sendiri adalahsekolah Islam inklusif dan terpadu mulai dari tingkat pre-school, kindergarten (TK), primary school (SD), dan secondary school (SMP). MIS merealisasikan tiga kurikulum edukasi yaitu kurikulum nasional, kurikulum internasional dari Cambridge School, dan kurikulum Al-Azhar Cairo.

MIS pun menerapkan kepandaian wajib hafalan Al-Quran untuk siswa SD dan SMP.

baca juga: Menuju Indonesia Emas 2045, Kemendikbud Latih Guru di Daerah Terpencil

Menuju Indonesia Emas 2045, Kemendikbud Latih Guru di Daerah Terpencil

Menuju Indonesia Emas 2045, Kemendikbud Latih Guru di Daerah Terpencil – Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyatakan, guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani & rohani, dan mampu mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Hal ini berlaku juga buat guru daerah spesifik (Gurdasus). Di samping harus memenuhi kualifikasi S1/DIV, guru di daerah ini pula harus memiliki sertifikat pendidik yang diperoleh melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG).

Dikarenakan syarat lingkungan, Gurdasus mempunyai tantangan dan kendala dalam menaikkan kompetensi dan keprofesionalannya dalam mengikuti program PPG.

Berangkat menurut hal itu, Direktorat Jenderal Guru & Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), melalui Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar dan Menengah dan Pendidikan Khusus menyelenggarakan pelatihan peningkatan kompetensi Gurdasus sebagai pengajar profesional.

Mereka mengadakan pembinaan itu bekerjasama menggunakan Universitas Muhammadiyah Malang & Pusat Pengembangan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) PKN dan IPS.

“Pelatihan diselenggarakan melalui  https://www.sekolahan.co.id kegiatan prakondisi, yaitu Pelatihan Pengajar Daerah Khusus (PGDK) melalui pembelajaran tatap muka buat menyiapkan Gurdasus berhasil dalam menyelesaikan acara PPG,” tulis fakta resmi Ditjen GTK yg diterima, Senin (1/10/2018).

Lebih lanjut, rilis itu menunjukkan bahwa kegiatan prakondisi dilakukan karena Gurdasus menghadapi tantangan dan kendala pada mengikuti acara PPG dalam jabatan.

Biasanya program PPG pada jabatan dilaksanakan pada bentuk blended learning atau hybrid learning (memadukan pola belajar daring & tatap muka).

Sebagai warta, acara PGDK adalah bagian dari pendidikan layanan spesifik.

Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional Pasal 32 ayat dua, pendidikan layanan khusus adalah pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau udik, rakyat norma terpencil, mengalami bencana alam, bencana sosial dan tidak mampu dari segi ekonomi.

Program PGDK sendiri diperuntukkan bagi guru yg berkualifikasi S1/DIV dan sudah mengabdi dalam sekolah di daerah khusus. Asal memahami saja, pengajar pada wilayah khusus yg mengikuti program ini sudah melalui proses seleksi akademik & pembuktian kelayakan sebagai peserta PPG dalam jabatan.

Untuk memenuhi kebutuhan pelayanan pendidikan berkualitas di wilayah khusus, yaitu daerah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T), Direktorat Pembinaan Pengajar Dikdas pun melaksanakan program PGDK kepada tiga.120 orang guru.

Pelaksanaan acara PGDK ini terintegrasi menggunakan program Pendidikan Profesi Pengajar Dalam Jabatan yg akan dilaksanakan oleh perguruan tinggi.

Hingga ketika ini, tercatat 86 guru berdasarkan daerah khusus berdasarkan provinsi NTT, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara mengikuti acara PGDK. Kegiatan ini berlangsung mulai berdasarkan tanggal 1 – 8 September 2018 bertempat di PPPPTK PKN & IPS Batu di Jawa Timur. Berdasarkan latar belakang Gurdasus & capaian pembelajaran yang ditetapkan, materi program PGDK difokuskan pada dominasi konten & penguasaan pedagogi.

Adapun materi acara PGDK menggunakan pola 80 jam pengajaran terbagi sebagai 7 bagian. Di antaranya merupakan Kebijakan Umum Program (1), Lalu, dominasi Pedagogi (dua) yang terdiri menurut Kebijakan Pemerintah mengenai Pendidikan, Kurikulum 2013, Pembelajaran Abad 21 dan aplikasinya pada Pembelajaran, Pengembangan Profesi Pengajar & aplikasinya, Teori Belajar & Pembelajaran dan aplikasinya, Karakteristik Peserta Didik & aplikasinya, Strategi Pembelajaran & aplikasinya dan Penilaian dan Tindak Lanjut.

Kemudian Penguasaan Konten Mapel/Bidang Keahlian/Profesional (tiga), Pengenalan Budaya & Kearifan Lokal (4), Pemanfaatan ICT dalam Penyelesaian Perseteruan Pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas (5), Tes Formatif & pembahasan (6) dan Tes Sumatif (7).

Dengan adanya Program PGDK ini, Gurdasus pun diperlukan memiliki kesiapan dan kemampuan buat mengikuti program PPG. Setelah selesai mengikuti PGDK, para Gurdasus melanjutkan PPG sesi pendalaman materi mulai tanggal 9-24 September 2018 di Universitas Muhammadiyah Malang.

Sebagai liputan, Gurdasus adalah galat satu acara pemerintah buat mengatasi pertarungan pendidikan di wilayah 3T.

Hal ini, masuk pada salah satu acara prioritas Nawacita ke-3 Presiden Joko Widodo & Wakil Presiden Jusuf Kalla, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran.

Caranya dengan memperkuat daerah & desa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Termasuk di dalamnya menciptakan pendidikan pada wilayah 3T, sebagai akibatnya Gurdasus bisa mendidik anak bangsa yang hebat menuju Indonesia Emas di tahun 2045.

baca juga: Inilah 4 Keuntungan Menjadi Anak Ayah, Apasaja?

Pandangan Tentang Pembelajaran Menurut Kurikulum 2013

Pandangan Tentang Pembelajaran Menurut Kurikulum 2013

Pandangan Tentang Pembelajaran Menurut Kurikulum 2013
Pandangan Tentang Pembelajaran Menurut Kurikulum 2013
Dalam pandangan Kurikulum 2013, kegiatan pembelajaran adalah suatu proses pendidikan yang memberikan kesempatan bagi siswa agar dapat mengembangkan segala potensi yang mereka miliki menjadi kemampuan yang semakin lama semakin meningkat dilihat dari aspek sikap (afektif), pengetahuan (kognitif), dan keterampilan (psikomotor). Kemampuan ini akan diperlukan oleh siswa tersebut untuk kehidupannya dan untuk bermasyarakat, berbangsa, serta berkontribusi pada kesejahteraan kehidupan umat manusia. Karena itu suatu kegiatan pembelajaran seharusnya mempunyai arah yang menuju pemberdayaan semua potensi siswa agar dapat menjadi kompetensi yang diharapkan.

Berikutnya, strategi pembelajaran yang digunakan oleh seorang guru di dalam kelasnya seharusnya ditujukan agar dapat memfasilitasi tercapainya kompetensi yang telah dirancang dalam dokumen kurikulum sehingga pada gilirannya setiap siswa mampu menjadi pebelajar yang mandiri sepanjang hayatnya. Mereka akan  menjadi komponen penting untuk mewujudkan sebuah masyarakat belajar (komunitas belajar/learning community). Kualitas lain yang dikembangkan kurikulum dan harus terealisasikan dalam proses pembelajaran yang wujudnya dapat berupa kreativitas, kemandirian, kerja sama, solidaritas, kepemimpinan, empati, toleransi dan kecakapan hidup peserta didik guna membentuk watak serta meningkatkan peradaban dan martabat bangsa.

Prinsip Kegiatan Pembelajaran dalam Kurikulum 2013

Untuk mencapai kualitas yang telah dirancang dalam dokumen kurikulum 2013, kegiatan pembelajaran harusnya menggunakan prinsip yang:
  • berpusat pada peserta didik,
  • mengembangkan kreativitas peserta didik,
  • menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang,
  • bermuatan nilai, etika, estetika, logika, dan kinestetika, dan
  • menyediakan pengalaman belajar yang beragam melalui penerapan berbagai strategi dan metode pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, efektif, efisien, dan bermakna.
Pada suatu kegiatan belajar-mengajar, siswa diajak untuk menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi-informasi yang kompleks, mengecek informasi baru dengan yang sudah ada dalam ingatannya, dan melakukan pengembangan menjadi informasi atau kemampuan yang sesuai dengan lingkungan dan jaman tempat dan waktu ia hidup. Kurikulum 2013 menganut pandangan dasar bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke siswa (konstruktivisme).

Buat siswa aktif secara fisik dan mental dalam kegitan pembelajaran
Siswa adalah subjek yang mempunyai kemampuan aktif mencari, mengolah, mengkonstruksi, dan menggunakan pengetahuan. Untuk itu kegiatan belajar tentunya merupakan kesempatan yang diberikan kepada siswa agar dapat mengkonstruksi pengetahuan dalam proses kognitifnya. Siswa penting untuk selalu dipicu untuk belajar memecahkan masalah (problem solving), menemukan sesuatu (discovery learning), dan belajar mewujudkan ide-ide yang dimilikinya sehingga mereka akan betul-betul memahami dan dapat menerapkan pengetahuan.Pada suatu kegiatan pembelajaran, guru memfasilitasi proses di atas. Hal yang dapat dilakukan guru yaitu dengan membentuk lingkungan belajar yang dapat memberi kesempatan kepada siswa agar bisa menemukan, menerapkan ide-ide mereka, menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar (self regulated learning). Guru mengembangkan kesempatan belajar kepada siswa untuk meniti anak tangga yang membawa peserta didik kepemahaman yang lebih tinggi tanpa melaupakan prinsip scaffolding seperti yang disarankan oleh para ahli psikologi pendidikan. Mula-mula siswa belajar dengan bantuan guru tetapi semakin lama mereka harus semakin mandiri. Bagi siswa, pembelajaran harus bergeser dari “diberi tahu” menjadi “aktif mencari tahu” atau dalam kata lain belajar aktif (active learning).

Kurikulum 2013 dan Teori Piaget

Pada kegiatan pembelajaran, siswa membangun pengetahuannya sendiri. Bagi mereka, pengetahuan yang dimilikinya bersifat dinamis, berkembang dari sederhana menuju kompleks, dari ruang lingkup dirinya dan di sekitarnya menuju ruang lingkup yang lebih luas, dan dari yang bersifat konkrit menuju abstrak. Sebagai manusia yang sedang berkembang, siswa telah, sedang, dan atau akan mengalami 4 tahap perkembangan intelektual, yakni sensori motor, pra-operasional, operasional konkrit, dan operasional formal (Teori Piaget).

Secara umum tahap pertama (sensori motor) terjadi sebelum seseorang memasuki usia sekolah, tahap ke-2 (pra-operasional) dan tahap ke-3 (operasional konkrit) dimulai ketika seseorang menjadi siswa di jenjang pendidikan dasar, sedangkan tahap ke-4 dimulai sejak tahun kelima dan keenam SD.


Proses pembelajaran terjadi secara internal di dalam diri siswa. Proses itu bisa saja berlangsung sebagai akibat rangsangan dari luar yang diberikan guru, teman, dan atau lingkungan. Proses itu mungkin pula terjadi sebagai akibat rangsangan dari dalam diri siswa itu sendiri yang utamanya dikarenakan adanya keingintahuan mereka. Proses pembelajaran dapat pula terjadi sebagai gabungan dari rangsanga dari luar dan rangsangan dari dalam diri siswa. Pada suatu proses pembelajaran, guru harus mengembangkan kedua stimulus pada diri setiap siswanya.

Pembelajaran Mengembangkan Potensi Siswa dan Membentuk Seorang Pebelajar Sepanjang Hayat

Pada suatu pembelajaran, siswa dibantu agar dapat melibatkan diri secara aktif untuk mengembangkan potensinya sehingga menjadi suatu kompetensi. Guru menyediakan pengalaman belajar untuk siswa sehingga mereka dapat melakukan beragam aktivitas yang dapat membantu mereka untuk mengembangkan potensi menjadi kompetensi yang ditetapkan dalam dokumen kurikulum 2013 atau bahkan melebihinya. Pengalaman belajar semakin lama semakin meningkat hingga akhirnya akan menjadi suatu kebiasaan belajar mandiri dan tetap sebagai salah satu fondasi untuk menjadi pebelajar sepanjang hayat (lifelong learner).

Pada suatu kegiatan pembelajaran dapat terjadi pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa dalam kombinasi dan penekanan yang bervariasi. Setiap kegiatan pembelajaran memiliki kombinasi dan penekanan yang berbeda dari kegiatan pembelajaran lainnya. Hal ini tentu saja bergantung pada sifat konten yang sedang dipelajari siswa. Walaupun begitu, aspek pengetahuan (kognitif) akan selalu menjadi faktor penggerak untuk pengembangan kemampuan lain (afektif dan psikomotor).


Materi PENALARAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF

Materi PENALARAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF

PENALARAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF
PENALARAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF

Suatu penelitian pada hakekatnya dimulai dari hasrat keingintahuan manusia, merupakan anugerah Allah SWT, yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan maupun permasalahan-permasalahan yang memerlukan jawaban atau pemecahannya, sehingga akan diperoleh pengetahuan baru yang dianggap benar.

 

Pengetahuan baru yang benar tersebut merupakan pengetahuan yang dapat diterima oleh akal sehat dan berdasarkan fakta empirik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pencarian pengetahuan yang benar harus berlangsung menurut prosedur atau kaedah hukum, yaitu berdasarkan logika. Sedangkan aplikasi dari logika dapat disebut dengan penalaran dan pengetahuan yang benar dapat disebut dengan pengetahuan ilmiah.


Untuk memperoleh pengetahuan ilmiah dapat digunakan dua jenis penalaran, yaitu Penalaran Deduktif dan Penalaran Induktif. Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus.

 

Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.

Penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi.


Kedua penalaran tersebut di atas (penalaran deduktif dan induktif), seolah-olah merupakan cara berpikir yang berbeda dan terpisah. Tetapi dalam prakteknya, antara berangkat dari teori atau berangkat dari fakta empirik merupakan lingkaran yang tidak terpisahkan. Kalau kita berbicara teori sebenarnya kita sedang mengandaikan fakta dan kalau berbicara fakta maka kita sedang mengandaikan teori (Heru Nugroho; 2001: 69-70). Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan dilaksanakan dalam suatu ujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada hukum-hukum logika.

Upaya menemukan kebenaran dengan cara memadukan penalaran deduktif dengan penalaran induktif tersebut melahirkan penalaran yang disebut dengan reflective thinking atau berpikir refleksi. Proses berpikir refleksi ini diperkenalkan oleh John Dewey (Burhan Bungis: 2005; 19-20), yaitu dengan langkah-langkah atau tahap-tahap sebagai berikut :

  • The Felt Need, yaitu adanya suatu kebutuhan. Seorang merasakan adanya suatu kebutuhan yang menggoda perasaannya sehingga dia berusaha mengungkapkan kebutuhan tersebut.

  • The Problem, yaitu menetapkan masalah. Kebutuhan yang dirasakan pada tahap the felt need di atas, selanjutnya diteruskan dengan merumuskan, menempatkan dan membatasi permasalahan atau kebutuhan tersebut, yaitu apa sebenarnya yang sedang dialaminya, bagaimana bentuknya serta bagaimana pemecahannya.
  • The Hypothesis, yaitu menyusun hipotesis. Pengalaman-pengalaman seseorang berguna untuk mencoba melakukan pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Paling tidak percobaan untuk memecahkan masalah mulai dilakukan sesuai dengan pengalaman yang relevan. Namun pada tahap ini kemampuan seseorang hanya sampai pada jawaban sementara terhadap pemecahan masalah tersebut, karena itu ia hanya mampu berteori dan berhipotesis.
  • Collection of Data as Avidance, yaitu merekam data untuk pembuktian. Tak cukup memecahkan masalah hanya dengan pengalaman atau dengan cara berteori menggunakan teori-teori, hukum-hukum yang ada. Permasalahan manusia dari waktu ke waktu telah berkembang dari sederhana menjadi sangat kompleks; kompleks gejala maupun penyebabnya. Karena itu pendekatan hipotesis dianggap tidak memadai, rasionalitas jawaban pada hipotesis mulai dipertanyakan. Masyarakat kemudian tidak puas dengan pengalaman-pengalaman orang lain, juga tidak puas dengan hukum-hukum dan teori-teori yang juga dibuat orang sebelumnya. Salah satu alternatif adalah membuktikan sendiri hipotesis yang dibuatnya itu. Ini berarti orang harus merekam data di lapangan dan mengujinya sendiri. Kemudian data-data itu dihubung-hubungkan satu dengan lainnya untuk menemukan kaitan satu sama lain, kegiatan ini disebut dengan analisis. Kegiatan analisis tersebut dilengkapi dengan kesimpulan yang mendukung atau menolak hipotesis, yaitu hipotesis yang dirumuskan tadi.

  • Concluding Belief, yaitu membuat kesimpulan yang diyakini kebenarannya. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan pada tahap sebelumnya, maka dibuatlah sebuah kesimpulan, dimana kesimpulan itu diyakini mengandung kebenaran.
  • General Value of The Conclusion, yaitu memformulasikan kesimpulan secara umum. Konstruksi dan isi kesimpulan pengujian hipotesis di atas, tidak saja berwujud teori, konsep dan metode yang hanya berlaku pada kasus tertentu – maksudnya kasus yang telah diuji hipotesisnya – tetapi juga kesimpulan dapat berlaku umum terhadap kasus yang lain di tempat lain dengan kemiripan-kemiripan tertentu dengan kasus yang telah dibuktikan tersebut untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang.

Proses maupun hasil berpikir refleksi di atas, kemudian menjadi popular pada berbagai proses ilmiah atau proses ilmu pengetahuan. Kemudian, tahapan-tahapan dalam berpikir refleksi ini dipatuhi secara ketat dan menjadi persyaratan dalam menentukan bobot ilmiah dari proses tersebut. Apabila salah satu dari langkah-langkah itu dilupakan atau dengan sengaja diabaikan, maka sebesar itu pula nilai ilmiah telah dilupakan dalam proses berpikir ini.


Sumber : Ngelag.Com

PENGERTIAN DAN JENIS-JENIS ALAT PENDIDIKAN

PENGERTIAN DAN JENIS-JENIS ALAT PENDIDIKAN

PENGERTIAN DAN JENIS-JENIS ALAT PENDIDIKAN
PENGERTIAN DAN JENIS-JENIS ALAT PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam proses pelaksanaan pendidikan dibutuhkan langkah-langkah yang diambil demi kelancaran proses pelaksanaan pendidikan tersebut. Langkah-langkah tersebut kita kenal dengan Alat-alat pendidikan.
berdasarkan pernyataan itu, maka di dalam makalah ini akan dibahas lebih detail tentang pengertian dan jenis-jenis alat pendidikan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian jenis-jenis alat pendidikan?
2. Apa saja jenis-jenis alat pendidikan?

 


 

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Jenis-Jenis Alat Pendidikan
Dalam praktek pendidikan, istilah alat pendidikan sering diindentikkan dengan media pendidikan, walaupun sebenarnya pengertian alat lebih luas dari pada media. Namun yang dimaksud disini adalah alat pendidikan bukan media pendidikan.


Alat pendidikan adalah langkah-langkah yang diambil demi kelancaran proses pelaksanaan pendidikan . jadi alat pendidikan itu berupa usaha dan perbuatan yang secara konkrit dan tegas dilaksanakan, guna menjaga agar proses pendidikan bisa berjalan dengan lancar dan berhasil . Namun secara umum, alat pendidikan adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan .


Sementara itu, Ahmad D. Marimba memandang alat pendidikan dari aspek fungsinya, yakni ; alat sebagai perlengkapan, alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan, alat sebagai tujuan untuk mencapai tujuan selanjutnya. menurut pendapat ini, alat pendidikan bisa berupa usaha/perbuatan atau berupa benda/perlengkapan yang bisa memperlancar/mempermudah pencapaian tujuan pendidikan.



B. Jenis-jenis alat pendidikan


Mengenai alat-alat pendidikan, kita dapat memedakan alat-alat pendidikan ke dalam dua golongan yaitu:


a. Alat pendidikan preventif
Alat pendidikan preventif ialah alat pendidikan yang bersifat pencegahan. Tujuan alat pendidikan preventif itu diadakan jika maksudnya mencegah anak sebelum ia berbuat sesuatu yang tidak baik . Dan untuk menjaga agar hal-hal yang dapat menghambat atau mengganggu kelancaran dari proses pendidikan bisa dihindarkan. Misalnya, tata tertib, anjuran dan perintah, larangan dan paksaan.


b. Alat pendidikan represif
Alat pendidikan represif disebut juga alat pendidikan kuratif atau alat pendidikan korektif. Alat pendidikan represif bertujuan untuk menyadarkan anak kembali kepada hal-hal yang benar, yang baik dan tertib. Alat pendidikan represif diadakan bila terjadi sesuatu perbuatan yang dianggap bertentangan dengan peraturan-peraturan, atau sesuatu perbuatan yang dianggap melanggar peraturan. Misalnya, pemberitahuan, teguran, hukuman dan ganjaran .


Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa alat pendidikan dibagi ke dalam tiga bagian :
1. Alat-alat yang memberikan perlengkapan berupa kecakapan berbuat dan pengetahuan hafalan.
Alat-alat ini dapa disebut alat-alat untuk pembiasaan.
2. Alat-alat untuk memberi pengertian; membentuk sikap, minat dan cara-cara berfikir.
3. Alat-alat yang membawa ke arah keheningan batin, kepercayaan dan pengarahan diri sepenuhnya kepada-nya.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Alat pendidikan adalah langkah-langkah yang diambil demi kelancaran proses pelaksanaan pendidikan. jadi alat pendidikan itu berupa usaha dan perbuatan yang secara konkrit dan tegas dilaksanakan, guna menjaga agar proses pendidikan bisa berjalan dengan lancar dan berhasil. Namun secara umum, alat pendidikan adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan.
Alat-alat pendidikan dapat dibedakan menjadi dua golongan.
1. Alat pendidikan preventif
2. Alat pendidikan represif

B. Saran
Setelah Penulis dapat menyelesaikan makalah ini, kami harapkan saran dan kritik dari bapak pembimbing dan rekan-rekan sekalian demi kesempurnaan makalah ini. Dan semoga makalah ini bermanfaat bagi yang membaca. Amien.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

– Amir Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, Surabaya : Usaha Nasional
– Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung : Al-Ma’arif, 1987
– Kosim. Moh, Buku Ajar Pengantar Pendidikan, STAIN Pamekasan Press, 2006

6 Tips Penting Dalam Membangun Bisnis Berbasis Teknologi

6 Tips Penting Dalam Membangun Bisnis Berbasis Teknologi

Tidak tidak cukup dari 1.276 mahasiswa baru Universitas Prasetiya Mulya (Prasmul) mengikuti Kuliah Perdana (Inaugural Lecture) 2018 di Kampus Prasmul BSD, Tangerang Selatan.

Usai acara kuliah perdana, Rektor Universitas Prasmul Prof Djisman Simandjuntak dan penceramah kunci dalam Kuliah Perdana Ariya Hidayat Developer Senior asal Indonesia yang sekarang berkarir di Silicon Valley menyalurkan 6 tips bagaimana membina bisnis berbasis teknologi menghadapi era industri 6.0:

1. Jadi ‘trendsetter’

Ariya mengingatkan menjadi inovatif bukan berarti sekadar mengekor perkembangan teknologi saja. “Banyak anak muda tidak cukup berani dan melulu ikut arus yang telah ada. Soal era industri 4.0 tidak saja soal big data, AI atau robotic saja,” jelas Ariya.

Justru kendala utama ialah berani membuat solusi-solusi dan berani mengeksekusi ide-ide. “Saat anda berhadapan dengan masalah kemacetan, mengapa solusi software Waze malah lahir dari negara beda dan kita melulu tinggal mengikuti, mengapa kita tidak berani mengupayakan untuk menjadi trendsetter?”

2. Efisiensi

Salah satu urusan yang tidak cukup dipersiapkan dunia edukasi kita ialah melatih soft skill guna menghadapi kehidupan nyata. Kemampuan guna bekerjasama, berkolaborasi, mempresentasikan dan mengomunikasikan ide nyaris tidak diajarkan secara formal untuk orang muda.

“Kita terbiasa mengajarkan bagaimana menyatakan dalam beratus-ratus slide daripada bagaimana menjelaskan gagasan atau usulan dalam 15 atau bahkan 5 menit,” kata Ariya.

3. Berkelanjutan

Anak muda ketika ini ingin mudah menyerah. Saat idenya ditampik atau diejek, mereka tergoda guna mengubah dengan hal beda atau urusan baru lainnya. “Anak muda gampang untuk patah semangat sampai-sampai apa yang dilaksanakan seringkali tidak tuntas,” kata Ariya.

“Membangun bisnis berbasis teknologi bukanlah sebuah kompetisi lari sprint tetapi malah lari maraton yang memerlukan stamina, kesabaran, ketekunan dan kegigihan jangka panjang,” tambahnya.

4. Kolaborasi gagasan

Rektor Prasmul Prof Djisman menyampaikan menginjak era industri 4.0 antara bisnis dan teknologi mesti mengerjakan kolaborasi. “Membawa sains dan teknologi atau STEM ke dalam bisnis dapat dilaksanakan dengan  https://www.pelajaran.id mengerjakan kolaborasi ide-ide. Saat ini bisnis tidak bisa berjalan tanpa teknologi dan kebalikannya teknologi tidak bisa berkelanjutan tanpa bisnis yang baik,” tegas Djisman.

Inilah yang sekarang dilakukan tidak sedikit pihak, tergolong Universitas Prasmul, dengan membuka co-working space di mana dunia edukasi yang mempunyai keilmuan dapat bekerjasama dengan dunia korporasi, tambahnya.

5. Memperluas spektrum

Djisman kemudian pun mengingatkan menginjak era industri 4.0 bukan berarti anda harus latah pada pengembangan bisnis berbasis teknologi tinggi saja. “Perlu diingat, di Indonesia bisnis yang berkembang mempunyai spektrum luas, mulai dari bisnis teknologi 4.0 hingga industri 1.0,” katanya.

Ada tidak sedikit industri rempah, kebiasaan tari, hasil bumi laksana kopi yang pun perlu pun dikembangkan secara keilmuan dan pun bisnis. “Jangan tak sempat dengan akar kebiasaan kita. Kita tetap memburu bisnis berbasis teknologi tinggi untuk masa mendatang tetapi pun tidak lupa guna mengilmukan bisnis-bisnis tradisional,” ujar Djisman.

6. Kemampuan organisasi

Kembali Ariya mengingatkan, di antara kegagapan orang muda kita ialah kurangnya keterampilan mengelola organisasi bisnis yang dirintis. “Saat menemukan modal besar, tidak sedikit dari kita lantas gagap bagaimana mengerjakan organization scaling dan organization excellent,” jelas Ariya.

Mereka tidak tahu bagaimana menata engineer ketika jumlahnya menjangkau ratusan. Atau paling lambatnya penanganan saat mengalami masalah teknis ialah bukti masih tidak sedikit yang belum siap dalam memperbanyak dan menata unit bisnis secara baik.

BAHASA SEBAGAI PUSAT KEBERADAAN MANUSIA

BAHASA SEBAGAI PUSAT KEBERADAAN MANUSIA

Berdasarkan kodrat kultural atau humanistisnya, bahasa merupakan pusat keberadaan atau kehadiran manusia. Konfucius percaya bahwa bahasa menjadi titik awal keberadaan dan kehidupan manusia (simak Laksana, 1995:203-206). Letak keberadaan dan kehidupan manusia ada di dalam bahasanya. Pada dasarnya, hal ini menjadi pangkal atau titik tolak pandangan-pandangan antropolinguistik atau sosiolinguistik, filsafat bahasa, fenomenologi, dan pascamodernisme.
BAHASA SEBAGAI PUSAT KEBERADAAN MANUSIA
BAHASA SEBAGAI PUSAT KEBERADAAN MANUSIA
Antropolinguistik terutama yang dirintis, ditokohi, dan dikembangkan oleh Sapier dan Whorf percaya bahwa bahasa menggambarkan pandangan dunia atau pandangan hidup pemiliknya sebab bahasa dan pikiran manusia saling mele-kat [inklusif] (Dawud dan Sudha, 1993:13). Sosiolingustik, sebagaimana dikemukakan oleh Chaika (1982), berpandangan bahwa bahasa merupakan cermin masyarakat. Filsafat bahasa berpandangan bahwa seluk beluk kehidupan manusia dapat diketahui melalui ba-hasa karena bahasa merepresentasikan hakikat pengetahuan konseptual tentang manusia (Poedjosoedarmo, 1989:1). Sebagaimana tampak pada pandangan Heidegger, Gadamer, dan Ricoeur, secara tegas fenomenologi mempercayai bahwa bahasa menjadi pusat pe-mahaman manusia karena ada manusia di dalam bahasa (Poespoprodjo, 1987; Ricoeur, 1991). Secara lebih tegas dan radikal lagi, sebagaimana tampak pada pandangan Derrida, Foucoult, Lyotard, dan Baudrillard, pascamodenisme bahkan mengembalikan semua per-soalan keberadaan dan kehidupan manusia kepada bahasa sebab bahasa merupakan pusat kegiatan ada dan hidup manusia (simak Sugiharto, 1996:79-100).


Sehubungan dengan itu, secara tegas Jean Baudrillard (1981:237) menyatakan bahwa keberadaan dan kehidupan manusia dalam monopoli bahasa. Ditegaskannya bahwa The real monopoly is never that of technical means, but of speech. Dalam perspektif teori hegemoni Gramsci (dalam Hendarto, 1993), bisa dikatakan bahwa keberadaan dan profil kehidupan manusia dalam hegemoni bahasa. Dalam konteks inilah profil manusia diben-tuk oleh bahasa; profil manusia merupakan konstruksi bahasa atau –  menurut istilah so-siologi pengetahuannya Berger dan Luckman (1990) — merupakan konstruksi sosial me-lalui bahasa. Pengetahuan dan pemahaman tentang profil manusia berada dalam kendali bahasa.

Misalnya, pengetahuan dan pemahaman tentang profil manusia Indonesia dalam batas-batas tertentu berada dalam kendali bahasa Indonesia sebab profil manusia Indo-nesia merupakan konstruksi bahasa Indonesia atau konstruksi sosial melalui bahasa Indo-nesia. Demikian juga profil manusia Jawa merupakan konstruksi bahasa Jawa atau kon-struksi sosial melalui bahasa Jawa sehingga profil manusia Jawa terkendali oleh bahasa Jawa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa bahasa dapat menjadi atau dijadikan “pintu masuk dan keluar” untuk mengetahui dan memahami keberadaan dan kehidupan manusia khususnya profil manusia atau sekelompok manusia.

Segenap unsur bahasa dan tataran bahasa dapat dijadikan “pintu masuk dan keluar” untuk mengetahui dan memahami seluk-beluk keberadaan dan kehidupan manusia. Unsur leksikon, idiom, kalimat, dan wacana bahasa dapat mengungkapkan dan menggambarkan kehidupan manusia atau sekelompok manusia. Demikian juga tataran morfosintaksis, semantik, dan pragmatik; misalnya, struktur morfosintaksis atau struktur gramatikal, struktur semantik atau struktur leksikal, dan struktur pragmatik suatu bahasa dapat mengung-kapkan dan menggambarkan profil kehidupan manusia tertentu (simak Chaika, 1982; Dawud dan Sudha, 1993; Kartomihardjo, 1987; Langenberg, 1996; Nababan, 1984). Hal ini sudah dicoba diterapkan oleh berbagai pengkaji. Misalnya, Peter Farb (1990) mencoba mengetahui pandangan orang (berbahasa) Hopi dan Inggris tentang air dan meraih melalui leksikon-leksikon bahasa Hopi dan Inggris.

 

Tom Bruneau (1990) mencoba menelaah konsep waktu pada berbagai bangsa melalui leksikon-leksikon. Geertz (1969, 1983) menelaah tatakrama sosial orang Jawa melalui leksikon, struktur kalimat, dan tingkat tutur bahasa Jawa. James J. Fox (1986) menelaah pandangan dunia dan kehidupan religius orang Roti melalui leksikon-leksikon, gaya bahasa, dan ragam bahasa Roti. Selanjutnya, Asmah Haji Omar (1986) mencoba menelaah alam pemikiran Melayu — yang meliputi persepsi waktu, persepsi bilangan, persepsi perbuatan, persepsi jantan/laki-laki dan beti-na/perempuan, dan sebagainya — melalui unsur leksikon, idiom, struktur morfosintaksis, dan semantik leksikal bahasa Melayu dialek Kedah. Kajian-kajian tersebut menegaskan bahwa bahasa terutama aspek-aspek kebahasaannya dapat menjadi kunci utama untuk mengetahui dan memahami keberadaan dan kehidupan manusia. Referensi : kuliahbahasainggris.com