Mungkinkah Mengintegrasikan Pendidikan Sains dan Agama?

Mungkinkah Mengintegrasikan Pendidikan Sains dan Agama? – Siapa bilang mengintegrasikan edukasi sains dan agama ialah hal mustahil? Metode edukasi Madina Islamic School bisa menjadi di antara modelnya. Soal integrasi sains dan edukasi agama ini dikatakan Riyanto Sofyan, Founder Madina Islamic School ketika menerima trafik petinggi Cambridge International ke Indonesia, Jumat (26/10/2018).

Berdasarkan keterangan dari Riyanto, disiplin ilmu sains laksana matematika, algoritma dan aljabar pun ada dalam Al Quran. “Makna yang tersirat dalam Al Quran berisi makna-makna dalam ilmu sains, ilmuwan muslim pendahulu sudah mengajarkan kita tidak sedikit hal ini laksana Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, dan lainnya,” jelas Riyanto.

Ia menambahkan sejarah pertumbuhan ilmu Aljabar tidak dapat dicungkil dari kemajuan Islam. Riyanto menjelaskan, Al Khawarizmi dikenal sebagai penemu Aljabar sebelum diadopsi Yunani menjadi ilmu aritmatika.

“Jadi sebetulnya tidak susah mengintegrasikan sains dan agama dalam kurikulum pendidikan bila kita tahu akar sejarahnya,” tegasnya.

Dalam  https://www.bukuinggris.co.id urusan akademik, Madina Islamic School menjadi sekolah yang mengadopsi tiga kurikulum sekaligus yakni kurikulum Cambridge International, kurikulum Al-Azhar Cairo, dan kurikulum Nasional.

Meskipun terkesan berat dan sulit untuk siswa, tetapi ketiga kurikulum ini berhasil diterapkan di sekolah yang telah berdiri selama nyaris 15 tahun itu.

Riyanto mengucapkan pada tadinya orang tua murid merasa keberatan dengan diberlakukannya 3 kurikulum sekaligus. Alasannya, menurut keterangan dari orang tua murid dapat mengganggu ekuilibrium waktu belajar dan bermain anak.

“Lambat laun, orang tua murid mulai percaya dengan kurikulum yang diterapkan oleh sekolah, lulusan Madina Islamic School juga tidak sedikit yang kesudahannya diterima di sekolah terbaik domestik dan luar negeri,” tambahnya.

Ian Harris, Head of Marketing Communications Cambridge International Examination, mengucapkan kekagumannya. Sebab, tidak tidak banyak sekolah kewalahan mengintegrasikan sains, dalam urusan ini kurikulum Cambridge International, ke dalam kurikulum baku sekolah.

Di samping Ian Harris, muncul dua petinggi Cambridge International lainnya, yakni Dianindah Apriyani, Senior Country Manager Indonesia dan Eve Sewell, Marketing Communication Manager, Southeast Asia and Pacific.

Madina Islamic School (MIS) sendiri adalahsekolah Islam inklusif dan terpadu mulai dari tingkat pre-school, kindergarten (TK), primary school (SD), dan secondary school (SMP). MIS merealisasikan tiga kurikulum edukasi yaitu kurikulum nasional, kurikulum internasional dari Cambridge School, dan kurikulum Al-Azhar Cairo.

MIS pun menerapkan kepandaian wajib hafalan Al-Quran untuk siswa SD dan SMP.

baca juga: Menuju Indonesia Emas 2045, Kemendikbud Latih Guru di Daerah Terpencil

Menuju Indonesia Emas 2045, Kemendikbud Latih Guru di Daerah Terpencil

Menuju Indonesia Emas 2045, Kemendikbud Latih Guru di Daerah Terpencil – Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyatakan, guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani & rohani, dan mampu mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Hal ini berlaku juga buat guru daerah spesifik (Gurdasus). Di samping harus memenuhi kualifikasi S1/DIV, guru di daerah ini pula harus memiliki sertifikat pendidik yang diperoleh melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG).

Dikarenakan syarat lingkungan, Gurdasus mempunyai tantangan dan kendala dalam menaikkan kompetensi dan keprofesionalannya dalam mengikuti program PPG.

Berangkat menurut hal itu, Direktorat Jenderal Guru & Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), melalui Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar dan Menengah dan Pendidikan Khusus menyelenggarakan pelatihan peningkatan kompetensi Gurdasus sebagai pengajar profesional.

Mereka mengadakan pembinaan itu bekerjasama menggunakan Universitas Muhammadiyah Malang & Pusat Pengembangan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) PKN dan IPS.

“Pelatihan diselenggarakan melalui  https://www.sekolahan.co.id kegiatan prakondisi, yaitu Pelatihan Pengajar Daerah Khusus (PGDK) melalui pembelajaran tatap muka buat menyiapkan Gurdasus berhasil dalam menyelesaikan acara PPG,” tulis fakta resmi Ditjen GTK yg diterima, Senin (1/10/2018).

Lebih lanjut, rilis itu menunjukkan bahwa kegiatan prakondisi dilakukan karena Gurdasus menghadapi tantangan dan kendala pada mengikuti acara PPG dalam jabatan.

Biasanya program PPG pada jabatan dilaksanakan pada bentuk blended learning atau hybrid learning (memadukan pola belajar daring & tatap muka).

Sebagai warta, acara PGDK adalah bagian dari pendidikan layanan spesifik.

Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional Pasal 32 ayat dua, pendidikan layanan khusus adalah pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau udik, rakyat norma terpencil, mengalami bencana alam, bencana sosial dan tidak mampu dari segi ekonomi.

Program PGDK sendiri diperuntukkan bagi guru yg berkualifikasi S1/DIV dan sudah mengabdi dalam sekolah di daerah khusus. Asal memahami saja, pengajar pada wilayah khusus yg mengikuti program ini sudah melalui proses seleksi akademik & pembuktian kelayakan sebagai peserta PPG dalam jabatan.

Untuk memenuhi kebutuhan pelayanan pendidikan berkualitas di wilayah khusus, yaitu daerah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T), Direktorat Pembinaan Pengajar Dikdas pun melaksanakan program PGDK kepada tiga.120 orang guru.

Pelaksanaan acara PGDK ini terintegrasi menggunakan program Pendidikan Profesi Pengajar Dalam Jabatan yg akan dilaksanakan oleh perguruan tinggi.

Hingga ketika ini, tercatat 86 guru berdasarkan daerah khusus berdasarkan provinsi NTT, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara mengikuti acara PGDK. Kegiatan ini berlangsung mulai berdasarkan tanggal 1 – 8 September 2018 bertempat di PPPPTK PKN & IPS Batu di Jawa Timur. Berdasarkan latar belakang Gurdasus & capaian pembelajaran yang ditetapkan, materi program PGDK difokuskan pada dominasi konten & penguasaan pedagogi.

Adapun materi acara PGDK menggunakan pola 80 jam pengajaran terbagi sebagai 7 bagian. Di antaranya merupakan Kebijakan Umum Program (1), Lalu, dominasi Pedagogi (dua) yang terdiri menurut Kebijakan Pemerintah mengenai Pendidikan, Kurikulum 2013, Pembelajaran Abad 21 dan aplikasinya pada Pembelajaran, Pengembangan Profesi Pengajar & aplikasinya, Teori Belajar & Pembelajaran dan aplikasinya, Karakteristik Peserta Didik & aplikasinya, Strategi Pembelajaran & aplikasinya dan Penilaian dan Tindak Lanjut.

Kemudian Penguasaan Konten Mapel/Bidang Keahlian/Profesional (tiga), Pengenalan Budaya & Kearifan Lokal (4), Pemanfaatan ICT dalam Penyelesaian Perseteruan Pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas (5), Tes Formatif & pembahasan (6) dan Tes Sumatif (7).

Dengan adanya Program PGDK ini, Gurdasus pun diperlukan memiliki kesiapan dan kemampuan buat mengikuti program PPG. Setelah selesai mengikuti PGDK, para Gurdasus melanjutkan PPG sesi pendalaman materi mulai tanggal 9-24 September 2018 di Universitas Muhammadiyah Malang.

Sebagai liputan, Gurdasus adalah galat satu acara pemerintah buat mengatasi pertarungan pendidikan di wilayah 3T.

Hal ini, masuk pada salah satu acara prioritas Nawacita ke-3 Presiden Joko Widodo & Wakil Presiden Jusuf Kalla, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran.

Caranya dengan memperkuat daerah & desa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Termasuk di dalamnya menciptakan pendidikan pada wilayah 3T, sebagai akibatnya Gurdasus bisa mendidik anak bangsa yang hebat menuju Indonesia Emas di tahun 2045.

baca juga: Inilah 4 Keuntungan Menjadi Anak Ayah, Apasaja?

Pandangan Tentang Pembelajaran Menurut Kurikulum 2013

Pandangan Tentang Pembelajaran Menurut Kurikulum 2013

Pandangan Tentang Pembelajaran Menurut Kurikulum 2013
Pandangan Tentang Pembelajaran Menurut Kurikulum 2013
Dalam pandangan Kurikulum 2013, kegiatan pembelajaran adalah suatu proses pendidikan yang memberikan kesempatan bagi siswa agar dapat mengembangkan segala potensi yang mereka miliki menjadi kemampuan yang semakin lama semakin meningkat dilihat dari aspek sikap (afektif), pengetahuan (kognitif), dan keterampilan (psikomotor). Kemampuan ini akan diperlukan oleh siswa tersebut untuk kehidupannya dan untuk bermasyarakat, berbangsa, serta berkontribusi pada kesejahteraan kehidupan umat manusia. Karena itu suatu kegiatan pembelajaran seharusnya mempunyai arah yang menuju pemberdayaan semua potensi siswa agar dapat menjadi kompetensi yang diharapkan.

Berikutnya, strategi pembelajaran yang digunakan oleh seorang guru di dalam kelasnya seharusnya ditujukan agar dapat memfasilitasi tercapainya kompetensi yang telah dirancang dalam dokumen kurikulum sehingga pada gilirannya setiap siswa mampu menjadi pebelajar yang mandiri sepanjang hayatnya. Mereka akan  menjadi komponen penting untuk mewujudkan sebuah masyarakat belajar (komunitas belajar/learning community). Kualitas lain yang dikembangkan kurikulum dan harus terealisasikan dalam proses pembelajaran yang wujudnya dapat berupa kreativitas, kemandirian, kerja sama, solidaritas, kepemimpinan, empati, toleransi dan kecakapan hidup peserta didik guna membentuk watak serta meningkatkan peradaban dan martabat bangsa.

Prinsip Kegiatan Pembelajaran dalam Kurikulum 2013

Untuk mencapai kualitas yang telah dirancang dalam dokumen kurikulum 2013, kegiatan pembelajaran harusnya menggunakan prinsip yang:
  • berpusat pada peserta didik,
  • mengembangkan kreativitas peserta didik,
  • menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang,
  • bermuatan nilai, etika, estetika, logika, dan kinestetika, dan
  • menyediakan pengalaman belajar yang beragam melalui penerapan berbagai strategi dan metode pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, efektif, efisien, dan bermakna.
Pada suatu kegiatan belajar-mengajar, siswa diajak untuk menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi-informasi yang kompleks, mengecek informasi baru dengan yang sudah ada dalam ingatannya, dan melakukan pengembangan menjadi informasi atau kemampuan yang sesuai dengan lingkungan dan jaman tempat dan waktu ia hidup. Kurikulum 2013 menganut pandangan dasar bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke siswa (konstruktivisme).

Buat siswa aktif secara fisik dan mental dalam kegitan pembelajaran
Siswa adalah subjek yang mempunyai kemampuan aktif mencari, mengolah, mengkonstruksi, dan menggunakan pengetahuan. Untuk itu kegiatan belajar tentunya merupakan kesempatan yang diberikan kepada siswa agar dapat mengkonstruksi pengetahuan dalam proses kognitifnya. Siswa penting untuk selalu dipicu untuk belajar memecahkan masalah (problem solving), menemukan sesuatu (discovery learning), dan belajar mewujudkan ide-ide yang dimilikinya sehingga mereka akan betul-betul memahami dan dapat menerapkan pengetahuan.Pada suatu kegiatan pembelajaran, guru memfasilitasi proses di atas. Hal yang dapat dilakukan guru yaitu dengan membentuk lingkungan belajar yang dapat memberi kesempatan kepada siswa agar bisa menemukan, menerapkan ide-ide mereka, menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar (self regulated learning). Guru mengembangkan kesempatan belajar kepada siswa untuk meniti anak tangga yang membawa peserta didik kepemahaman yang lebih tinggi tanpa melaupakan prinsip scaffolding seperti yang disarankan oleh para ahli psikologi pendidikan. Mula-mula siswa belajar dengan bantuan guru tetapi semakin lama mereka harus semakin mandiri. Bagi siswa, pembelajaran harus bergeser dari “diberi tahu” menjadi “aktif mencari tahu” atau dalam kata lain belajar aktif (active learning).

Kurikulum 2013 dan Teori Piaget

Pada kegiatan pembelajaran, siswa membangun pengetahuannya sendiri. Bagi mereka, pengetahuan yang dimilikinya bersifat dinamis, berkembang dari sederhana menuju kompleks, dari ruang lingkup dirinya dan di sekitarnya menuju ruang lingkup yang lebih luas, dan dari yang bersifat konkrit menuju abstrak. Sebagai manusia yang sedang berkembang, siswa telah, sedang, dan atau akan mengalami 4 tahap perkembangan intelektual, yakni sensori motor, pra-operasional, operasional konkrit, dan operasional formal (Teori Piaget).

Secara umum tahap pertama (sensori motor) terjadi sebelum seseorang memasuki usia sekolah, tahap ke-2 (pra-operasional) dan tahap ke-3 (operasional konkrit) dimulai ketika seseorang menjadi siswa di jenjang pendidikan dasar, sedangkan tahap ke-4 dimulai sejak tahun kelima dan keenam SD.


Proses pembelajaran terjadi secara internal di dalam diri siswa. Proses itu bisa saja berlangsung sebagai akibat rangsangan dari luar yang diberikan guru, teman, dan atau lingkungan. Proses itu mungkin pula terjadi sebagai akibat rangsangan dari dalam diri siswa itu sendiri yang utamanya dikarenakan adanya keingintahuan mereka. Proses pembelajaran dapat pula terjadi sebagai gabungan dari rangsanga dari luar dan rangsangan dari dalam diri siswa. Pada suatu proses pembelajaran, guru harus mengembangkan kedua stimulus pada diri setiap siswanya.

Pembelajaran Mengembangkan Potensi Siswa dan Membentuk Seorang Pebelajar Sepanjang Hayat

Pada suatu pembelajaran, siswa dibantu agar dapat melibatkan diri secara aktif untuk mengembangkan potensinya sehingga menjadi suatu kompetensi. Guru menyediakan pengalaman belajar untuk siswa sehingga mereka dapat melakukan beragam aktivitas yang dapat membantu mereka untuk mengembangkan potensi menjadi kompetensi yang ditetapkan dalam dokumen kurikulum 2013 atau bahkan melebihinya. Pengalaman belajar semakin lama semakin meningkat hingga akhirnya akan menjadi suatu kebiasaan belajar mandiri dan tetap sebagai salah satu fondasi untuk menjadi pebelajar sepanjang hayat (lifelong learner).

Pada suatu kegiatan pembelajaran dapat terjadi pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa dalam kombinasi dan penekanan yang bervariasi. Setiap kegiatan pembelajaran memiliki kombinasi dan penekanan yang berbeda dari kegiatan pembelajaran lainnya. Hal ini tentu saja bergantung pada sifat konten yang sedang dipelajari siswa. Walaupun begitu, aspek pengetahuan (kognitif) akan selalu menjadi faktor penggerak untuk pengembangan kemampuan lain (afektif dan psikomotor).


Materi PENALARAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF

Materi PENALARAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF

PENALARAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF
PENALARAN INDUKTIF DAN DEDUKTIF

Suatu penelitian pada hakekatnya dimulai dari hasrat keingintahuan manusia, merupakan anugerah Allah SWT, yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan maupun permasalahan-permasalahan yang memerlukan jawaban atau pemecahannya, sehingga akan diperoleh pengetahuan baru yang dianggap benar.

 

Pengetahuan baru yang benar tersebut merupakan pengetahuan yang dapat diterima oleh akal sehat dan berdasarkan fakta empirik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pencarian pengetahuan yang benar harus berlangsung menurut prosedur atau kaedah hukum, yaitu berdasarkan logika. Sedangkan aplikasi dari logika dapat disebut dengan penalaran dan pengetahuan yang benar dapat disebut dengan pengetahuan ilmiah.


Untuk memperoleh pengetahuan ilmiah dapat digunakan dua jenis penalaran, yaitu Penalaran Deduktif dan Penalaran Induktif. Penalaran deduktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus.

 

Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.

Penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi.


Kedua penalaran tersebut di atas (penalaran deduktif dan induktif), seolah-olah merupakan cara berpikir yang berbeda dan terpisah. Tetapi dalam prakteknya, antara berangkat dari teori atau berangkat dari fakta empirik merupakan lingkaran yang tidak terpisahkan. Kalau kita berbicara teori sebenarnya kita sedang mengandaikan fakta dan kalau berbicara fakta maka kita sedang mengandaikan teori (Heru Nugroho; 2001: 69-70). Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan dilaksanakan dalam suatu ujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada hukum-hukum logika.

Upaya menemukan kebenaran dengan cara memadukan penalaran deduktif dengan penalaran induktif tersebut melahirkan penalaran yang disebut dengan reflective thinking atau berpikir refleksi. Proses berpikir refleksi ini diperkenalkan oleh John Dewey (Burhan Bungis: 2005; 19-20), yaitu dengan langkah-langkah atau tahap-tahap sebagai berikut :

  • The Felt Need, yaitu adanya suatu kebutuhan. Seorang merasakan adanya suatu kebutuhan yang menggoda perasaannya sehingga dia berusaha mengungkapkan kebutuhan tersebut.

  • The Problem, yaitu menetapkan masalah. Kebutuhan yang dirasakan pada tahap the felt need di atas, selanjutnya diteruskan dengan merumuskan, menempatkan dan membatasi permasalahan atau kebutuhan tersebut, yaitu apa sebenarnya yang sedang dialaminya, bagaimana bentuknya serta bagaimana pemecahannya.
  • The Hypothesis, yaitu menyusun hipotesis. Pengalaman-pengalaman seseorang berguna untuk mencoba melakukan pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Paling tidak percobaan untuk memecahkan masalah mulai dilakukan sesuai dengan pengalaman yang relevan. Namun pada tahap ini kemampuan seseorang hanya sampai pada jawaban sementara terhadap pemecahan masalah tersebut, karena itu ia hanya mampu berteori dan berhipotesis.
  • Collection of Data as Avidance, yaitu merekam data untuk pembuktian. Tak cukup memecahkan masalah hanya dengan pengalaman atau dengan cara berteori menggunakan teori-teori, hukum-hukum yang ada. Permasalahan manusia dari waktu ke waktu telah berkembang dari sederhana menjadi sangat kompleks; kompleks gejala maupun penyebabnya. Karena itu pendekatan hipotesis dianggap tidak memadai, rasionalitas jawaban pada hipotesis mulai dipertanyakan. Masyarakat kemudian tidak puas dengan pengalaman-pengalaman orang lain, juga tidak puas dengan hukum-hukum dan teori-teori yang juga dibuat orang sebelumnya. Salah satu alternatif adalah membuktikan sendiri hipotesis yang dibuatnya itu. Ini berarti orang harus merekam data di lapangan dan mengujinya sendiri. Kemudian data-data itu dihubung-hubungkan satu dengan lainnya untuk menemukan kaitan satu sama lain, kegiatan ini disebut dengan analisis. Kegiatan analisis tersebut dilengkapi dengan kesimpulan yang mendukung atau menolak hipotesis, yaitu hipotesis yang dirumuskan tadi.

  • Concluding Belief, yaitu membuat kesimpulan yang diyakini kebenarannya. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan pada tahap sebelumnya, maka dibuatlah sebuah kesimpulan, dimana kesimpulan itu diyakini mengandung kebenaran.
  • General Value of The Conclusion, yaitu memformulasikan kesimpulan secara umum. Konstruksi dan isi kesimpulan pengujian hipotesis di atas, tidak saja berwujud teori, konsep dan metode yang hanya berlaku pada kasus tertentu – maksudnya kasus yang telah diuji hipotesisnya – tetapi juga kesimpulan dapat berlaku umum terhadap kasus yang lain di tempat lain dengan kemiripan-kemiripan tertentu dengan kasus yang telah dibuktikan tersebut untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang.

Proses maupun hasil berpikir refleksi di atas, kemudian menjadi popular pada berbagai proses ilmiah atau proses ilmu pengetahuan. Kemudian, tahapan-tahapan dalam berpikir refleksi ini dipatuhi secara ketat dan menjadi persyaratan dalam menentukan bobot ilmiah dari proses tersebut. Apabila salah satu dari langkah-langkah itu dilupakan atau dengan sengaja diabaikan, maka sebesar itu pula nilai ilmiah telah dilupakan dalam proses berpikir ini.


Sumber : Ngelag.Com

PENGERTIAN DAN JENIS-JENIS ALAT PENDIDIKAN

PENGERTIAN DAN JENIS-JENIS ALAT PENDIDIKAN

PENGERTIAN DAN JENIS-JENIS ALAT PENDIDIKAN
PENGERTIAN DAN JENIS-JENIS ALAT PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam proses pelaksanaan pendidikan dibutuhkan langkah-langkah yang diambil demi kelancaran proses pelaksanaan pendidikan tersebut. Langkah-langkah tersebut kita kenal dengan Alat-alat pendidikan.
berdasarkan pernyataan itu, maka di dalam makalah ini akan dibahas lebih detail tentang pengertian dan jenis-jenis alat pendidikan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian jenis-jenis alat pendidikan?
2. Apa saja jenis-jenis alat pendidikan?

 


 

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Jenis-Jenis Alat Pendidikan
Dalam praktek pendidikan, istilah alat pendidikan sering diindentikkan dengan media pendidikan, walaupun sebenarnya pengertian alat lebih luas dari pada media. Namun yang dimaksud disini adalah alat pendidikan bukan media pendidikan.


Alat pendidikan adalah langkah-langkah yang diambil demi kelancaran proses pelaksanaan pendidikan . jadi alat pendidikan itu berupa usaha dan perbuatan yang secara konkrit dan tegas dilaksanakan, guna menjaga agar proses pendidikan bisa berjalan dengan lancar dan berhasil . Namun secara umum, alat pendidikan adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan .


Sementara itu, Ahmad D. Marimba memandang alat pendidikan dari aspek fungsinya, yakni ; alat sebagai perlengkapan, alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan, alat sebagai tujuan untuk mencapai tujuan selanjutnya. menurut pendapat ini, alat pendidikan bisa berupa usaha/perbuatan atau berupa benda/perlengkapan yang bisa memperlancar/mempermudah pencapaian tujuan pendidikan.



B. Jenis-jenis alat pendidikan


Mengenai alat-alat pendidikan, kita dapat memedakan alat-alat pendidikan ke dalam dua golongan yaitu:


a. Alat pendidikan preventif
Alat pendidikan preventif ialah alat pendidikan yang bersifat pencegahan. Tujuan alat pendidikan preventif itu diadakan jika maksudnya mencegah anak sebelum ia berbuat sesuatu yang tidak baik . Dan untuk menjaga agar hal-hal yang dapat menghambat atau mengganggu kelancaran dari proses pendidikan bisa dihindarkan. Misalnya, tata tertib, anjuran dan perintah, larangan dan paksaan.


b. Alat pendidikan represif
Alat pendidikan represif disebut juga alat pendidikan kuratif atau alat pendidikan korektif. Alat pendidikan represif bertujuan untuk menyadarkan anak kembali kepada hal-hal yang benar, yang baik dan tertib. Alat pendidikan represif diadakan bila terjadi sesuatu perbuatan yang dianggap bertentangan dengan peraturan-peraturan, atau sesuatu perbuatan yang dianggap melanggar peraturan. Misalnya, pemberitahuan, teguran, hukuman dan ganjaran .


Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa alat pendidikan dibagi ke dalam tiga bagian :
1. Alat-alat yang memberikan perlengkapan berupa kecakapan berbuat dan pengetahuan hafalan.
Alat-alat ini dapa disebut alat-alat untuk pembiasaan.
2. Alat-alat untuk memberi pengertian; membentuk sikap, minat dan cara-cara berfikir.
3. Alat-alat yang membawa ke arah keheningan batin, kepercayaan dan pengarahan diri sepenuhnya kepada-nya.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Alat pendidikan adalah langkah-langkah yang diambil demi kelancaran proses pelaksanaan pendidikan. jadi alat pendidikan itu berupa usaha dan perbuatan yang secara konkrit dan tegas dilaksanakan, guna menjaga agar proses pendidikan bisa berjalan dengan lancar dan berhasil. Namun secara umum, alat pendidikan adalah segala sesuatu yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan.
Alat-alat pendidikan dapat dibedakan menjadi dua golongan.
1. Alat pendidikan preventif
2. Alat pendidikan represif

B. Saran
Setelah Penulis dapat menyelesaikan makalah ini, kami harapkan saran dan kritik dari bapak pembimbing dan rekan-rekan sekalian demi kesempurnaan makalah ini. Dan semoga makalah ini bermanfaat bagi yang membaca. Amien.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

– Amir Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan, Surabaya : Usaha Nasional
– Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung : Al-Ma’arif, 1987
– Kosim. Moh, Buku Ajar Pengantar Pendidikan, STAIN Pamekasan Press, 2006

6 Tips Penting Dalam Membangun Bisnis Berbasis Teknologi

6 Tips Penting Dalam Membangun Bisnis Berbasis Teknologi

Tidak tidak cukup dari 1.276 mahasiswa baru Universitas Prasetiya Mulya (Prasmul) mengikuti Kuliah Perdana (Inaugural Lecture) 2018 di Kampus Prasmul BSD, Tangerang Selatan.

Usai acara kuliah perdana, Rektor Universitas Prasmul Prof Djisman Simandjuntak dan penceramah kunci dalam Kuliah Perdana Ariya Hidayat Developer Senior asal Indonesia yang sekarang berkarir di Silicon Valley menyalurkan 6 tips bagaimana membina bisnis berbasis teknologi menghadapi era industri 6.0:

1. Jadi ‘trendsetter’

Ariya mengingatkan menjadi inovatif bukan berarti sekadar mengekor perkembangan teknologi saja. “Banyak anak muda tidak cukup berani dan melulu ikut arus yang telah ada. Soal era industri 4.0 tidak saja soal big data, AI atau robotic saja,” jelas Ariya.

Justru kendala utama ialah berani membuat solusi-solusi dan berani mengeksekusi ide-ide. “Saat anda berhadapan dengan masalah kemacetan, mengapa solusi software Waze malah lahir dari negara beda dan kita melulu tinggal mengikuti, mengapa kita tidak berani mengupayakan untuk menjadi trendsetter?”

2. Efisiensi

Salah satu urusan yang tidak cukup dipersiapkan dunia edukasi kita ialah melatih soft skill guna menghadapi kehidupan nyata. Kemampuan guna bekerjasama, berkolaborasi, mempresentasikan dan mengomunikasikan ide nyaris tidak diajarkan secara formal untuk orang muda.

“Kita terbiasa mengajarkan bagaimana menyatakan dalam beratus-ratus slide daripada bagaimana menjelaskan gagasan atau usulan dalam 15 atau bahkan 5 menit,” kata Ariya.

3. Berkelanjutan

Anak muda ketika ini ingin mudah menyerah. Saat idenya ditampik atau diejek, mereka tergoda guna mengubah dengan hal beda atau urusan baru lainnya. “Anak muda gampang untuk patah semangat sampai-sampai apa yang dilaksanakan seringkali tidak tuntas,” kata Ariya.

“Membangun bisnis berbasis teknologi bukanlah sebuah kompetisi lari sprint tetapi malah lari maraton yang memerlukan stamina, kesabaran, ketekunan dan kegigihan jangka panjang,” tambahnya.

4. Kolaborasi gagasan

Rektor Prasmul Prof Djisman menyampaikan menginjak era industri 4.0 antara bisnis dan teknologi mesti mengerjakan kolaborasi. “Membawa sains dan teknologi atau STEM ke dalam bisnis dapat dilaksanakan dengan  https://www.pelajaran.id mengerjakan kolaborasi ide-ide. Saat ini bisnis tidak bisa berjalan tanpa teknologi dan kebalikannya teknologi tidak bisa berkelanjutan tanpa bisnis yang baik,” tegas Djisman.

Inilah yang sekarang dilakukan tidak sedikit pihak, tergolong Universitas Prasmul, dengan membuka co-working space di mana dunia edukasi yang mempunyai keilmuan dapat bekerjasama dengan dunia korporasi, tambahnya.

5. Memperluas spektrum

Djisman kemudian pun mengingatkan menginjak era industri 4.0 bukan berarti anda harus latah pada pengembangan bisnis berbasis teknologi tinggi saja. “Perlu diingat, di Indonesia bisnis yang berkembang mempunyai spektrum luas, mulai dari bisnis teknologi 4.0 hingga industri 1.0,” katanya.

Ada tidak sedikit industri rempah, kebiasaan tari, hasil bumi laksana kopi yang pun perlu pun dikembangkan secara keilmuan dan pun bisnis. “Jangan tak sempat dengan akar kebiasaan kita. Kita tetap memburu bisnis berbasis teknologi tinggi untuk masa mendatang tetapi pun tidak lupa guna mengilmukan bisnis-bisnis tradisional,” ujar Djisman.

6. Kemampuan organisasi

Kembali Ariya mengingatkan, di antara kegagapan orang muda kita ialah kurangnya keterampilan mengelola organisasi bisnis yang dirintis. “Saat menemukan modal besar, tidak sedikit dari kita lantas gagap bagaimana mengerjakan organization scaling dan organization excellent,” jelas Ariya.

Mereka tidak tahu bagaimana menata engineer ketika jumlahnya menjangkau ratusan. Atau paling lambatnya penanganan saat mengalami masalah teknis ialah bukti masih tidak sedikit yang belum siap dalam memperbanyak dan menata unit bisnis secara baik.

BAHASA SEBAGAI PUSAT KEBERADAAN MANUSIA

BAHASA SEBAGAI PUSAT KEBERADAAN MANUSIA

Berdasarkan kodrat kultural atau humanistisnya, bahasa merupakan pusat keberadaan atau kehadiran manusia. Konfucius percaya bahwa bahasa menjadi titik awal keberadaan dan kehidupan manusia (simak Laksana, 1995:203-206). Letak keberadaan dan kehidupan manusia ada di dalam bahasanya. Pada dasarnya, hal ini menjadi pangkal atau titik tolak pandangan-pandangan antropolinguistik atau sosiolinguistik, filsafat bahasa, fenomenologi, dan pascamodernisme.
BAHASA SEBAGAI PUSAT KEBERADAAN MANUSIA
BAHASA SEBAGAI PUSAT KEBERADAAN MANUSIA
Antropolinguistik terutama yang dirintis, ditokohi, dan dikembangkan oleh Sapier dan Whorf percaya bahwa bahasa menggambarkan pandangan dunia atau pandangan hidup pemiliknya sebab bahasa dan pikiran manusia saling mele-kat [inklusif] (Dawud dan Sudha, 1993:13). Sosiolingustik, sebagaimana dikemukakan oleh Chaika (1982), berpandangan bahwa bahasa merupakan cermin masyarakat. Filsafat bahasa berpandangan bahwa seluk beluk kehidupan manusia dapat diketahui melalui ba-hasa karena bahasa merepresentasikan hakikat pengetahuan konseptual tentang manusia (Poedjosoedarmo, 1989:1). Sebagaimana tampak pada pandangan Heidegger, Gadamer, dan Ricoeur, secara tegas fenomenologi mempercayai bahwa bahasa menjadi pusat pe-mahaman manusia karena ada manusia di dalam bahasa (Poespoprodjo, 1987; Ricoeur, 1991). Secara lebih tegas dan radikal lagi, sebagaimana tampak pada pandangan Derrida, Foucoult, Lyotard, dan Baudrillard, pascamodenisme bahkan mengembalikan semua per-soalan keberadaan dan kehidupan manusia kepada bahasa sebab bahasa merupakan pusat kegiatan ada dan hidup manusia (simak Sugiharto, 1996:79-100).


Sehubungan dengan itu, secara tegas Jean Baudrillard (1981:237) menyatakan bahwa keberadaan dan kehidupan manusia dalam monopoli bahasa. Ditegaskannya bahwa The real monopoly is never that of technical means, but of speech. Dalam perspektif teori hegemoni Gramsci (dalam Hendarto, 1993), bisa dikatakan bahwa keberadaan dan profil kehidupan manusia dalam hegemoni bahasa. Dalam konteks inilah profil manusia diben-tuk oleh bahasa; profil manusia merupakan konstruksi bahasa atau –  menurut istilah so-siologi pengetahuannya Berger dan Luckman (1990) — merupakan konstruksi sosial me-lalui bahasa. Pengetahuan dan pemahaman tentang profil manusia berada dalam kendali bahasa.

Misalnya, pengetahuan dan pemahaman tentang profil manusia Indonesia dalam batas-batas tertentu berada dalam kendali bahasa Indonesia sebab profil manusia Indo-nesia merupakan konstruksi bahasa Indonesia atau konstruksi sosial melalui bahasa Indo-nesia. Demikian juga profil manusia Jawa merupakan konstruksi bahasa Jawa atau kon-struksi sosial melalui bahasa Jawa sehingga profil manusia Jawa terkendali oleh bahasa Jawa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa bahasa dapat menjadi atau dijadikan “pintu masuk dan keluar” untuk mengetahui dan memahami keberadaan dan kehidupan manusia khususnya profil manusia atau sekelompok manusia.

Segenap unsur bahasa dan tataran bahasa dapat dijadikan “pintu masuk dan keluar” untuk mengetahui dan memahami seluk-beluk keberadaan dan kehidupan manusia. Unsur leksikon, idiom, kalimat, dan wacana bahasa dapat mengungkapkan dan menggambarkan kehidupan manusia atau sekelompok manusia. Demikian juga tataran morfosintaksis, semantik, dan pragmatik; misalnya, struktur morfosintaksis atau struktur gramatikal, struktur semantik atau struktur leksikal, dan struktur pragmatik suatu bahasa dapat mengung-kapkan dan menggambarkan profil kehidupan manusia tertentu (simak Chaika, 1982; Dawud dan Sudha, 1993; Kartomihardjo, 1987; Langenberg, 1996; Nababan, 1984). Hal ini sudah dicoba diterapkan oleh berbagai pengkaji. Misalnya, Peter Farb (1990) mencoba mengetahui pandangan orang (berbahasa) Hopi dan Inggris tentang air dan meraih melalui leksikon-leksikon bahasa Hopi dan Inggris.

 

Tom Bruneau (1990) mencoba menelaah konsep waktu pada berbagai bangsa melalui leksikon-leksikon. Geertz (1969, 1983) menelaah tatakrama sosial orang Jawa melalui leksikon, struktur kalimat, dan tingkat tutur bahasa Jawa. James J. Fox (1986) menelaah pandangan dunia dan kehidupan religius orang Roti melalui leksikon-leksikon, gaya bahasa, dan ragam bahasa Roti. Selanjutnya, Asmah Haji Omar (1986) mencoba menelaah alam pemikiran Melayu — yang meliputi persepsi waktu, persepsi bilangan, persepsi perbuatan, persepsi jantan/laki-laki dan beti-na/perempuan, dan sebagainya — melalui unsur leksikon, idiom, struktur morfosintaksis, dan semantik leksikal bahasa Melayu dialek Kedah. Kajian-kajian tersebut menegaskan bahwa bahasa terutama aspek-aspek kebahasaannya dapat menjadi kunci utama untuk mengetahui dan memahami keberadaan dan kehidupan manusia. Referensi : kuliahbahasainggris.com

5 Tips untuk Mahasiswa Baru Sebelum Memasuki Dunia Perkuliahan

5 Tips untuk Mahasiswa Baru Sebelum Memasuki Dunia Perkuliahan

Peralihan dari masa SMA menuju dunia perkuliahan menambahkan kesan yang berbeda-beda bagi tiap tiap orang yang melewatinya. Dunia perkuliahan populer bersama dengan kemandiriannya yang tentu saja terlampau berlainan bersama dengan masa-masa SMA. Berikut tips menghadapi dunia perkuliahan untuk anda yang baru saja berstatus mahasiswa baru.

5 Tips untuk Mahasiswa Baru Sebelum Memasuki Dunia Perkuliahan

1. Catat tanggal penting jadwal perkenalan kampus
Mayoritas universitas di Indonesia mengadakan masa perkenalan universitas pada tiap tiap periode penerimaan mahasiswa baru. Untuk anda yang baru saja menyandang satus mahasiswa baru, jangan lupa mencatat tanggal penting jadwal perkenalan kampus. Karena masa perkenalan akan banyak menambahkan informasi seputar kampus, beradaptasi bersama dengan lingkungan kampus, kegiatan perkuliahan, tata teratur dan aturan kampus.

2. Aktif melacak informasi
Jika masa SMA tersedia guru yang selalu mengingatkan, maka dunia perkuliahan menuntut kemandirian. Kamu dituntut untuk aktif melacak informasi sendiri. Kamu mampu melacak informasi perkuliahan melalui web kampus, majalah dinding, dan aktif bertanya pada senior.

3. Belajar mengenal orang asing di kehidupan perkuliahan
Salah satu kunci kemudahan di awal perkuliahan adalah bersama dengan terhubung diri pada siapa saja. Mengenali senior dan teman-teman satu angkatan akan mendukung anda untuk menyerap lebih banyak informasi dan pengalaman. Dekat bersama dengan senior termasuk akan menambahkan deskripsi perkuliahan yang akan anda jalani.

4. Persiapkan mental dan fisikmu
Tidak sedikit mahasiswa baru yang jadi kuatir dan kuatir dikala masuk ke dunia perkuliahan. Rasa kuatir yang dibiarkan tanpa dkenali akan menyebabkan stress yang berlebihan. Oleh karena itu, persiapkan mental bersama dengan memastikan diri bahwa anda mampu memulai perkuliahan bersama dengan baik. Tidak lupa merawat kebugaran fisik bersama dengan mengkonsumsi asupan bergizi dan tidur yang cukup.

5. Kembangkanlah soft skill-mu
Pada dunia perkuliahan, anda akan dihadapkan beraneka jenis organisasi yang mampu anda ikuti, seperti Himpunan Mahasiswa, Komunitas Pecinta Alam, Badan Eksekutif Mahasiswa, dan tetap banyak lagi organisasi yang mampu anda ikuti. Mengikuti organisasi akan terlampau bermanfaat untuk mengembangkan soft skill. Kamu akan belajar mempersiapkan sebuat event, menjadi panitia dan terlibat di didalam beraneka kegiatan.

Kampus bukan hanya cuman tempat menimba pengetahuan akademis dan mengejar gelar, tetapi termasuk tempat untuk mengembangkan kepribadian dan bersosialisasi. Setiap pengalaman yang anda punyai di universitas akan mendukung anda untuk masuk ke dunia pekerjaan. Karena itu, nikmatilah sebanyak mungkin kehidupan kuliahmu!

5 Hal yang Harus Diperhatikan Ketika Belajar

5 Hal yang Harus Diperhatikan Ketika Belajar

Kita kerap bingung bagaimana langkah supaya kita fokus didalam belajar gara-gara beberapa berasal dari kita kerap lupa belajar gara-gara pemakaian gadget banyak mengambil selagi kita. Berikut lima hal yang kudu dikerjakan untuk lebih fokus didalam belajar.

5 Hal yang Harus Diperhatikan Ketika Belajar

1. Matikan tempat elektronik yang mengakibatkan kita tidak konsentrasi
Pada selagi kita fokus belajar tersedia baiknya kita menjauhi handphone, televisi, mp3, atau tempat elektronik lainnya yang mengakibatkan kita gagal fokus didalam belajar. Handphone mengakibatkan kita tidak konsentrasi ketika kita chat bersama dengan teman, televisi akan mengakibatkan mata kita tertuju di layar televisi supaya kita tidak maksimal selagi belajar. Belajar sambil mendengarkan musik akan mengakibatkan pendengaran kita menyusut dan tidak sinkron selagi kita membaca buku.

2. Menciptakan area belajar yang nyaman
Ruangan yang nyaman akan mengakibatkan kita relax selagi belajar, supaya membentuk pola pikir yang cemerlang. Dengan sendirinya akan mampu menyerap materi-materi yang sedang kita pelajari tentunya kita kudu rehat sejenak ya untuk mata kita.

3. Sisakan selagi 10-15 menit untuk beristirahat selagi belajar
Saat kita belajar kita kerap lupa untuk beristirahat. Seharusnya kita berikan selagi untuk beristirahat supaya otak kita mampu relax beberapa menit, seperti bermain bersama dengan hewan peliharaan supaya otak kita mampu cepat relax.

4. Setelah belajar usahakan tidur 6-8 jam di malam hari
Setelah kita selesai belajar kita sebaiknya jangan bermain tempat sosial, namun kita setelah belajar usahakan tidur. Agar apa yang sudah kita pelajari gampang tersimpan didalam memori otak.

5. Kamu mampu coba belajar setelah shalat subuh
Kamu termasuk mampu belajar selagi setelah laksanakan shalat subuh gara-gara belajar di pagi hari setelah shalat subuh otak kita lebih mampu menyimpan ilmu yang lebih lama. Dan kamu termasuk mampu mengulang ulang pelajaran yang sudah dipelajari di malam hari supaya kamu mampu lebih memahaminya. https://www.ruangguru.co.id/

Nah, itulah lima hal yang kudu kita mencermati supaya kita mampu fokus selagi belajar. Semangat!!!

Fakta Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

Di negeri tercinta ini ada yang namanya pendidikan berjenjang. Mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA dan juga perguruan tinggi. Masing – masing punya fungsi untuk membentuk karakter dan ilmu pengetahuan yang hakiki bagi peserta didik. Hanya saja tentang PAUD atau pendidikan anak usia dini tak banyak orang yang menganggap penting.

Fakta Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini
Fakta Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

Banyak masyarakat yang menganggap bahwa pendidikan anak usia ini ini hanyalah suatu pelengkap karena mendidik anak seusia itu bisa juga diterapkan di rumah. Benarkah? Memang keluarga punya kontribusi penting pada pendidikan anak usia dini sebagai pendidikan primer mereka hanya saja pendidikan anak usia dini melalui PAUD juga sama pentingnya karena pola pengembangan pikiran dan otak akan diasah dengan maksimal di PAUD. Berikut mari kita sama – sama cari tahu fakta pentingnya pendidikan anak usia dini lewat informasi yang kami berikan di bawah ini! Yuk cek informasinya.

Fakta Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini    

Mengembangkan keterampilan dan kecerdasan

Pendidikan anak usia dini memang sangat penting dalam mengembangkan keterampilan dan juga kecerdasan dalam mengatur, mengontrol dan juga mengendalikan gerakan motorik halus dan kasarnya agar dapat membantu dalam menyerap dan juga memahami serta peka dengan rangsangan sensorik secara mandiri.

Melatih anak berpikir logis dan kritis

Memberikan stimulasi latihan agar anak bisa berkembang dan berpikir secara logis dan berpikir kritis memang sangat penting dilakukan sejak dini sejak di pendidikan usia dini. Tentu saja hal ini sangat penting juga bagi perkembangan dan pertumbuhan otak anak ke depannya dalam jangka waktu yang panjang. Pendidikan anak usia dini juga menjadi suatu gerbang utama sebelum anak usia dini melangkah pada jenjang pendidikan dasar berikutnya dan juga berlanjut pada jenjang pendidikan yang jauh lebih tinggi.

Meningkatkan semangat belajar

Pada pendidikan anak usia dini memang dapat memberikan pembinaan, pengajaran, dan juga penerapan moral serta dapat membantu dalam upaya memperbaiki kecerdasan seseorang dan meningkatkan semangat belajar. Dengan begini anak akan tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih mandiri, kreatif dan cerdas sekaligus punya bakat dan minat yang kelak akan semakin terdepan.

Mengeksplor rasa ingin tahu anak

Anak di masa usia dini memang sedang punya rasa ingin tahu yang tinggi. Karena itu anak usia dini memang sangat penting untuk semakin didukung dalam mengeksplor rasa ingin tahu tersebut. Dan semua itu juga dapat dilakukan sejak nantinya anak – anak berada pada fase – fase di masa sekolah dan mengenyam pendidikan lewat sekolah usia dini.

Itulah beberapa fakta tentang pentingnya pendidikan anak usia dini. Karena itu jangan pernah meremehkan pendidikan usia dini untuk anak – anak kita. Dukung selalu. Semoga informasi diatas tentang Fakta Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini bermanfaat.     sumber : sekolahbahasainggris.com