Anak Gembira, Keluarga dan Bangsa Bahagia

Anak Gembira, Keluarga dan Bangsa Bahagia

Anak Gembira, Keluarga dan Bangsa Bahagia

Anak Gembira, Keluarga dan Bangsa Bahagia
Anak Gembira, Keluarga dan Bangsa Bahagia

Anak-anak merupakan asset keluarga dan bangsa yang tidak ternilai harganya. Oleh karenanya, keberadaan mereka sudah semestinya dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, sesempurna mungkin yang bisa dilakukan oleh orangtuanya juga negara.

Persiapan yang mesti dilakukan oleh orangtua, terutama ayah dan ibunya, tidak dimulai sejak mereka hidup bersama dalam bingkai rumah tangga, melainkan jauh hari sebelumnya. Sejak mereka didik dirinya sendiri.

Bagaimana mungkin mendapatkan anak-anak yang cerdas dan shaleh bila kedua orangtuanya tidak pernah mendidik dirinya sendiri sebelumnya. Jika pun bisa, maka probabilitas nya terlalu minim. Dalam kata lain, sesungguhnya seorang anak terlahir dan besar bergantung pada pendidikan dan kondisi lingkungan yang diterapkan dalam keluarga, dan orangtuanya bertanggungjawab atasnya.

Demikian keterangan yang disampaikan Ahmad Arif Imamulhaq, salah

seorang pengurus Dewan Pendidikan Purwakarta menyikapi peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh setiap tanggal 23 Juli.

Kang Arif yang juga pernah berkecimpung dalam dunia pendidikan anak ini menambahkan bahwa Negara, dalam hal ini pemerintah juga memiliki peranan utama dan penting dalam mempersiapkan generasi bangsa. Sistem pendidikan yang komprehensif, pembinaan anak-anak remaja dan pemuda, perlindungan anak maupun penataan infrastruktur yang ramah mestilah terintegrasi dengan baik sejalan dengan pembangunan mental spiritual masyarakat dan bangsa. Artinya pembangunan sarana prasarana yang dilakukan oleh pemerintah mesti paralel dengan upaya pembentukan perilaku masyarakatnya.

“Kita masih melihat sebagian orangtua masih abai terhadap anak anaknya.

Bila mereka berjalan, anak anaknya ada di samping jalan tidak terlindungi atau pada saat dibonceng kendaraan roda dua, anak anak duduk di depan sebagai tameng,” imbuh kang Arif.

“Saya masih menyaksikan beberapa toko mainan memiliki pelayan yang tidak ramah terhadap anak-anak. Mereka hanya berpikir menjual mainan sebanyak banyaknya tanpa memikirkan kondisi psikologis anak. Mereka lebih banyak memanfaatkan rengekan anak anak pada orangtuanya untuk mendapatkan mainan. Saya kira negara mesti hadir disini, memberikan pendampingan pada pemilik atau pelayan toko dan lebih jauhnya, menata lebih baik sarana prasarana yang mendukung penciptaan kota yang ramah anak,” timpal mantan aktivis HMI ini.

“Ke depan, mari kita wujudkan kota Purwakarta yang ramah terhadap anak

anak, remaja, orangtua maupun saudara-saudara kita yang disabilitas. Mari berbuat yang sederhana dulu, misalnya bila ada orang yang menyeberang, dahulukanlah. Jangan karena kita pakai kendaraan, mereka yang menyeberang harus mengalah. Yang menyeberang adalah manusia, hargailah manusia bukan kendaraan kita. Semewah apapun kendaraan kita, tetaplah tak lebih berharga dari manusia. Selamat hari anak Indonesia, semoga gembira dan bahagia selamanya,” pungkas Kang Arif yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Gadjah Mada tersebut.

 

Sumber :

Mengetahui Definisi Bakteri Secara Lengkap