Wawasan Kebudayaan Sultan Agung

Wawasan Kebudayaan Sultan Agung

Sultan Agung ternyata bukan saja pelaku sejarah yang punya bakat di dalam bidang ekonomi. Ia juga seorang raja yang punya bakat di dalam arena kebudayaan. Sultan Agung apalagi mempunyai wawasan khusus mengenai kebudayaan, dan mungkin wawasan kebudayaan Sultan Agung mewakili wawasan orang Jawa.

Bagaimana wawasan orang Jawa? Para ahli kebudayaan Jawa kerap menjelaskan bahwa orang Jawa terbuka kepada efek budaya dari luar. Dalam taraf awal perkembangan, kebudayaan Jawa asli terima efek kebudayaan dari India. Ini mulai lebih kurang tahun 400 Masehi dan berkembang terus hingga dengan 1500. Dalam era ini berjalan sistem akulturasi kebudayaanl. Dengan akulturasi terhadap era ini kebudayaan Jawa disempurnakan oleh masuknya unsur-unsur budaya India. Penyempurnaan itu berproses begitu terpadu agar unsur-unsur budaya dari luar dirasa oleh pendukungnya orang Jawa, sebagai diri sendiri sepenuhnya.
Dengan masuknya budaya India, maka orang Jawa mengenal beragam perihal baru;
Tulisan Pallawa yang lantas berkembang manjadi postingan Jawa.
Sastra yang bermacam-macam seperti Ramayana dan Mahabarata.
Seni pahat, seni ukir dan seni bangunan.
Seni pemerintahan antara lain di dalam wujud sistem kerajaan.
Agama Hindu dan Budda.

Pengaruh budaya India ternyata diterima oleh orang Jawa tidak dengan begitu saja. Melainkan dengan seleksi, yang tentu dengan terima budaya dari India selanjutnya membawa dampak kebudayaan Jawa mengalami peningkatan.

Dalam abad XV penyiaran agama Islam di Jawa muncul memberikan hasil. Penyiaran agama Islam disertai dengan masuknya budaya baru, budaya Islam. Bagaimana sikap orang Jawa terhadap efek budaya Islam? Mereka tidak menolak. Mereka terhubung diri untuk masuknya budaya Islam: postingan Arab, sastra Islam, seni ukir, dan seni bangunan Islam, tata sosial Islam.

Dengan terima budaya Islam, apakah orang Jawa melenyapkan budaya yang telah dimiliknya dan menjadi kaya oleh efek India? Ternyata tidak! Kebudayaan Islam diterima, bakal tetapi kebudayaan Jawa lebih tua dipelihara. Oleh sebab itu mampu dengan mudah dimengerti kalau antara kebudayaan Jawa telah terkena efek India lantas diperkaya oleh masuknya efek kebudayaan Islam. Bahkan ketika orang Barat mampir mempunyai kebudayaan Barat dan Kristen orang Jawa selalu terbuka. Kebudayaan Barat dan Kristen memperkaya kebudayaan Jawa di dalam periode terakhir.

Kembali ke era Sultan Agung, wawasan kebudayaannya nyata mencerminkan wawasan atau pandangan Jawa, yang selalu rela terima masuknya unsur budaya luar untuk memperkaya budaya yang telah dimilikinya, contohnya sebagai berikut.

Legitimasi dengan membawa dampak silsilah. Raja-raja Mataram mengaku keturunan dari Brawijaya, raja Majapahit. Kalau ini ditelusuri terus bakal menunjukan bahwa raja-raja Mataram adalah keturunan tokoh-tokoh pewayangan. Lembaga silsilah telah ada zaman Belitung, abad X, dan muncul juga terhadap zaman Airlangga. Ken Angrok dan Wijaya. Hal yang menarik juga adalah dimasukkannya Nabi Muhammad sebagai tidak benar satu mata rantai silsilah itu.

Tulisan tidak diganti dengan postingan Arab. Penulisan sastra Jawa, babad khusunya, ditunaikan dengan postingan Jawa dengan huruf dan bahasa Jawa termuat kadang-kadang bagian-bagian khusus dari ajaran Islam, seperti syahadat. Sering muncul penjawaan makna Islam, contohnya sarak/sarengat (syaraat atau syariah), pekik (faqih), kadis (hadits), Usman (Uthman), Kasan (Hasan), Kusen (Husain).

Makam Islam biasanya terkandung dibelakang masjid, tetapi Sultan Agung memerintahkan pendirian makam keluarga raja di atas bukit: Imogiri. Ini adalah rutinitas pra-Islam. Perkembangan seni Islam menghasilkan lukisan makhluk hidup di dalam postingan Arab (ayat Quran). Sultan Agung juga menyelenggarakan perayaan sekaten di dalam bulan Mulud untuk memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad.
Sultan Agung berjasa di dalam mengembangkan kalender Jawa dengan memperpadukan tarih Hijriyah dengan tarih Saka. Ia memperkenalkan tarih Jawa ini terhadap tahun 1633.

Dari uraian di atas menjadi nyata bahwa kemajuan kebudayaan Jawa menjadi perhatiannya. Bahkan bukan cuma diperhatikan, ia pun ikut kontribusi kepada kebudayaan Jawa dengan beragam tindakannya itu.

Ia telah memberikan semisal keterbukaan terhadap efek budaya dari luar tanpa mengubur kebudayaan sendiri. Sebaliknya dengan wawasan dan politik kebudayaan, kebudayaan Jawa mampu berkembang.

Upaya dan sumbangan Sultan Agung di dalam perkembangan kebudayaan tidak cuma hingga disitu saja. Ia pun berperan perlu di dalam pengembangan sastra dan bahasa Jawa.

Sumber : https://www.kumpulansurat.co.id/

Baca Juga :