Konflik Mataram dengan VOC 1628-1629

Konflik Mataram dengan VOC 1628-1629

Ketegangan-ketegangan panjang Mataram dan VOC tidaklah surut dengan perjanjian damai ditahun 1621, juga ketika berturut-turut De Haen berkunjung ke Mataram di tahun 1622 dan 1623, serta Jan Vos ditahun1624. Van Jos mengalami kegagalan diplomatik dengan menolak memberi perlindungan pada Sultan Agung untuk menundukan Surabaya, Banten, dan Banjarmasin. Pada tahun 1625 Belanda tidak kembali mengirimkan dutanya, dan tahun 1626 duta yang dikirimkan ke Mataram ditolak karena alasan keliru menyebut gelar Sultan Agung (H. J. De Graaf, 1986:149). Kemudian sehabis perihal itu terlewatkan VOC berasumsi tidak kembali mengirim dutanya ke Mataram, karena merasa tindakkan tersebut sia-sia. Dapat dipahami bahwa usaha yang dilaksanakan Belanda berulang kali tidak membuahkan hasil.

Setelah Surabaya sanggup ditaklukan di tahun 1625 oleh Mataram, maka sesegera kemungkinan Sultan Agung bersiap-siap untuk menghadapi VOC. Pasukan Mataram diberangkatkan menuju Batavia, kontingen-kontingen pertama mengangkut logistik tiba dipelabuhan Batavia pada bulan April dan Agustus 1628. Memasuki Bulan September pasukan Mataram di bawah pimpinan Tumenggung Baureksa merasa lakukan serangannya pada benteng pertahanan VOC. Serangan balik juga di lancarkan VOC yang dipimpin Jacques Lafabre pada bulan Oktober dan berhasil memporak-porandakan barisan depan dan ketika itu pula juga menewaskan Tumenggung Baureksa. Pasukan pendukung yang tiba sesudah itu di bawah pimpinan Tumenggung Sura Agul Agul dan dua bersaudara Kyai Mandurareja dan Upa Santa memadai sanggup merepotkan pertahanan VOC. Namun perlindungan tambahan pasukan Mataram tersebut belum sanggup merebut Batavia. Karena persediaan logistik yang tidak mencukupi. Selanjutnya pasukan Mataram memastikan untuk mundur di bulan Desember dan Sultan Agung menghukum mati panglima-panglima yang gagal dan juga pasukan-pasukannya (Hussein Jayadiningrat, 1983: 119).

Sikap sesudah itu Sultan Agung tidak segera menyerah dan putus asa. Beliau sesudah itu segera menyiapkan pasukan untuk menaklukan Batavia lagi. Serangan yang kedua, pasukan Mataram merasa bergerak pada akhir Mei 1629. Pangeran Cirebon dan Tumenggung Tegal diperintahkan untuk menyiapkan logistik pasukan. Namun persiapan-persiapan yang dilaksanakan nampaknya diketahui pihak VOC pada Juni 1629. Kemudian VOC memusnakan persediaan logistik agar kemampuan tempur Mataram melemah. Hal tersebut membuat pasukan Mataram mudah ditaklukan pada serangan ke-2 dengan singkat oleh VOC pada tanggal 21 Agustus- 2 Oktober). Dalam kondisi VOC tidak menderita kerugian yang berarti, namun efek besar pada pasukan Mataram yaitu banyak mengalami penderitaan yang disebabkan penyakit dan kelaparan. Ambisi Sultan Agung tidak diimbangi dengan kemampuan militer dan logistik agar sudah membawa dirinya kedalam kehancuran di depan Batavia (Ricklefs, 2005: 70).

Baca Juga :