Kartika Nuswantara, Dosen ITS yang Jadi Diplomat Bahasa di India (2)

Kartika Nuswantara, Dosen ITS yang Jadi Diplomat Bahasa di India (2)

Kartika Nuswantara, Dosen ITS yang Jadi Diplomat Bahasa di India (2)

Kartika Nuswantara, Dosen ITS yang Jadi Diplomat Bahasa di India (2)
Kartika Nuswantara, Dosen ITS yang Jadi Diplomat Bahasa di India (2)

Lewat program SAME (Scheme for Academic Mobility and Exchange) BIPA (Bahasa Indonesia Penutur Asing), Kartika Nuswantara, dosen Insitut Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) berkesempatan mengajar sekitar 100 siswa di Kalinga Institute of Social Sciences, Bhubaneswar, Odhisa. Berikut kisahnya yang dipaparkan dengan gaya bertutur.

Program BIPA di Odisha ini menjadi sangat istimewa karena siswa-siswa di sekolah ini memiliki kesempatan untuk menguasai beberapa bahasa. Pada awal memulai pembelajaran di sekolah ini, mereka hanya mampu berbahasa Ibu dan memiliki pengetahuan yang sangat terbatas.
Kartika Nuswantara
HASILNYA: Siswa Kartika menunjukkan hasil belajar mereka. (Kartika Nuswantara for JawaPos.com)

Sehingga pada tahun pertama hingga tahun kedua, siswa masih harus belajar bahasa regional yaitu bahasa Odia, bahasa regional Odisha.

Pada tahun berikutnya, mereka mulai diperkenalkan dengan bahasa India sebagai bahasa nasional dan bahasa pengantar pembelajaran didalam kelas yaitu ketika pada kelas tiga dan empat. Pada saat bersamaan, kosakata bahasa Inggris mulai diperkenalkan.

Sedangkan pada saat kelas lima, siswa yang telah siap untuk menerima bahasa baru diperbolehkan untuk belajar bahasa Indonesia. Kondisi yang menarik yaitu keterbatasan kosa kata bahasa Inggris yang mereka digunakan sebagai bahasa perantara.

Saya memulai mengajarkan bahasa Indonesia dengan jumlah siswa sebanyak 50 orang. Kelas besar menjadi kendala tersendiri pada awal mengajar.

Akan tetapi semangat dan rasa ingin tahu yang besar dari anak-anak menjadi penyemangat bagi saya untuk memulai memperkenalkan dan mengajarkan Bahasa Indonesia kepada mereka.

Sebagai pengajar dan pegiat BIPA yang aktif di organisasi, APPBIPA Jawa Timur, kesempatan ini tidak akan saya sia-siakan karena pengalaman ini dapat dimanfaatkan sebagai pengembangan sumber pustaka untuk mengembangkan metode pembelajaran BIPA bagi anak-anak yang selama ini masih belum banyak yang memulai menggarap.

Saya memanfaatkan keterampilan mereka yang pandai menggambar dan ahli dalam membuat kerajinan tangan (prakarya). Pelibatan partisipasi mereka untuk menciptakan media dalam mengembangkan pembelajaran di kelas, dengan mengajak mereka menggambar kemudian mengenalkan dan membantunya menuliskan nama obyek gambar tersebut dalam bahasa Indonesia.

Mereka mengenal nama buah, warna, nama binatang, jenis transportasi, serta mengenal nama alam dari obyek yang digambarnya.

Selain itu, dari topeng hasil karya mereka, saya mengenalkan kata sifat

yang tergambar melalui karakter topeng yang mereka buat.

Pembelajaran menjadi sangat menyenangkan dan mudah dipahami karena dilakukan sesuai dengan minat anak-anak, sehingga mereka senang serta antusias untuk belajar bahasa Indonesia.

Kebanyakan anak-anak India sangat menyukai lagu dan tari, sehingga dua hal ini yang saya cermati sebagai aset untuk memulai mengajarkan kata dalam kalimat.

Lagu-lagu anak yang tidak lagi populer di kalangan anak Indonesia,

sekarang menjadi media yang menyenangkan bagi mereka. Anak-anak telah pandai menyanyikan lagu Bangun Tidur, Lihat Kebunku, Pelangi-pelangi, Naik Delman, dan masih banyak lagu-lagu lain yang saya manfaatkan

Aktifitas lain selain menyanyi, yaitu permainan seperti sapu tangan dikipaskan menjadikan pembelajaran bahasa Indonesia semakin menarik dan interaktif tidak hanya terpaku pada aktifitas di dalam kelas.

Kesempatan lain yang tak kalah membanggakan yaitu ketika saya

berkesempatan memberikan kuliah umum pada mahasiswa di tingkat Sarjana dan Pasca Sarjana.

Saya mempresentasikan hal-hal yang berkaitan dengan bahasa dan budaya bangsa Indonesia, serta menceritakan secara historis keterdekatan negara Indonesia dan India. (*)

 

Baca Juga :