Sastra Religi di Tangan Hanum & Feby: Out of The Box vs Antimainstream

Sastra Religi di Tangan Hanum & Feby Out of The Box vs Antimainstream

Sastra Religi di Tangan Hanum & Feby: Out of The Box vs Antimainstream

Sastra Religi di Tangan Hanum & Feby Out of The Box vs Antimainstream
Sastra Religi di Tangan Hanum & Feby Out of The Box vs Antimainstream

Aktivis asal India Kailash Satyarthi pernah menulis bahwa tidak ada ruas dalam masyarakat yang bisa menyaingi kekuatan, antusiasme, dan keteguhan hati para pemuda. Satyarthi benar. Karena itulah semangat Sumpah Pemuda seharusnya terus mengilhami Indonesia.

Pads edisi khusus Sumpah Pemuda 2018 hari ini, Jawa Pos mengangkat beberapa cerita tentang para pemuda yang berada dalam gelanggang yang sama, tetapi kebetulan memiliki pandangan, sisi, dan keberpihakan yang berbeda. Walau begitu, mereka sepakat bahwa bangsa InI adalah yang utama. Para pemuda ini mungkin bisa menjadi inspirasi. Bahwa kita bisa saja berbeda, tetapi tetap satu jua. Indonesia! Artikel kedua, dari Hanum Rais dan Feby Indriani.
Sastra Religi di Tangan Hanum & Feby: Out of The Box vs Antimainstream
Tahun depan, Hanum Rais akan menerbitkan lagi novel bertema religi dan traveling. Soal penaklukkan andalusia (GUSLAN GUMILANG/JAWA POS)

Hanum Rais dan Feby Indirani sama-sama menulis dengan menggunakan pendekatan agama. Namun, dengan gaya yang sangat berbeda. Nyaris bertolak belakang. Bagaimana mereka mengapresiasi satu sama lain?

HANUM Salsabila Rais ingat betul proses kreatif yang dilalui ketika menulis novel pertamanya, 99 Cahaya di Langit Eropa, lebih dari tujuh tahun silam. Sempat terjadi diskusi panjang dengan sang suami, Rangga Almahendra. Soal tema tulisan.

’’Ketika itu sedang booming tulisan tentang traveling. Juga, novel roman religi. Tapi, kami ingin yang berbeda,’’ kenang Hanum ketika ditemui di Kaktus Coffee, Jogjakarta, Senin (22/10). Hanum dan Rangga lalu memutuskan membuat novel yang menurut mereka berbeda dengan yang sudah ada. Out of the box. ’’Kami memilih tema traveling. Tapi, yang berkaitan dengan peradaban Islam,’’ jelas dia.

Novel tersebut kemudian menjadi best seller. Bagi Hanum, menulis novel itu mudah. Risetnya yang rumit. Dan, memang di situlah tantangannya. Setelah 99 Cahaya di Langit Eropa, lalu beruntun dia menerbitkan buku-buku lain. Di antaranya, Berjalan di Atas Cahaya (2013), Bulan Terbelah di Langit Amerika (2015), hingga Faith and the City (2016). 
 Menurut Hanum, selama ini belum banyak penulis muda Indonesia yang berani berbeda atau keluar dari tren. ’’Misalnya, lagi tren komedi, semuanya menulis komedi,’’ ungkap anak kedua mantan Ketua MPR Amien Rais itu.

Nah, salah seorang yang berani menulis di luar tren itu adalah Feby

Indirani. Meski sama-sama berlatar religi, Feby menulis dengan gaya yang jenaka. Nakal. Satire. Dia menawarkan perspektif yang berbeda tentang bagaimana relasi antaragama dan antarmanusia dibangun. Judul-judulnya menggelitik. Misalnya, cerpen Baby Ingin Masuk Islam. Atau, kumpulan cerita bertajuk Bukan Perawan Maria.

Hanum, meski tidak mengenal Feby secara personal, memuji keberanian penulis kelahiran Jakarta itu bergerak di jalur anti-mainstream. Menurut dia, buku-buku seperti itu high risk high return. ’’Yang seperti itu bisa membuat orang tidak suka sekali atau malah senang sekali,’’ kata Hanum. Hal tersebut diakui juga oleh Feby.

Dia mendapat banyak cercaan, terutama di media sosial, ketika kumpulan

cerpennya itu dirilis tahun lalu. Namun, perempuan yang kini menempuh program master di Digital Media, Cultural, and Education University College London (UCL) tersebut bergeming. ’’Saya masih meyakini sastra adalah medium yang efektif untuk menumbuhkan empati. Sastra bisa mengungkapkan kebenaran yang mungkin sulit diterima sebagai fakta,’’ tulis Feby dalam surelnya kepada Jawa Pos.

Sayangnya, karya bertema Islam sejauh ini di Indonesia, menurut Feby,

masih ’’seragam’’. Kebanyakan hanya menunjukkan satu sudut pandang Islam dengan mempromosikan pemikiran, gaya hidup, dan cara bertutur yang homogen. Karena itu, karya Hanum, menurut dia, cukup menyegarkan. Feby bilang, buku-buku Hanum membuka wawasan soal warisan budaya Islam yang sangat penting buat peradaban dunia. ’’Karya Hanum melihat bagaimana seorang muslim wajib meluaskan wawasan dan menuntut ilmu setinggi-tingginya. Meski berada di negara yang bukan mayoritas muslim,’’ tutur penulis yang sudah menghasilkan 17 karya fiksi dan nonfiksi tersebut.

 

Baca Juga :